Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Bonus (Akhir Season 1)


__ADS_3

Tiga hari berlibur di Bogor, akhirnya Prince dan keluarganya kembali ke Jakarta. Dan kali ini mereka kembali dengan membawa Gabriel bersama mereka.


Ketiga anak mereka merengek meminta Gabriel untuk ikut mereka ke Jakarta. Awalnya Gabriel menolak, tapi melihat Rara yang tidak mau melepas pelukannya membuat hati Gabriel luluh dan dia mau ikut ke Jakarta bersama mereka.


Seperti saat ini, Rara tertidur dalam gendongan Gabriel. Saat Gabriel mencoba meletakkan Rara malah terbangun.


"Sini biar Mom saja yang gendong Rara." Ujar Isma.


"Tidak apa Mom. Aku juga senang menggendong Rara." Ucapnya.


Isma dan Prince hanya tersenyum senang. Kehadiran Gabriel membuat mereka bahagia. Ketiga anaknya juga sangat menyukai Gabriel. Seakan kehadiran Gabriel menjadi pelindung untuk Fazil, Feisal dan Rara.


"Mana Fazil dan Feisal?" Tanya Isma panik karena tidak melihat sikembar itu sejak mereka tiba di rumah.


"Loh iya juga, mana mereka?" Melirik kesegala arah.


Prince dan Isma pun mencari si kembar keluar rumah. Benar sekali keduanya saat ini sedang berdiri mematung dihadapan Mama dan Papa Prince.


"Ma... Pa...?" Panggil Isma dan Prince berbarengan.


"Ciapa kalian?" Tanya Fazil yang meletakkan kedua tangannya dipinggang. Sedangkan Feisal menengadahkan pandangannya untuk melihat lebih jelas kedua wajah asing itu.


Air mata menetes dipipi Mama. Sedangkan Papa, matanya hanya berkaca kaca.


"Sayang, ini nenek sama kakek." Jelas Isma menghampiri kedua buah hatinya.


"Nenek cama kakek kan di Bandung." Tegas keduanya hampir berbarengan.


Widia semakin menangis, dia pun berjongkok dan langsung memeluk tubuh kedua cucunya itu.


"Maafkan Nenek sayang. Nenek datang terlambat." Mengelus lembut punggung Fazil dan Feisal.


Gabriel yang menggendong Rara pun mengintip dari balik pintu. Dia penasaran saat kedua adik kecilnya mempertanyakan siapa orang asing itu.


Perhatian Papa teralihkan pada Gabriel. Papa melangkah masuk setelah mengelus puncak kepala Isma dan menyentuh bahu Prince.

__ADS_1


"Gabriel?" Ucapnya saat berhadapan dengan Gabriel.


"Kakek." Sambut Gabriel tersenyum.


Ya, dulu Prince selalu mengenalkan Gabriel pada Papa dan Mamanya.


"Apa kabar cucu kakek?" Mengelus kepala Gabriel.


Gabriel hanya tersenyum. Dia senang bisa bertemu lagi dengan kakek nenek yang masih menganggapnya cucu walaupun tidak ada hubungan darah sama sekali dengannya.


"Ini siapa namanya?" Mengelus pipi Rara.


"Rara, kek. Rara paling manja sama saya." Tutur Gabriel.


"Bunda..." Teriak Fazil dan Feisal berlari dalam pelukan Isma, setelah lepas dari pelukan kakeknya.


"Kenapa lari? Itu nenek merindukan anak anak bunda." Bujuknya.


"Tidak mau. Aku mau bobok." Rengek Feisal.


Isma menggendong kedua tubuh mungil itu.


"Ma, Pa, mari masuk dulu." Ajak Isma.


Lalu, merekapun masuk bersama sama ke rumah. Begitu juga dengan Prince yang menjinjing semua barang bawaan mereka sepulang dari Bogor.


"Duduk dulu, Ma, Pa. Saya mau menidurkan anak anak dulu." Ucap Isma, yang mendapat anggukan malu malu dari kedua mertuanya itu.


"Kakak, bawa sekalian adek Rara kesini." Ajak Isma pada Gabriel agar membawa Rara ke kamar, untuk dibaringkan ditempat tidurnya.


"Semua anak bunda bobok dulu. Jangan berantem dan tidur yang nyeyak." Membaringkan tubuh Fazil dan Feisal. Barulah kemudian mengambil alih Rara dari Gabriel.


"Kakak juga istirahat gih, kamar diatas." Menyarankan.


"Boleh aku tidur disini, Mom?" Tanya Gabriel ragu.

__ADS_1


Isma tersenyum, diraihnya jemari Gabriel.


"Boleh sayang, hanya saja tempat tidurnya kecil. Nanti kamu tidak nyaman." Jelasnya.


"Dengan berada didekat kalian, sudah sangat membuatku nyaman Mom. Terimakasih karena kalian mencintaiku dengan tulus, meski aku hanya orang asing." Ungkapnya.


"Selamanya kamu adalah leluarga kami." Tersenyum senang.


"Istirahatlah." Mengelus punggung Gabriel lembut.


Lalu, Isma pun kembali keluar kamar untuk menemui mertuanya.


"Mama sama Papa mau minum apa?" Tanya Isma ramah.


Sedangkan Prince yang sudah berada didapur, malah menatap sinis pada kedua orangtuanya. Dia merasa kesal, karena mereka dulunya selalu membenci Isma dan mencoba memisahkan mereka.


"Tidak usah, Is. Sebenarnya Mama datang kesini... mau minta maaf sama kamu." Berlutut dilantai menghadap pada Isma.


"Mama, Papa. Kalian tidak perlu berlutut untuk meminta maaf." Ikut berlutut dilantai.


"Maafkan kamu Isma. Kami orangtua yang buruk." Isak Papa dan Mama bersamaan.


Isma memeluk keduanya. Dia juga ikut menangis terharu. Berkat kesabarannya selama ini, akhirnya Allah melembutkan hati mertuanya.


"Aku sudah memaafkan kalian. Jadi aku mohon berdirilah. Jangan seperti ini." Memohon sambil menangis.


Prince menghampiri mereka. Dia pun akhirnya memeluk Mama dan Papa. Tidak lupa mengikutkan Isma dalam pelukan hangat itu juga.


"Kalian orangtua terbaik. Hanya saja kecintaanku pada Tuhanku membuat kalian cemburu hingga berpikir aku bukan lagi milik kalian." Tuturnya.


"Maafkan kami, Prince. Sungguh kami minta maaf." Ucap Papa dan Mama bersamaan.


"Ma, Pa. Selamanya aku anak kalian. Kalian adalah orangtuaku, Mama yang melahirkan aku. Papa yang memberikan aku makanan dan mengajarkan aku menjadi pria yang hebat dan tangguh." Sambung Prince.


Mereka terhanyut dalam tangisan haru, pilu dan bahagia. Saling berpelukan dan saling berharap agar selalu bersama sama hingga Tuhan memisahkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2