
Pagi ini Prince kembali muntah. Karena buru-buru menuju kamar mandi, Prince terpeleset dan dia jatuh. Kepalanya terhempas menyentuh lantai.
Kepala yang memang pusing sejak tadi, membuatnya kehilangan kesadaran. Prince pingsan tanpa sepengetahuan Isma.
Kini Isma sedang sibuk menyiapkan sarapan. Dia memasakkan sup ceker ayam atas permintaan suaminya. Saat Isma selesai menyiapkan sarapan, dia pun merasa heran karena suaminya tak kunjung datang.
"Kenapa lama? Apa Mas muntah lagi?" Ucapnya sambil melangkah menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya.
Begitu tiba di kamar, Isma tak mendapati suaminya.
"Mas. . . Mas dimana?" Mencari ke kamar mandi.
"Ya Allah, Mas. . ." Teriak Isma.
Dia terkejut melihat tubuh suaminya tergeletak diatas lantai begitu dingin itu.
"Mas, mas bangun. . ." Berusaha mendudukkan tubuh berat itu.
Lalu Isma menyandarkan setengah badan suaminya dipangkuannya.
"Ya Allah, aku harus bagaimana?" Ucapnya khawatir.
Isma melirik kesekelilingnya. Tapi, tidak menemukan apa-apa. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Akhirnya dia menangis terisak sambil meluk erat tubuh suaminya.
"Mas. . . Maafkan adek. Mas bangun. . ." Tangisnya semakin pecah.
Lalu tiba-tiba Isma ingat dia harus menelpon seseorang untuk membantunya mengangkat tubuh suaminya. Tapi, Isma harus meletakkan kembali kepala suaminya ke lantai dingin itu untuk pergi mengambil iphone.
Tidak, Isma tidak ingin meninggalkan suaminya sendirian. Akhirnya dengan sekuat tenaga yang dia punya, Isma berusaha menarik tubuh berat suaminya keluar dari kamar mandi.
"Hhiaakkk. . . Yaakkkk. . ." Suara Isma menarik tubuh suaminya dengan cara berangsur-angsur sedikit demi sedikit.
"Mas bangun. . . Adek harus bagaimana?" Ucapnya disela tangisnya.
"Hhmmm. . . Hhm. . ." Isma kewalahan. Perutnya terasa keram. Sehingga dia memutuskan untuk berhenti.
Matanya menatap pintu kamar mandi, sebentar lagi Isma akan berhasil membawa suaminya keluar dari kamar mandi.
"Lebih baik tinggal di rumah sederhana. Kamar mandi kecil jauh lebih baik. . . Adek gak suka kamar mandi besar gini. . ." Rutuknya ditengah perasaan khawatir karena suaminya tak kunjung sadarkan diri.
"Aku harus menelpon sekarang. . ." Tekadnya.
Isma pun perlahan memindahkan setengah tubuh Prince yang ada dalam pangkuannya kembali ke lantai. Tapi, sebelum Isma berhasil, Prince menghela napas keras.
Dia bangun, dia sadar. Matanya perlahan terbuka, sedang tangannya menggenggam erat tangan Isma.
"Sa..yyang. . ."
__ADS_1
"Mas. . . Mas. . Hhikkss. . ." Isma langsung memeluk tubuh suaminya.
"Maafkan Mas, sayang jangan nangis." Ucapnya sambil membalas pelukan Isma.
Isma menangis semakin keras. Dia menumpahkan segala rasa ketakutannya. Mendengar tangisan Isma membuat Prince berusaha bergerak untuk bisa duduk.
Setelah berhasil duduk, dia pun langsung memberikan pelukan hangat pada kesayangannya itu.
"Mas kenapa bisa jatuh?"
"Mas mau muntah. . . Terus, Mas terpeleset. . ."
"Maafkan adek. . . Semuanya gara-gara adek. . ."
"Kenapa adek nyalahin diri sendiri. Bukan salah adek kok. Mas yang gak hati-hati, sayang." mengecup puncak kepala Isma.
"Harusnya adek yang mengalami muntah, harusnya adek yang merasakan semua gejala gak enak ini." Ucapnya sudah lebih tenang.
Prince terharu. Dia tersenyum lega, karena akhirnya masih diberi kesempatan untuk sadar dan dapat melihat betapa Isma mencintainya.
"Kita pindah dulu dari sini, ya. Mas kedinginan." Ajak Prince.
"Mas bisa berdiri?"
Prince mengangguk, lalu dia pun berjongkok dan langsung mengangkat tubuh Isma.
"Mas. . . Adek bisa jalan sendiri. . ." Protesnya.
Kemudian dia kembali dengan hanya memakai handuk. Isma menyiapkan pakain untuk Prince. Dengan senang hati Prince langsung memakainya. Setelah itu, Prince mendekati Isma.
"Sayang juga harus ganti pakaian. Semuanya basah. . ." Bisik Prince ditelinganya.
Lalu dengan nakalnya Prince menarik pinggang Isma sedikit keras hingga tubuh Isma terpental dalam dekapannya. Tidak ada jarak antara keduanya.
"Izinkan Mas menggantikan pakaian, sayang." ucapnya kembali berbisik.
Isma merona malu. Dia membenamkan wajahnya didada bidang suaminya.
Dan Prince mulai membuka resleting baju Isma yang berada di belakang. Memudahkan Prince menarik baju itu turun. Sedangkan Isma masih tetap tak bergerak.
"Sayang. . . Tangannya lurusin kebawah dulu, supaya bajunya turun." Perintah Prince.
Meski malu, Isma pun mengikuti perintah suaminya.
Ssrrett. . .
Baju Isma sudah jatuh seutuhnya kelantai. Isma semakin erat membenamkan wajahnya di dada Prince. Lalu, Prince mengangkat tubuh itu. Dibaringkannya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Mm. . .mass. . .ma..mau apa?" Tanya Isma khawatir saat tubuh Prince sudah berada di atasnya.
Prince tidak menjawab, dia hanya tersenyum. Lalu mengecup kening Isma, beralih ke mata, hidung dan berakhir di bibir.
Isma hanya menerima saja tanpa protes. Padahal, sebenarnya dia teringat perkataan dokter Maha Rani, kalau mereka harus berhenti dulu melakukan ini di awal-awal.
"Mmass. . . nanti dedeknya gimana?" Ucap Isma yang akhirnya berhasil membuat Prince menghentikan kegiatannya.
"Mas tau, dedeknya akan baik-baik saja. Percaya sama Mas."
"T..tapi, sudah waktunya Mas berangkat kerja."
Prince tersenyum. Dia melanjutkan keinginannya. Dia ingat peringatan yang dikatakan dokter waktu itu. Tapi, hanya saat bersama Isma seperti inilah yang bisa membebaskannya dari rasa mual dan pusing.
Ya, saat tadi kembali ke kamar mandi, Prince kembali merasa mual. Lalu, saat dia kembali dan mendekati Isma, rasa mual itu berkurang. Prince pun menarik tubuh Isma semakin dekat dan itu menghilangkan rasa pusing dan mual seutuhnya.
Jadi, Prince mengambil kesimpulan. Dengan melakukan ini di pagi hari, mungkin bisa menjadi obat untuk rasa mualnya.
"Sayang, Mas akan berhati-hati. . . Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja." Ucap Prince mencoba meyakinkan Isma yang terlihat sangat khawatir.
"Tapi dokter bilang. . ."
Ucapan Isma dihentikannya dengan sebuah kecupan. Lalu, Prince tidak ingin membiarkan lagi Isma bicara dan menolak keinginannya.
"Sepertinya ini obat agar Mas tidak muntah lagi." Bisik Prince.
Isma mengerutkan keningnya. Ditatapnya dalam wajah suaminya. Bagaiman mungkin ini menjadi obat. Isma merasa tergelitik lucu melihat wajah memohon penuh harapan itu.
Prince memang mengatakan akan melakukannya. Tapi, bahkan dia belum melakukan keinginannya dan masih menunggu persetujuan dari Isma.
"Apa akan seperti ini setiap pagi?" Tanya Isma sambil mengelus wajah suaminya yang tampak pucat itu.
"Iya, sayang. Mas akan memakan obat ini setiap pagi. Mas tidak akan berhenti sampai rasa mual dan pusingnya hilang."
Isma tersenyum haru. Air mata menetes diujung matanya. Prince khawatir, segera dia mendekap erat tubuh Isma. Tapi, tetap dengan menahan berat badannya agar tidak terlalu kuat menghimpit calon bayi mereka.
"Sayang, kalau sayang takut, Mas tidak akan melakukannya." Ucapnya mengalah.
Isma menggeleng. Dia bukannya khawatir atau takut. Hanya saja rasanya terlalu indah pagi ini.
Setelah melihat suaminya terbaring tak sadarkan diri, Isma benar-benar merasa takut. Lalu, sekarang dia kembali bisa melihat suaminya yang gagah perkasa itu ada didekatnya. Bagaimana mungkin Isma menolaknya.
"Bacalah doa terlebih dahulu." Ucap Isma sambil mencubit pelan hidung suaminya.
Wajah pucat Prince sontak berubah bahagia dan kembali hangat. Dengan segera dia melafazkan doa bersama Isma.
Merekapun melalui pagi yang indah penuh dengan drama, tangisan dan berakhir dengan kebahagiaan.
__ADS_1
'Semoga selamanya selalu bahagia seperti ini, Mas. I love you.' Batin Isma.
Bersambung. . .