
Abi duduk gelisah menunggu kedatangan Isma dan Prince. Sedangkan Umi sibuk di dapur menyiapkan beberapa menu makanan untuk menyambut kedatangan anak dan menantunya.
Rasanya benar-benar luar biasa. Fitri dan Arya juga sedang dalam perjalanan menuju Bandung.
"Ya Allah, terimakasih. Engkau lembutkan hati suami hamba, sehingga masih kau berikan kesempatan pada kami untuk berkumpul bersama lagi." Ucap Umi sambil menata makanan di atas meja.
Tiitt... tiitt…
Suara klakson mobil saat memasuki perkarangan rumah Abi dan Umi. Mobil itu adalah mobil Prince dan Isma.
Abi berdiri menatap mobil yang baru saja parkir di depan rumah. Umi berlari keluar meninggalkan makanan di meja makan begitu saja.
Isma dan Prince keluar dari mobil itu berbarengan. Mata Abi dan Umi berkaca-kaca menyambut kedatangan anak dan menantunya itu.
"Umi, Abi…" Berlari menghambur dalam dekapan Umi.
Dan Prince, dia melangkah mendekati Abi. Tidak disangka Prince berlutut di hadapan Abi. Dia memohon maaf pada Abi. Dengan sigap Abi menarik tubuh Prince agar kembali berdiri. Lalu Abi memeluknya erat.
"Maafkan Prince, Abi. Prince menjadi pria pengecut yang tidak berani datang menemui Abi." Ucap Prince dalam pelukan Abi.
"Tidak, kamu justru pria sejati. Kamu membuktikan akan membahagiakan Isma. Dan lihatlah, Isma selalu bahagia bersama kamu. Justru Abi yang terlalu egois dan pengecut…"
Abi menangis dalam pelukan Prince. Dia menyesali segala kekerasan hatinya saat itu yang ingin memisahkan Isma dan Prince yang saling mencintai.
"Abi adalah Abi terbaik bagi Prince dan Isma. Tanpa Abi kami bukanlah apa-apa, Abi." Bujuk Prince.
Sementara itu, keharuan lain terlihat juga pada Umi dan Isma. Mereka saling berpelukan melepas rindu.
__ADS_1
"Anak Umi sehat?" Memegangi kedua belah pipi Isma.
Isma mengangguk senang, meski air mata mengalir dipipinya. Lalu, Isma menuntun tangan Umi untuk menyentuh perutnya.
"Umi, adek akan jadi seorang ibu! Umi akan jadi nenek lagi." Ucapnya bahagia.
Umi menangis, dia menunduk untuk mengelus perut Isma. Lalu, kembali memeluk tubuh Isma.
Prince dan Abi sudah menghentikan drama mereka. Kini Prince mendekati Umi.
"Umi, maafkan segala kesalahan Prince. Prince bahkan sekalipun tidak datang menemui Umi." Ucapnya sambil mencium tangan Umi.
Umi mengelus kepala Prince sambil menangis.
"Terimakasih karena menjaga Isma dengan baik. Kamu tidak perlu minta maaf, Umi yang seharusnya meminta maaf pada kalian."
Isma menemui Abi. Dia memeluk Abi sambil menangis. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya kecuali air mata. Abi tidak tahu harus berkata apa. Maaf rasanya tidak pntas diucapkannya setelah apa yang dilakukannya pda putrinya itu.
Abi seakan tidak punya muka lagi untuk bertemu putri kesayangannya itu. Abi merasa malu menjadi orangtua yang gagal. Bukan memberi contoh yang baik, malah ingin memisahkan putrinya dari suaminya.
Abi benar-benar malu dihadapan Isma. Sehingga hanya tangis yang bisa dilakukannya saat memeluk kembali tubuh putri tercintanya itu.
Begitu juga dengan Isma. Dia merasa telah gagal menjadi putri yang berbakti pada Abi. Sebagai seorang anak, Isma merasa buruk karena memberi kesakitan pada seorang lelaki yang telah merawat dan membesarkannya sejak kecil.
"Maafkan adek, Abi. Sungguh maafkan Adek." Ucap Isma pada akhirmya.
Abi melepas pelukannya. Ditatapnya wajah Isma yang penuh air mata. Lalu, Abi menghapus air mata itu denga jemarinya.
__ADS_1
"Adek sudah melakukan yang terbaik. Abi yang seharusnya meminta maaf."
"Abi… adek sayang Abi. Adek sungguh minta maaf, karena keegoisan adek, Abi jadi sakit." Ucapnya disela tangisan.
Abi tersenyum dan kembali menghapus air mata di pipi Isma.
"Mulai saat ini, kita tidak akan saling membenci lagi, kan? Abi minta maaf pada kalian berdua. Abi sungguh minta maaf." Ucap Abi dengan menggenggam tangan putri dan menantunya.
Kemudian, Abi merangkul anak dan menantunya itu dalam dekapannya. Lalu, Umi pun ikut serta memeluk mereka. Sehingga, kebahagiaan memenuhi hati mereka saat ini.
BERSAMBUNG
Hay hay Reader. . .
Semangat dan terus jaga kesehatan.
Jangan lupa
LIKE
KOMEN
VOTE
Tinggalkan jejak kalian. Karena jejak kalianlah yang menjadi semangat Author menulis.
Terimakasih semuanya. . .
__ADS_1