Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Welcome My Husband


__ADS_3

Ba'da isa.


Penghulu baru saja tiba, begitu juga dengan pegawai Masjid, Ketua Rt dan pak Lurah. Usai melaksanakan sholat isa berjamaah, mereka langsung menuju rumah orangtua Isma.


Isma menatap dirinya di cermin. Malam ini dia terlihat cantik dengan balutan gamis gold pemberian Prince saat Isma datang di hari pernikahan Prince dengan Keyra.


Bukan tidak ada baju lain. Hanya saja, Isma bahagia memakai gamis ini. Karena mengingatkannya saat dimana dia berhasil menyambut bucket bunga waktu itu.


"Isma, aku tinggal dulu ya. Aku ingin mendengar Bos mengucapkan Akad nikah." Ucap Rina.


Isma mengangguk sambil tersenyum. Dibiarkannya Rina pergi.


Dan kini tinggalah dia sendiri di kamarnya.


Hatinya tak karuan, berharap dalam cemas. Menanti dalam gelisah. . .


"Ya Allah lancarkanlah semuanya." Doanya.


Sementara itu, Di ruang tengah. Prince duduk berhadapan dengan pak Penghulu dan Abi. Bimo dan Arya duduk tepat dibelakangnya.


Fitri, umi dan Rina duduk tidak jauh dari Bimo dan Arya. Sedangkan para undangan yang terdiri dari kerabat dan tetangga dekat, juga sudah duduk memenuhi ruang tengah rumah itu.


"Bisa kita mulai, mas Prince?" Tanya Penghulu itu


"Bisa, Pak." Jawab Prince tegas.


"Baiklah, silahkan di mulai akadnya Pak." Ucap Penghulu meminta Abi untuk segera memulai akad nikah.


"Bismillahirrohmaa nirrohiimm. . ."


Abi mengulurkan tangan kearah Prince, dan Prince menjabat tangan abi. Akad pun di mulai.


Suasana hening, mereka mendengarkan lantunan lafaz akad yang diucapkan Prince dengan lancar.


"Bagaimana saksi? Sah?" Tanya pak Penghulu begitu Prince selesai mengucapkan lafaz akad nikah.


"Sah." Jawab ke empat saksi berbarengan.


"Alhamdulillah. . ." Ucap semua tamu undangan, di sambung dengan doa oleh pak penghulu.


'Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih, Engkau lancarkan pernikahan kami. Berkahilah pernikahan ini ya Allah.' Ucap Prince dalam hati.


Begitu usai acara, Prince sudah nenandatangani buku nikah. Isma juga sudah, Rina dan Fitri yang membawaka buku nikah itu pada Isma yang masih setia menunggu di kamarnya.

__ADS_1


"Sabar ya pengantin baru. . . Tunggulah suamimu, sebentar lagi juga datang. . ." Ledek Rina menggoda Isma yang merona menahan malu.


Matanya juga berkaca-kaca menahan deru air mata yang ingin tumpah.


Sementara itu, Prince masih duduk di tempat semula. Dia mendengarkan beberapa nasehat dari tetua. Prince mendengarkan dengan baik nasehat-nasehat itu, meski sebenarnya hatinya sudah bergejolak ingin segera menemui Isma.


Skiipp. . .


Pukul 23:00, rumah sudah sepi. Fitri dan Rina sudah tidur di kamar belakang bersama Arsyid. Sedangkan Bimo dan Arya baru saja merebahkan tubuh mereka di atas kasur yang baru di siapkan umi di depan TV.


Dan Prince, dia masih berbincang dengan Abi. Sekedar berbincang biasa hanya untuk mempererat hubungan dengan menantunya itu.


"Abi, suruhlah Prince ke kamar. Kasihan, dia pasti lelah. Sudah hampir tengah malam juga." Celoteh Umi menghampiri Abi dan Prince yang masih asik ngobrol di ruang tengah.


"Iya umi. Ini juga abi mau mengantar Prince menemui Isma." Ujar Abi.


"Pergilah, temui Isma. Mungkin sekarang dia sedang marah karena kamu tak kunjung menemuinya." Goda Abi.


Prince hanya tersenyum malu-malu.


Abi dan Umi sudah melangkah menuju kamar mereka. Setelah Prince memastikan mereka masuk ke kamar, barulah Prince melangkah menuju kamar Isma.


"Assalamu'aikum. . ." Ucap Prince sambil membuka pintu kamar yang sengaja tidak di kunci oleh Isma.


"Isma. . . Apa kamu tidak ingin mencium tangan suamimu ini?" Tanya Prince dengan melangkah perlahan mendekat kearah ranjang.


Isma menoleh, ditatapnya suaminya itu dengan senyuman. HP yang tadi di pegangnya segera di sembunyikan di bawah bantal. Isma pun beranjak dari kasurnya. Dihampirinya suaminya.


"Maaf, aku terlalu asik bermain game sambil menunggumu." Jawabnya dengan menundukkan kepala.


"Nih, tanganku. . ." Prince mengulurkan tangannya kearah Isma yang berdiri tak jauh di depannya.


Isma menyambut tangan suaminya itu, dan begitu tangan mereka saling bersentuhan, tanpa aba-aba Prince menarik tubuh Isma sehingga Isma kaget dan berteriak.


"Aahhwwhh. . ." Teriak Isma sangat keras, dia jatuh tepat dalam pelukan suaminya.


Jantungnya berdegup kencang. Matanya terpejam, kepalanya tepat bersandar pada dada suamianya, sehingga Isma pun dapat mendengar detak jantung suaminya yang juga bergetar kencang tak karuan.


Akibat teriakan lantang Isma, Abi dan Umi berlari keluar kamarnya. Begitu juga dengan Fitri dan Isma. Hannya Bimo dan Arya yang masih terlelap.


Mereka berlari menuju kamar Isma.


"Isma. . . kamu baik-baik saja, kan, nduk?" Teriak Umi dari luar.

__ADS_1


Isma membolakan matanya mendengar suara umi. Begitu juga dengan Prince. Dia tidak menyangka, teriakan istrinya membangunkan semua orang.


"Tidak apa, Umi. Isma terpeleset." Sahut Prince tanpa melepas pelukannya.


"Syukurlah. . ." Sahut Abi, Umi, Fitri dan Rina dari luar.


"Bos, pelan-pelan saja. . . Ini pertama kalinya bagi Isma. Jangan terlalu kasar, kasihan. . ." Timpal Rina.


Prince tersenyum malu-malu mendengar ucapan Rina. Begitu juga dengan Isma yang tak kalah malunya, sambil menyembunyikan wajahnya di dada Prince. Tangannya memukul-mukul pelan dada bidang itu.


"Tenang saja, Rin. Aku hanya baru mencoba sedikit." Sahut Prince lagi, sambil menambah erat pelukannya.


Jawaban Prince kali ini berhasil membuat Abi, umi, Fitri dan Rina gugup serta salah tingkah. Hingga akhirnya mereka pun kembali ke kamar masing-masing.


"Mau mencoba sekarang?" Goda Prince dengan meraba punggung Isma.


"Menyebalkan." Rutuk Isma.


Dia menginjak kuat kaki Prince, karena terkejut dan merasa sakit, sontak Prince melepaskan tubuh Isma.


"Malu, tau." Sungut Isma marah.


"Maaf, sayang. . ." Ucap Prince.


Isma merinding mendengar Prince memanggilnya dengan kata sayang.


"Kamu juga sih, belum ngapa-ngapain, udah teriak duluan." Ujarnya, lalu ikut duduk di sebelah Isma yang masih memalingkan wajahnya.


"Bagaimana kalau udah diapa-apain?" Goda Prince sambil perlahan menyelipkan tangannya melingkar di pinggang Isma.


"Awas aja kalau berani." Ancam Isma dengan menunjukkan kepalan tinjunya pada Prince.


Bukannya kesal, marah, atau takut, Prince malah tertawa gemas.


"I love you my wife." Bisiknya dengan suara pelan, tapi terdengar menggoda di telinga Isma.


"Tatap dong suamimu ini?" Prince menarik wajah Isma agar berhadapan langsung dengannya.


Isma tidak protes lagi kali ini. Dia pun memberanikan diri menatap wajah pria yang kini sudah halal untuknya. Perlahan tangan Isma menyusuri wajah itu, dimulai dari dahi, alis, mata, hidung, pipi dan bibir Prince.


Isma menyentuhnya perlahan, dengan lembut. Air matanya jatuh begitu saja. Sedangkan Prince, sengaja memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut jemari istrinya di seluruh wajahnya.


"Terimakasih telah datang, suamiku." Ucap isma dengan air mata yang masih terus menetes.

__ADS_1


Bersambung. . .


__ADS_2