Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Pertikaian lucu


__ADS_3

Setelah Isya Bimo dan Prince baru tiba di rumah. Rina memasang wajah kesal pada kedua lelaki yang baru menjadi ayah itu. Sedangkan Isma menyambut mereka dengan senyuman, karena Isma mengira mereka pulang kerja.


"Bim, mandilah dulu disini sebelum pulang." Menyarankan pada Bimo yang saat ini bahkan tidak berani menatap wajah marah dan kesal Rina.


"Biarkan saja, Is. Tidak usah mandi sekalian juga tidak apa." Ketusnya yang saat ini mengganti popok Azam.


"Sayang, Mas mandi dan sholat Isya dulu, ya? Baby tidak rewel, kan?" Mengelus kepala Isma yang berlapis jilbab.


"Iya, mandilah. Ajak Bimo sekalain." Sarannya lagi.


Lalu Prince menarik tangan Bimo untuk ditunjukkan kamar mandi tamu.


"Bim, sepertinya Rina tahu sesuatu deh?" Bisik Prince saat menuju kamar mandi.


"Aku juga berpikir begitu." Ucapnya khawatir.


"Kamu sudah janji, Bim. Jadi jangan pernah menceritakan tentang hal ini pada Rina, apapun yang terjadi." Tegasnya.


"Iya. Tenang saja. Lagi pula aku juga tidak ingin Isma merasa sedih dan khawatir karena masalah ini." Ungkap Bimo yang membuat Prince sedikit terbakar cemburu.


"Kamu kok jadi lebih perhatian sama Isma dari pada sama Rina?" Senggol Prince kesal, lalu pergi meninggalkan Bimo di depan pintu kamar mandi.


"Dasar pencemburu." Ketus Bimo kesal.

__ADS_1


Tiga puluh menit kemudian...


Bimo sepuluh menit lebih awal selesai mandi dan sholat. Dia kini sudah bermain bersama Azam didepan televisi. Sementara Rina membantu Isma membedong bayi bayinya.


"Maaf loh Rin, jadi merepotkan kamu." Ungkap Rina tidak enak hati karena meminta bantuan Rina berkali kali hari ini.


"Biasa saja, Is. Kamu tu menganggap aku seperti orang lain saja." Selesai membedong Rara.


"Utuutuu... Aku gemas benar sama Rara. Jadi kepingin langsung punya baby girl." Ucapnya yang membuat Bimo tersedak tiba tiba.


Isma hanya tertawa melihat ekspresi kesal Rina yang mendengar Bimo tersedak.


"Dengar tu Bim. Sudah ada lampu hijau untuk bikin baby baru." Goda Prince yang baru tiba di ruang keluarga.


"Bukan begitu sayang. Aku cuma gak sanggup aja lihat kamu berjuang saat melahirkan." Jelas Bimo dengan wajah khawatir.


Prince dan Isma hanya tersenyum mendengar perdebatan pasutri itu.


"Azam..." Mencubit pelan pipi Azam sebelum beralih menuju Isma dan bayi bayinya.


"Terimakasih, ya Rin. Maaf juga jadi merepotkan kalian." Ucap Prince mengambil alih Rara dari gendongan Rina.


"Tidak apa kok. Ya, asal kamu jangan pernah aja buat Isma menangis dan tersakiti lagi." Tegasnya dengan ekspresi kesal.

__ADS_1


Prince menunduk sebentar. 'Apa Rina tahu tentang Vino?' Batinnya.


"Insya Allah, Rin. Aku akan menjaga Isma dan anak anak dengan baik kok." Tersenyum yang sulit diartikan.


"Sudah, Rin. Kalau kalian mau pulang, sekarang saja. Tidak baik untuk Azam kalau pulang larut malam." Saran Rina.


"Iya, Is. Aku pulang dulu. Kalau butuh bantuan atau ada apa apa, cepat hubungi aku." Mencium kedua pipi Isma.


Isma mengangguk dan tersenyum.


"Kita pulang dulu, Prince. Jaga Isma." Melewati Prince menuju suami dan anaknya.


Bimo sudah siap menggendong Azam. Dia hanya melambaikan tangan pada Isma pertanda berpamitan.


"Prince, aku pulang dulu. Selamat bergadang." Menyemangati Prince dari jauh.


"Maaf tidak bisa mengantar ke depan." Teriak Prince saat Bimo dan Rina sudah tiba di depan pintu utama.


"It's Ok." Sahut mereka.


Kini tinggalah Isma dan Bimo dengan ketiga buah hatinya.


"Kita pindah ke kamar ya sayang." Saran Prince.

__ADS_1


Isma mengangguk setuju. Lalu Prince memindahkan anak anak nya terlebih dahulu ke kamar, baru kemudian menggendong Isma. Mereka menggunakan kamar tamu yang berada di bawah saja untuk sementara sampai Isma sudah benar benar kuat untuk turun naik tangga.


__ADS_2