Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Pertemuan !!


__ADS_3

Sesuai janji, tepat pukul 10 pagi Isma sudah berada di depan rumah Vino.


"Mewahnya ini rumah." Ucap Isma.


Dia menekan tombol bel, pagar itupun terbuka otomatis saat bel di tekan. Isma melangkah masuk dan begitu tiba di depan pintu, seorang wanita setengah baya membuka pintu untuk menyambut kedatangannya.


"Non Isma?" Tanya wanita itu.


"Iya. Nyonya ada?"


"Ada. Kebetulan nyonya sedang menunggu. Tuan Vino juga menunggu."


Isma tersenyum senang. Lalu mereka melagkah masuk. Begitu tiba di ruang tamu, mata Isma menatap sesuatu yang membuatnya tidak ingin melanjutkan langkah.


"Keyra. . ." Ucapnya pelan.


"Iya, non. Itu nyonya Keyra. Ayok mari masuk. . ." Ajak wanita itu.


Isma kembali melanglahkan kakinya. Kemudian berhenti lagi. Dia pun berlari menyembunyikan dirinya di balik tembok pembatas ruang tamu dan ruang depan.


"Aku tidak salah lihat, kan?" Ucapnya sambil mengintip ulang apa yang barusan dilihatnya.


Ya, Isma tidak salah lihat. Apa yang dilihatnya benar-benar nyata. Seorang pria yang sangat dikenalnya sedang bermain dengan anak kecil.


"Loh, non Isma. . ." Bibik mencari keberadaan Isma yang tidak lagi ada di belakangnya.


"Bik, Isma sudah datang?" Sahut Vino yang tengah menuruni anak tangga.


Pertanyaan Vino membuat Keyra menoleh kearah Bibik.


"Iya tuan..." Ucap Bibik.


Vino melangkah kearah Bibik, dia pun melihat Isma yang beridiri diam, salah tingkah tapi mencoba tersenyum nenatap Vino.


"Buk Isma. Ayuk mari masuk." Ajak Vino.


Meski berat, perlahan Isma melangkah mengekor dibelakang Vino. Dia mencoba menyembunyikan wajahnya dengan terus menunduk.


"Hai Isma, aku Keyra." Sambut Keyra sambil mengulurkan tangan.


Isma menyambut uluran tangan itu, tapi masih dengan tetap menunduk.

__ADS_1


"Silahkan duduk." Ajak Keyra.


"Duduk buk Isma. Ini Keyra istri saya." Ucap Vino sambil duduk di samping Keyra.


Sebentar Isma tersenyum, lalu dia duduk di sofa yang berhadapan dengan pasangan itu.


"Gabriel ikut Dady ya. . ." Ucap pria tadi yang melangkah kearah ruang tamu sambil menggendong anak kecil.


Isma terlihat semakin gelisah. Dia berusaha mencoba untuk tetap tenang.


"Enak aja. Gabriel gak boleh ikut Dady dong. Papa nanti kesepian." Timpal Vino sambil melangkah mendekati Gabriel.


"Papa kan sudah punya mama, ya sayang. Dady kan sendirian." Jawab pria itu dengan nada menirukan suara anak kecil yang sedang di gendongnya itu.


Sementara Keyra hanya menoleh dan tersenyum senang melihat suami, anak dan mantan suaminya itu bercanda bersama.


Dan Isma. Apa kabar hatinya. Oh, ini sangat aneh menurutnya.


"Eh, Prince, kenalin… ini Isma." Ujar Vino


"Hai Isma, saya Prince mantan suami Keyra." Ucapnya santai seakan baru pertama mengenal Isma.


Ya, sebenarnya Prince tahu akan kedatangan Isma. Makanya, dia bisa lebih santai. Padahal hatinya sedang bergejolak tak menentu.


"Saya Isma… Tuan Prince!" Sambut Isma, berpura-pura ramah.


Prince tersenyum. Jika dilihat dari dekat, mata Prince mulai berkaca-kaca. Untuk menyembunyikan itu, Prince pun kembali membawa Gabriel bermain ke halaman depan rumah.


Sedangkan Isma, langsung mengeluarkan amplop putih berisi uang sebanyak jumlah yang harus di bayarnya pada Vino.


"Tuan Vino, ini uangnya. Silahkan dihitung kembali. Siapa tahu saya keliru dalam menghitungnya." Ucap Isma menyarankan.


"Buru-buru sekali, buk Isma?" Timpal Vino sambil meraih amplop uang itu.


"Tunggulah sebentar, Isma. Saya baru saja meminta Bibik membeli minuman untukmu." Sambung Keyra.


"Loh, kenapa beli, sayang. Kenapa tidak dibikin saja." Protes Vino.


Keyra tersenyum menanggapi suminya, lalu dia juga melirik kearah Isma yang ternyata menatapnya. Dan ketika tatapan mereka bertemu, Isma pun ikut tersenyum.


"Seorang muslim tidak boleh minum ataupun makan menggunakan gelas, dan piring di rumah seorang non muslim, mas. Meski minuman dan makananya halal menurut ajaran agama mereka, tapi tetap saja mereka harus berjaga agar tidak memakai tempat minum dan makanan dirumah seorang non muslim."

__ADS_1


Keyra menjelaskan secara rinci. Isma tersenyum mendengar penjelasan Keyra. Dia merasa bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Keyra, Vino dan Prince.


Meski berbeda keyakinan, mereka sangat menghormati Isma dengan keyakinan yang dipercayanya.


"Jadi karena itu. . . Prince tidak pernah mau makan dan minum di rumah kita, sejak dia menjadi Muslim?" Tebak Vino.


Keyra mengangguk mengiyakan. Sedangkan Isma terdiam, matanya mulai berkaca-kaca saat mendengar Prince sudah menjadi Mualaf.


'Terimakasih ya Allah. Meski bukan aku pelantara hidayah baginya. Aku sangat senang mendengar bahwa dia sekarang telah memeluk Islam.' Batin Isma.


Matanya semakin berat. Air mata terasa akan segera jatuh. Sekuat yang dia bisa Isma menahannya.


"Buk Isma baik-baik saja, kan?" Tanya Vino yang menangkap raut haru di mata Isma.


"Iya. . . Saya baik-baik saja, Tuan." Ucapnya sambil tersenyum, dan bulir putih itu pun menetes.


Dengan cepat Isma menghapusnya menggunakan ibu jarinya.


"Maaf, mbak Keyra, tuan Vino. Mata saya sepertinya kemasukan debu..." Kilahnya denga terus berusaha menghentikan air mata yang terus mengalir itu.


"Tidak apa, Isma. Ini kamu lap saja air matamu dengan tisu." Keyra mengulurkan tisu pada Isma yang langsung di ambil oleh Isma.


Diam-diam, Prince mendengar pembicaraan mereka. Prince juga mengintip dari balik tembok pembatas ruang tengah dan ruang tamu tempat Isma duduk. Sementara Gabriel sudah bermain dengan pak Rudi, tukang kebun di rumah Vino.


Prince pun meneteskan air mata. Dipegangnya dadanya yang terasa sesak, menyakitkan karena menahan rindu yang teramat sangat.


'Isma aku merindukanmu…' Batinnya.


Kembali pada Isma. Air matanya sudah mulai mengering. Dia pun berencana untuk segera pamit, tanpa menunggu lagi bibik yang masih belum kembali dari membeli minum.


"Tuan, Mbak Keyra. Sepertinya saya permisi pulang sekarang. Ada beberapa hal yang harus saya kerjakan." Ucapnya.


"Baiklah jika memang begitu." Ucap Vino.


Lalu merekapun mengantar Isma hingga di depan pintu. Sedangkan Prince sudah pura-pura asyik bermain dengan Gabriel.


Sejenak Isma menatap Prince dari kejauhan. Senyum Prince terlihat bahagia tanpa beban.


'Semoga Allah tetapkan hatimu atas agama-Nya. Aamiin.' Doa nya dalam hati.


Lalu, Isma melangkah nenuju mobilnya tanpa menoleh lagi kebelakang. Andai saja Isma menoleh kebelakang, dia akan menemukan Prince yang menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan.

__ADS_1


Bersambung. . .


__ADS_2