Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Ada ada saja


__ADS_3

Waktu terus berlalu, Kini Fazil, Feisal dan Almahyra sudah berusia tiga tahun dua bulan. Saat ini mereka sedang lucu lucunya. Prince jadi betah di rumah dan sangat malas berangkat kerja.


Seperti pagi ini dia bermain bersama sikecil. Sementara Isma menyiapkan sarapan didapur.


"Mas, mandilah dulu, bentar lagi sarapannya siap." Seru Isma dari dapur.


"Iya sayang, bentar Mas lagi main sama anak anak." Sahutnya.


Fazil Feisal naik dipunggung Ayahnya. Mereka kompak mintak digendong. Sedangkan Rara menjerit marah melihat kedua saudaranya mengganggu Ayah.


"Hhiikkszz..." Jeritannya semakin lantang Saat Fazik mulai naik dipundak Ayahnya.


"Utuutuu... Dedek Rara marah. Sini Ayah gendong juga." Menggamit agar Rara mendekat.


"Nooo..." Teriak Feisal mengahalangi Rara.


"Hhuweehhiikkzz..." Tangis Rara pecah. Dan lucunya, Feisal malah ikut nangis.


Karena kedua saudarnya menangis, Fazik pun ikut nangis. Kini semuanya menangis. Dengan susah payah Prince merangkul ketiganya dalam pelukan hangatnya. Dia mencoba membujuk ketiga buah hatinya.


"Ayah sayang kalian semua. Jadi jangan bertengkar dan jangan menangis." Menghapus air mata ketiga anaknya.


"Ok ok, siapa yang masih menangis tidak akan Ayah bawa naik mobil." Melepas dekapannya.


Serentak tangisan mereka berhenti. Mereka duduk sejajar menghadap Ayah.

__ADS_1


"Baiklah, anak anak ayah sangat pintar. Sebelum naik mobil, kita sarapan dulu." Berdiri melangkah perlahan menuju meja makan.


Fazil, Feisal dan Rara mengikuti Ayahnya. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan.


"Sarapannya siap." Ucap Isma menata sarapan dimeja makan.


"Siapa yang mau ayam goreng?" Menunjukkan sepotong paha ayam goreng.


"Aku..,aku mau ayam goleng." Ucap Fazil dengan bahasanya sendiri sambil mengankat tangannya.


Sedangkan Rara dan Feisal menutup mulut mereka rapat rapat. Keduanya tidak suka daging. Mereka penggemar sayuran.


"Sayur bayamnya lezat sekali..." Mendudukkan Rara di kursi khususnya dengan hidangan sayur bayam merah berada dihadapannya.


"Kenapa sayang? Apa sayurnya tidak enak?"Tanya Prince.


Feisal menggeleng. Lalu dia menunjuk tempe goreng.


"Tempe goreng." Mendekatkan piring berisi tempe goreng pada Feisal.


"Sudah siap semua. Saatnya membaca doa." Ajak Isma.


Mereka pun menengadahkan tangan, lalu ikut mengucapkan doa dengan dibantu Ayah dan Bunda.


"Aamiin." Mengusapkan telapak tangan kewajah masing masing.

__ADS_1


Lalu mereka menyantap sarapan sendiri tanpa bantuan ayah dan bunda. Isma dan Prince tidak pernah mengajari agar anak anaknya makan sendiri. Tapi, sejak tiga bulan terakhir, mereka menolak saat Isma dan Prince membantu mereka makan. Ternyata mereka mau menyuap makanan sendiri.


"Makan yang banyak. Hati hati jangan sampai nasinya tumpah. Kalau tumpah nanti nasinya nangis." Ucap Isma yang diiyakan oleh buah hatinya.


"Mas kok malah bengong?" Mengisi piring Prince dengan nasi goreng.


"Mas gak mau sarapan." Rengeknya manja sambil melingkarkan tangannya dipinggang Isma.


"Mas, bentar lagi harus berangkat ke kantor." Mengelus lembut kepala Prince.


"Mas jadi inginkan sayang, sekarang." Rengeknya mendusel di perut Isma.


"Mas, ini masih pagi. Anak anak juga sedang sarapan loh." Jelas Isma.


"Sebentar saja. Lagian mereka sudah pintar sarapan sendiri." Ucapnya masih bermanja.


"Mas, mandi dulu sekarang. Nanti setelah anak anak selesai makan, kita bawa mereka jalan jalan. Nah setelah mereka tidur, baru deh bisa." Mengatakan dengan sangat hati hati agar tidak menyakiti hati suaminya.


"Sayang, mas maunya sekarang. Bentar saja, ya?" Memelas.


Sebentar Isma memperhatikan ketiga buah hatinya yang asyik menikmati sarapan mereka. Kursi tempat duduk mereka juga aman dan nyaman.


"Baiklah, sebentar." Menarik tubuh Prince menuju kamar mandi.


Sengaja Isma membawa suaminya kekamar mandi. Dengan alasan, agar bisa langsung membantu Prince mandi. Dan agar tetap bisa lebih cepat tanggap saat sesuatu mungkin terjadi pada anak anak.

__ADS_1


__ADS_2