Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Isma & Prince


__ADS_3

"Tunggu apa lagi, Prince. Kejar Isma. . ." Teriak Keyra dari teras rumahnya.


"Greget tau gak lihat kalian sok-sok gak kenal gitu. Saling curi pandang, mata berair tapi bibir sok-sok an senyum." Gerutuk Vino kesal.


Dia sudah susah payah bekerja sama dengan pak Sukir demi mempertemukan Isma dan Prince. Eh setelah bertemu, mereka malah saling diam.


(FLASHBACK)


*Eitss, yups. Vino memanglah pemasok kayu jati di toko kayu pak Sukir. Jadi, suatu hari Vino gak sengaja melihat Isma dengan beberapa pekerjanya datang menjemput kayu di tempat pak Sukir.


Vino mengambil foto Isma diam-diam karena merasa kenal dan pernah melihatnya. Kemudian, Vino memperlihattkan foto itu pada Keyra.


"Ini Isma, mas. Perempuan yang berhasil membuat Prince meninggalkan kepercayaan keluarganya. Dia Isma yang sangat dicintai Prince meski sudah terpisah bertahun-tahun tanpa kabar." Jelas Keyra penuh semangat.


Dari situlah, Vino mencari cara agar bisa mempertemukan keduanya. Secara, Vino merasa sangat berterimakasih, karena Isma-lah Prince dengan tegas memberikan Keyranya kembali. Prince juga membantu mendapatkan restu dari kedua orangtua Keyra untuknya.*


Vino tersenyum mengingat rencana konyolnya itu. Sebentar dia menatap Istri dan anaknya, lalu meraih mereka masuk dalam dekapannya.


"Ada apa, mas?" Tanya Keyra terkejut dipeluk tiba-tiba oleh suaminya itu.


"Aku mencintaimu. Kamu satu-satunya wanita dalam hidupku yang aku inginkan menghabiskan sisa hidupku bersamu." Ucapnya, lalu mengecup mesra kening Keyra.


Tidak lupa juga, Vino memberikan ciuman pada putra kecilnya, Gabriel putra Vino.


Dari tempatnya berdiri, Prince menyaksikan kemesraan pasangan itu.


'Teganya mereka memanas-manasi aku yang jomblo ini.' Rutuknya dalam hati.


"Aku pamit. Dan mungkin gak akan kembali ke sini lagi." Teriaknya, lalu Prince menuju mobilnya.


Sementara itu, di tempat yang berbeda. Tepat di rumah Mas Arya dan teh Fitri. Isma baru saja sampai.


"Bagaimana, dek? Sudah ketemu sama istri tuan Vino?" Tanya Fitri yang sedang menyuapi Arsyid.


"Sudah. Dia Keyra." Ucapnya lesu.


"Keyra? Mantan istrinya Prince?"


Isma mengangguk, lalu duduk di sofa samping Fitri. Lalu, tiba-tiba Isma mengerutkan dahinya dan menatap tajam pada Fitri.


"Kenapa? Ada yang aneh?" Tanya Fitri heran.


"Teteh kok tau mereka sudah bercerai? sejak kapan teteh tau?" Tanya Isma penasaran.


Fitri tersenyum, kemudian dia melanjutkan menyuapi Arsyid yang sudah sibuk meminta makannya.


"Teteh tau sejak awal mereka bercerai." Jawabnya santai.


"Teteh gak pernah ngasih tau, adek?"


Mendengar itu Fitri tertawa. Dan tawanya berhasil membuat Isma cemberut.


"Bukannya adek sendiri yang melarang Teteh untuk membahas apapun tentang Prince!"

__ADS_1


Sebentar Isma terdiam. Senyum malu-malu terlihat dibibirnya.


'Iya juga ya. Aku yang tidak ingin tahu tentang Prince.' Batinnya.


"Teteh juga tahu kalau dia menjadi mualaf?" Tanya Isma.


Fitri mengangguk.


"Tentang Prince yang pindah ke Korea, juga teteh tau." Sambungnya.


Isma terdiam. Ternyata selama ini dia benar-benar menghilangkan Prince dari kehidupannya, tapi tidak dari hatinya.


"Prince tidak mengenalku lagi, teh." Ucapnya sedih.


Arsyid mulai rewel. Dia sudah selesai makan dan kini saatnya untuk tidur siang.


"Teteh mandikan Arsyid dulu, ya. Nanti kita sambung ceritanya. Arsyid juga sudah sagat mengantuk." Tuturnya.


"Aku saja yang memandikannya, teh." Pintanya.


"Gak usah. Kamu istirahat saja gih. Bentar lagi zuhur, pergi sana siap-siap."


"Baiklah, tetehku yang tercinta."


Dengan langkah lesu, Isma menuju kamarnya di lantai atas.


'Apa Bos benar-benar sudah melupakan aku? Huffh, harusnya aku berhenti menunggunya. Dasar Mr. Arrogant menyebalkan.' Rutuknya dalam hati.


Sementara yang di rutukinya baru saja memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah Mas Arya dan teh Fitri, tepat di samping mobil Isma.


Fitri yang baru saja hendak memandikan Arsyid, berteriak memanggil Isma yang sudah sampai di anak tangga terakhir lantai atas.


"Dek, ada tamu. Bukakan pintu dulu, gih. Teteh masih mandiin Arsyid." Serunya dari kamar mandi.


"Iya, teh." Sahutnya.


Dengan langkah cepat, Isma menuju pintu. Dan begitu pintu di buka, Isma terkejut melihat tamu yang datang itu.


"Assalamu'alaikum, Isma…" Ulang Prince begitu melihat Isma.


Sebenarnya Prince gugup, dia tidak menyangka kalau Isma yang membuka pintu untuknya.


"Wa'alaikumsalam…" Jawab Isma pelan.


Dibukanya lebar pintu itu. Matanya menoleh kesegala arah, menahan keinginan untuk menatap wajah yang sangat dirindukannya itu.


"Silahkan masuk, Bos, eh Tuan…" Ucapnya gugup.


"Panggil Prince aja." Tegas Prince tersenyum sambil menahan deru napasnya yang terasa tak beraturan.


Isma hanya diam, perlahan dia melangkah masuk. Dipersilahkannya Prince untuk duduk di sofa ruang tamu.


Sejenak tidak ada suara. Hanya ada kecanggungan dan juga bahasa isyarat saja dari keduanya.

__ADS_1


"Siapa, dek. . ." Tanya Fitri yang keluar dari kamar mandi dengan menggendong Arsyid yang sudah selasai mandi.


"Saya, teh. Prince. . ." Sahut Prince yang langsung berdiri dan menundukkan kepalanya pada Fitri.


"Prince, ya ampun? Bukankah kamu di Korea?"


"Saya sudah di Jakarta sejak tiga hari yang lalu, teh. Ada proyek yang harus diselesaikan di jakarta." Jelasnya.


"Menemui mantan istri dan anaknya, teh." Sambung Isma sedikit judes.


Sepertinya dia cemburu. Terlihat dari tatap matanya saat mendengar bahwa sudah tiga hari Prince di Jakarta.


"Saya pulang karena merindukan seseorang teh. Tapi, bukan mantan istri dan anaknya kok, teh." Jelas Prince sambil tersenyum.


'Isma masih sangat menggemaskan saat cemburu.' Batinnya.


"Jujur aja juga gak apa kok." Sambung Isma lagi.


Fitri malah jadi bingung. Suasanya sekarang menjadi canggung.


"Ya sudah, Prince duduk dulu. Saya mau menidurkan Arsyid sebentar." Ucapnya.


Fitri melangkah mendekati Isma.


"Temani Prince bentar. Buatkan minuman, dan jangan judes begitu." Bisik Fitri.


Isma hanya mengangguk pelan. Sedangkan Prince sudah duduk kembali.


"Mau dibuatkan minuman apa Tuan Prince terhormat?" Tanya Isma dengan nada kesal.


"Gak usah. Saya puasa hari ini."


Isma terkejut mendengar itu, diberanikannya menatap wajah Prince untuk mencari tahu kebenaran dari ucapannya barusan.


"Kenapa? Apa saya terlihat sedang berbohong?" Tanya Prince lembut, tak lupa senyum manisnya.


'Ini hari ahad, tau. Siapa juga yang akan percaya anda puasa.' Batinnya.


"Saya belajar puasa sunnah Nabi Daud, AS." Jelas Prince seakan dapat menebak isi pikiran Isma.


Isma membelalakkan matanya terkejut mendengar jawaban Prince yang seakan bisa mendengar isi pikirannya.


'Teteh mana sih, kok lama.' Rutuk Isma dalam hati.


'Ternyata kamu masih sama. Menggemaskan saat marah.' Batin Prince, senang.


Ditatapnya Isma sambil tersenyum. Hal itu membuat Isma salah tingkah hingga membuatnya menunduk, menahan malu. Dan wajahnya kini merona merah.


Bersambung. . .


Terimakasih untuk semua Readerku yang salalu setia menunggu kelanjutan kisah Isma dan Prince.


Jangan lupa Like dan komen, vote juga. Agar Author bertambah semangt untuk berkarya.

__ADS_1


😍😍😍😍😍😍😍


__ADS_2