Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Season 2 (Chap 37)


__ADS_3

Tujuh tahun kemudian.


Isma dan Prince sedang dibandara. Mereka menunggu kepulangan ketiga buah hatinya.


"Mas, kok aku deg degan ya." Ucap Isma yang celingukan menanti kedatangan anak anaknya.


"Ayah, bunda." Teriak Rara yang berlari kearah mereka.


"Rara, sayang." Isma menyambut Rara dalam pelukannya.


"Ayah." Kini Rara memeluk ayahnya. "Mereka belum tiba?" Tanya Rara melirik sekelilingnya. Rupanya dia tiba lebih dulu.


"Belum sayang. Masih setengah jam lagi." Jawab Prince.


"Senangnya, putri bunda sudah pulang dari Korea, dan sudah menjadi desainer ternama lagi." Puji Isma bangga.


"Tentu dong, siapa dulu ayah dan bundanya." Ucap Rara bangga menjadi putri dari kedua orangtua yang sangat hebat.


"Ayah, bunda, apa benar Fazil akan segera menikah?" Tanya Rara yang mendar isu itu saat masih di Korea.


"Iya. Dua hari lagi acara lamarannya." Jawab bunda.


"Siapa wanitanya, bunda?" Rara benar benar penasaran, siapa wanita yang beruntung itu.


"Fazil tidak mengizinkan bunda memberitahukan sebelum lamarannya diterima." Jelas Isma.


"Lah, lamaran Fazil belum diterima? Wah, hebat juga wanita itu, bisa menggantungkan seorang Fazil." Rara heboh sendiri.


"Wanita mana yang mau langsung menerima lamaran dari pria yang hanya dikenal namanya saja, nak?" Tanya Isma pada Rara.


"Iya juga sih, bunda. Tapi, Fazil itu terkenal bahkan didunia maya. Seorang pemuda yang hafal hampir 30 jus Qur'an, tidak pernah pacaran, tidak bersalaman atau bersentuhan dengan wanita yang bukan mahramnya dan yang lebih penting adalah, seorang pewaris utama K.H Grup." Jelas Rara mencontoh salah satu artikel yang dapat ditemukan di dunia sosmed.


"Apa Fazil sebegitu terkenalnya?" Tanya Ayah yang mulai tertarik untuk ikut bicara.

__ADS_1


"Iya, yah. Fazil benar benar terkenal." Rara memperlihatkan artikel tersebut pada ayahnya melalui layar ponselnya.


"Siapa yang menuliskan artikel ini?" Tanya Ayah dan bunda.


"Pengagum dan penggemar garis keras Fazil." Jelas Rara.


Dan disaat mereka sedang membahas artikel itu, Fazil dan Feisal melangkah mendekati mereka dengan diam diam.


"Hyaaa, Almahyra." Panggil Fazil dan Feisal berbarengan.


Mendengar namanya disebut, Rara pun langsung menoleh dan melotot melihat kedatangan kedua saudara kembarnya. "Fazil, Feisal." Berlari mengejar mereka.


Lalu, mereka bertiga saling berpelukan. Mereka saling merindukan, karena sudah delapan tahun terakhir tidak pernah bersama.


"Lihatlah, mereka lebih merindukan satu sama lain, dibanding kedua orangtuanya." Rutuk Prince menatap kearah putra putrinya.


"Mereka saling merindukan, mas." Ujar Isma terharu menatap putra putrinya.


"Ayah, bunda." Fazil dan Feisal menghampiri kedua orangtua mereka. Lalu, mereka saling berpelukan.


"Masakan Indonesia, apa lagi bunda yang masak, uuhhh rasanya luar biasa." Ucap Rara dan Feisal. Sedangkan Fazil hanya fokus menikmati makanan itu.


"Jadi kamu sudah memutuskan akan mengajar di kampus mana, Fei?" Tanya Prince.


"Sudah, yah. Aku akan mengajar di UIN Jakarta." Jawabnya.


Setahun yang lalu, Feisal mendapatkan lima undangan dari kampus berbeda untuk mengontraknya menjadi Dosen. Dan akhirnya, memilih UIN Jakarta.


"Kamu serius tidak ingin bekerja di perusahaan?" Tanya Prince lagi.


"No, ayah. Aku tidak suka dengan semua itu. Aku lebih suka menjadi Dosen." Tegasnya.


"Kamu, Ra? Apa tidak tertarik pada Perusahaan?" Lanjut Prince bertanya pada Rara.

__ADS_1


"No, ayah. Menjadi desainer ternama adalah impianku. Dan baju baju muslim dan muslimah karyaku digemari semua kalangan, bahkan sampai ke luar Negeri." Membanggakan dirinya sendiri.


Prince dan Isma mengangguk paham. Mereka memang tidak memaksakan anak anak mereka untuk mengurusi perusahaan. Dan satu satunya yang berpotensi dan memang menyukai perusahaan adalah Fazil. Dia akan segera diberi tanggung jawab oleh Prince setelah dia menikah nanti.


"Zil, kamu yakin mau merintis dari bawah dulu?" Prince kembali bertanya.


"Iya, Ayah. Fazil suka perusahaan. Karena itulah, Fazil ingin mempelajari semuanya dimulai dari jabatan terbawah di perusahaan. Dan kalau berhasil, Fazil akan naik perlahan. Kalau gagal, Fazil akan mencoba lagi dari awal."


"Daebak, Fazil memang luar biasa." Sela Rara sambil memberi dua jempol untuk saudaranya itu.


Fazil tersenyum senang mendapat pujian dari Rara. Kemudian, Feisal pun ikut memberikan dua jempol juga untuk Fazil. Lalu mereka saling cekcok berebut sepotong paha ayam.


"Bunda, lihat Feisal nggak mau ngalah." Adu Rara merengek pada Bundanya.


"Kamu udah makan dua, Ra. Aku baru satu loh. Jadi ini punyaku." Protesnya.


Lalu, mereka kembali berebut paha ayam itu. Hingga akhirnya saling jambak. Rara menjambak rambut Feisal secara langsung, sedangkan Feisal hanya bisa menarik hijab Rara.


"Lepas nggak, yaaakkk sakit." Teriak Feisal.


"Bunda, ayah tolong aku. Feisal…" Teriak Rara menarik kuat rambut pendek Feisal saat merasa hijabnya akan segera terlepas dari kepalanya.


Prince hanya menggelangkan kepala menyaksikan kedua anaknya. Lalu dia melanjutkan makannya dengan nikmat. Isma pun melakukan hal yang sama. Sementara, Fazil memanfaatkan pertikaian itu untuk merebut paha ayam yang terlupakan itu.


"Bro, Sis. Sorry!" Seru Fazil sambil menggigit paha ayam tersebut.


Rara dan Feisal menoleh dan langsung menatap tajam pada Fazil. " Faziiiilllll…" Teriak mereka yang langsung membuat Fazil berlari.


Kejar kejaran pun terjadi, dan paha ayam itu sudah habis dimakan semua oleh Fazil. "We are the champion." Teriak Fazil bangga karena memenangkan pertikaian itu.


Sementara Rara dan Feisal terduduk kesal dilantai. Mereka saling menyalahkan satu sama lain.


"Bunda punya paha ayam yang banyak nih, ada yang mau nggak." Seru Isma yang menyajikan goreng paha ayam diatas meja makan.

__ADS_1


Mereka bertiga saling menatap, lalu berlari menuju meja makan untuk melanjutkan makan mereka yang tertunda karena pertikaian tadi.


__ADS_2