Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
(LDR)


__ADS_3

Bandung. . .


Kedatangan Isma disambut Umi dan Abi dengan bahagia. Ya, mereka sudah mendapat kabar dari Arya, kalau Isma ikut bersamanya ke Bandung.


"Umi adek kangen. . ." Memeluk manja tubuh Umi.


"Umi juga. Anak Umi sehat?" Tanya umi sambil memeriksa keadaan Isma yang memang baik-baik saja.


"Adek sehat Umi. Sangat sehat. . . Mas Prince selalu mengomel kalau adek telat makan." Ujarnya senang.


Umi hanya diam, sedang Abi merubah raut bahagia di wajahnya menjadi datar saat Isma menyebutkan nama Prince. Sayangnya Isma tidak menyadari itu semua.


"Abi. . . Maafkan adek. Adek gak tahu Abi sakit." Mencium punggung tangan Abi. Isma berjongkok dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Abi yang duduk diatas kursi roda.


Ya, sesekali Abi akan menggunakan kursi roda. Karena saat traumanya kambuh, seluruh tubuh Abi kembali lumpuh.


"Tidak apa sayang, yang penting sekarang putri kesayangan Abi sudah sampai dengan selamat. Itu sudah membuat Abi senang." Mengelus kepala Isma yang berlapis hijab.


"O iya, Mas Prince titip salam sama Abi dan Umi. Dia akan menyusul besok, karena sekarang Mas Prince harus bekerja." Jelas Isma senang.


Raut wajah Abi tetap datar. Sedangkan Umi hanya tersenyum palsu. Dan Arya terdiam menunduk.


Senyum di wajah Isma mulai memudar. Dia seakan mulai merasakan hal aneh itu. Tapi, Isma tidak mau terlalu mengikutkan perasaan takutnya akibat mimpi menakutkan itu.


"Adek sudah makan?" Tanya Umi mengalihkan suasana yang tiba-tiba menjadi hening.


"Sudah. Tadi di jalan adek sambil makan. Mas Prince memesankan makanan untuk adek sebelum berangkat ke sini." Tuturnya bahagia.


Mata Isma selalu bening dan wajahnya tampak ceria saat dia menceritakan tentang Prince. Sedangkan Abi dan Umi hanya tersenyum paksa.


"O gitu. . . Padahal Umi masak cah kangkung kesukaan adek." Ujar Umi sedikit kecewa.


"Cah kangkung? Wah, adek sudah lama gak makan cah kangkung. Ya udah, Umi temani adek makan yok. . ." Rengeknya manja bergelantungan di tangan Umi.


Melihat tingkah manja Isma membuat senyum bahagia kembali di raut wajah Abi dan Umi. Arya juga ikut senang melihat suasana saat ini.


"Ayok, kita makan cah kangkung sepuasnya. . ." Ajak Umi.


"Abi sama Mas Arya juga ikut makan yok. . ." Ajak Isma, sambil mendorong kursi roda Abi.


Arya mengekor saja dibelakang. Ah, Arya merindukan istri dan putra kecilnya.


"Pasti seru kalau ada Teteh, Asrsyid dan Mas Prince. Seperti keluarga besar kita sedang berkumpul bersama." Celotehnya tanpa tahu perasaan Abi dan Umi yang tidkk suka saat dirinya menyebut nama Prince.


Sementara itu, Prince masih meeting. Pertemuan itu sangat menegangkan. Bahkan sempat terjadi kesalah pahaman, berdebat dan hampir salah satu Kliennya berniat membatalkan kerja sama mereka.


Dan Prince, sebenarnya dia tidak bisa fokus saat ini. Pikirannya jauh berkelana memikirkan istri tercintanya. Ketakutan akan mimpi istrinya menjadi nyata menari-nari dalam pikirannya.


"Pak Prince, anda seharusnya sudah memutuskan masalah ini sejak lama. Kenapa bisa seteledor ini. Saya benar-benar sangat kecewa." Bentak seorang Klien.


"Pak Haris, anda seharusnya tidak membentak Bos saya seperti itu. Kesalahan ini tidak semuanya berasal dari kami. Semua kesalahan ini berawal dari perusahaan bapak." Tegas Rina yang mulai geram.


"Jadi menurut anda, perusahaan saya yang salah?" Ujarnya semakin emosi.


"Nona Rina. Seharusnya anda malu, anda yang tidak becus menjadi PA. Saya sudah sejak lama bekerja sama dengan perusahaan ini. Dan dulu, saat Isma yang menjadi PA kekacauan seperti ini tidak pernah terjadi." Sela Klien yang lainnya.


Rina terdiam. Rasanya wajahnya di lempar kotoran oleh bapak tua itu. Rina menunduk dalam, ada segurat rasa emosi yang meluap, tapi berusaha ditahannya. Dia tidak ingin semakin memperkeruh keadaan.


"Cukup." Tegas Prince sambil menepuk meja.


Pikirannya terusik saat nama Istrinya di bawa kedalam permasalahan ini. Ya, meski itu pujian, tapi Prince tidak suka mereka menyebut istrinya hanya dengan nama saja.


"Saya sudah memeriksa semua dokumen proyek yang anda kirimkan Pak Haris. Dan. . . " Membuja dokumen itu.

__ADS_1


"Disini jelas tertulis, apa saja yang anda inginkan untuk proyek ini. Dan anda juga sudah menulis dengan jelas, tentang bagaimana proyek ini akan terbentuk." Jelas Prince.


Semua orang yang berada diruangan itu pun ikut membuka dokumen yang ada di depan mereka masing-masing, termasuk pak Haris.


Setelah memahami situasi, semua mulai berbisik. Dan pak Haris tertunduk diam. Ah dia tidak tahu tentang semua ini. Dia bahkan belum membaca dokumen tersebut. Karena memang selama ini, dia selalu menyerahkan seutuhnya pada PA miliknya yang merangkap sebagai istri simpanannya.


"Jika anda ingin membatalkan proyek ini, silahkan. Saya tidak merasa rugi sedikitpun." Ucap Prince menatap tajam pada klien yang tadi menyebut nama istrinya.


Keadaan menjadi hening seketika. Mereka terdiam. Tidak ada yang berani bicara lagi.


"Satu lagi, Rina adalah best PA di perusahaan saya. Dia wanita terhormat dan sangat berharga." Tegas Prince.


Ditatapnya tajam pak Haris, lalu senyum mengejek pun diberikan oleh Prince pada lelaki tua tukang selingkuh itu.


"Isma Ramadhani. Saya tidak ingin mendengar kalian menyebut nama itu di perusahaan saya." Tegasnya sekali lagi.


Semua orang heran dan saling bertatapan untuk mencari tahu makna dari apa yang diucapkan Prince. Begitu juga dengan Rina. Dia heran, kenapa Prince melarang menyebut nama Isma. Apakah mereka bertengkar?


Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan dikepalanya.


"Dia adalah Nyayo Isma Ramadhani. Dia Istri sah saya. Panggil dia dengan kata Nyonya." Sambung Prince menegaskan.


Terjawab sudah pertanyaan dari semua orang di ruangan itu. Dan hanya Rina yang berani tersenyum bahagia.


Ah, betapa romantisnya suami sahabatnya ini. Prince menegaskan bahwa Isma adalah Istrinya dan yang model itu hanya mengku-ngaku tanpa diakui.


"Pertemuan selesai. Jika masih ada yang mengganjal dalam pikiran kalian, silahkan bicarakan dengan Rina dn Bimo. Mereka yang akan menindak lanjuti urusan kalian semua." Sambung Prince lagi.


Kemudian, dia sedikit menundukkan kepalanya, lalu dia pun berlalu meninggalkan ruangan itu.


Begitu tiba di luar, Prince menatap jam di tangannya. Jarumnya sudah menunjukkan pukul enam sore. Sebentar lagi azan magrib akan berkumandang.


Segera Prince melangkah menuju mushola untuk bersiap membersihkan diri dengan wudhu dan melaksanakan sholat Magrib.


Di Bandung.


"Besok saja pulang, Mas." Rengek Isma.


"Ada pekerjaan yang harus Mas selesaikan dek." Jelasnya.


"Baiklah. . ." Sahut Isma.


Dan setelah berpamitan pada Umi dan Abi Arya pun segera berangkat ke Bandung.


Kini tinggal Isma, Abi dan Umi saja di rumah. Isma bercerita banyak hal tentang kegiatannya selama di Korea dan tidak lupa Isma memperlihatkan baju bayi hasil jahitan tangannya. Umi tersenyum saja, begitu juga dengan Abi.


Tidak lupa Isma juga memberikan oleh-oleh yang dibawanya dari Korea.


"Apa ini halal dek?" Tanya Umi saat menerima kue beras pedas dari Isma.


"Insya Allah halal, Umi. Makan-makanan ini adek beli dari super market bersertifikat halal yang disahkan, Umi." Jelasnya.


Lalu Isma juga bertutur tentang Masjid indah di Korea yang dikunjunginya.


Abi dan Umi mendengarkan dengan baik semua cerita Isma. Hanya saja mereka akan diam saat Isma membahas suaminya. Meski, menyadari itu Isma tetap saja bercerita, dia mencoba menepis perasaan tak mengenakkan dihatinya.


Di Jakarta.


Jam kini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Rina dan Bimo baru tiba di rumah. Mereka lembur mengerjakan beberapa pekerjaan yang diminta oleh Bos mereka.


"Sayang langsung mandi. Mas akan siapkan air panasnya." Ucap Bimo saat melihat Rina yang langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Capek Mas. Perutku rasanya gak enak." Ucapnya lemas.

__ADS_1


Begitu selesai menyiapkan air hangat, Bimo langsung menggendong tubuh istrinya menuju kamar mandi.


"Apa perut sayang terasa keram?" Tanya Bimo khawatir.


Dia melepas baju Rina sangat perlahan. Takut menyakiti bayi mereka yang hampir berusia satu bulan itu.


"Tidak Mas, hanya tidak enak saja. Mungkin masuk angin." Jelasnya.


"Ya sudah, kita mandi dulu. Nanti mas bantu eluskan perut sayang supaya terasa baikan." Saran Bimo


Rina mengangguk senang. Dan merekapun mandi bersama. Mandi bersama pasangan halal itu indah.


Skipp. . .


Usai mandi, mereka langsung melaksanakan sholat Isa berjamaah. Ya, tadi mereka belum sempat melaksanakan sholat karena sibuk.


Beginilah manusia. Memang sudah menjadi alasan mengesampingkan ibadah dan mendahulukan pekerjaan. Tapi, tidak apa. Setidaknya mereka tidak meninggalkan kewajiban.


Tapi ingat, lain kali harus belajar untuk bisa melaksanakan kewajiban beribadah tepat waktu. Agar rezeki yang Allah beri juga tepat waktu dan barokah.


Sementara pasangan itu tengah menikmati kebersamaan mereka, di rumah yang besar dan mewah, Prince berbaring menatap langit-langit kamarnya.


Dia sudah memakai piyama dan bersiap untuk tidur. Tapi, matanya enggan di pejamkan. Hatinya merindukan istrinya yang selalu berbaring disampingnya.


Ini kali pertama Prince tidak bisa merasakan tubuh istrinya ada disampingnya sejak menikah.


"Beginikah rasaya orang-orang yang menjalin hubungan jarak jauh?" Gumamnya.


Diraihnya Iphone, lalu Prince langsung menghubungi Isma. Harap cemas menanti jawaban.


'Apa dia sudah tidur? Sayang bangunlah sebentar, Mas sangat merindukan sayang. . .' Batinnya.


📱"Assalamu'alikum, Mas."


Akhirnya, Prince memdengar suara yang sangat dirindukannya seharian ini.


📱"Wa'alikumsalam. Sayang belum tidur?"


📱"Belum. . . Adek rindu Mas. Adek mau tidur dalam pelukan Mas." Rengeknya manja.


📱"Sayang. . . Mas juga. Mas gak bisa tidur, kalau sayangnya Mas gak ada di samping Mas."


📱"Adek gak sabar nunggu hari esok. Adek kangen banget sama Mas."


📱"Mas juga sayang... Abi bagaimana?"


📱"Alhamdulillah mulai membaik, Mas. Ya meski jantung Abi masih lemah, tekanan darah abi naik turun tak beraturan. Dan ya, Abi masih menggunakan kursi roda kalau mau jalan." Jelas Isma.


📱"Maafkan Mas, dek. Semoga Abi cepat sembuh seperti sedia kala."


📱"Aamiin ya Allah."


📱"Kita tidur yok. Besok Mas masih harus ke kantor paginya. Dan baru bisa ke Bandung, sore sepertinya."


📱"Ya sudah, kalau gitu kita tidur. Tapi. . . jangan dimatikan. Temani adek. . ." Rengeknya Manja.


Prince tersenyum gemas. Ah rasanya ingin segera ke Bandung dan memeluk tubuh istri tercintanya.


📱"Baiklah, selamat malam my Princess. I love you. Nice dream." Ucap Prince.


📱"Mmh, Adek juga sayang sama Mas. Mas juga semoga mimpi indah."


Usai mengucapkan kata-kata manis itu, keduanya memejamkan mata mereka. Sedangkan iphone mereka masih bertengger ditelinga.

__ADS_1


'Semoga hari esok akan lebih menyenangka dari hari ini.' Ucap Prince dalam hati.


Bersambung. . .


__ADS_2