
Kelas baru dimulai. Ms.Diana sebagai guru basaha Inggris sekaligus wali kelas, masuk ke kelas IPS 3. Dia langsung menuliskan beberapa teori penting tentang pelajarannya. Padahal anak anak yang diajarnya masih tetap dengan kegiatan mereka masing masing. Melihat hal itu membuat Fazil merasa tidak enak hati pada Ms.Diana sehingga dia mengambil inisiatif untuk maju kedepan dan menuliskan sesuatu dari teori yang ditulis Ms.Diana.
Benar saja, saat Fazil maju dan mulai menulis, mata semua teman temannya tertuju padanya. Mereka terdiam dan memperhatikan Fazil nenulis dipapan tulis.
"Ok guys, aku tantang kalian semua. Siapa yang bisa menjawab soal soal ini, aku traktir makan dikantin." Tantang Fazil yang berhasil membuat beberapa temannya fokus.
"Nggak adil kalau kita tiba tiba langsung disuruh menjawab, sementara kita belum mengerti sama sekali apa yang harus dijawab." Protes mereka.
Fazil menatap pada Mas.Diana, dia memberi kode agar Ms.Diana menjelaskan teori yang sudah ditulisnya dipapan tulis.
"Ok, Ms. Akan menjelaskan pada kalian bagaimana cara menjawab pertanyaan dari Fazil." Mulai menjelaskan satu persatu teorinya.
Semua mata siswanya untuk pertamakalinya menatap serius padanya dan telinga mereka benar benar fokus mendengarkan penjelasannya tentang pelajaran.
"Aduh, Ms. jangan berbelit belit dong menjelaskannya." Rutuk mereka yang masih belum paham dengan penjelasan Ms.Diana.
"Ok, tenang ya. Ms akan mencoba menjelaskan sekali lagi." Hendak mulai menjelaskan lagi.
"Ingat siapa yang bisa menjawab dua pertanyaan sekaligus, gue traktir satu hadiah sesuai permintaan kalian." Fazil memotong dulu penjelasan Ms. Diana.
__ADS_1
Fazil melirik bentar pada Ms.Diana, dia tersenyum kemudian kembali duduk di kursinya yang bersampingan dengan seorang siswi yang bercadar.
"Kamu bisa menjawab pertanyaan itu?" Tanya Fazil saat melihat beberapa coretan siswi itu dibukunya.
Mengetahui Fazil melihat tulisannya, segera saja siswi bercadar itu menyembunyikan bukunya.
"Ms!" Fazil mengangkat tangannya, sehingga semua perhatian terpusat padanya.
"Ada apa Fazil?"
"Keni mau menjawab soal didepan, Ms." Ucapan Fazil membuat Keni siswi bercadar itu kaget. Dia tidak pernah mengatakan akan menjawab pertanyaan itu.
"Ok, Keni, Come here!" Menggamit agar Keni maju kedepan.
"Jawaban kamu benar semua Keni." Menatap haru pada Keni.
Mendengar pernyataan Ms.Diana kelasnya menjadi hening sejenak, kemudian suara tepuk tangan terdengar dengan meriah. Teman teman sekelasnya memberikan ucapan selamat pada Keni karena bisa menjawab pertanyaan pertanyaan itu.
Mendapat ucapan selamat dan juga melihat wajah wajah bahagia dari teman teman sekelasnya membuat Keni terharu. Dia bahkan sudah meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu menangis, Keni?" Tanya mereka heran.
"Loh, kamu kenapa Keni? Apa kamu sakit?" Memeriksa keadaan Keni.
"No, Ms. I am Ok. I just really happy." Ucapnya menggunakan bahasa Inggris yang kembali mendapat pujian dari teman teman sekelasnya.
Mereka benar benar merasa bahagia dan bangga, ternyata dikelas mereka ada teman yang pintar.
"Keni, kami akan mendukung kamu untuk bisa terus belajar. Kita memang kelas terasingkan. Tapi, kita punya rasa kebersamaan yang kuat. Maukah kamu mengajari kami semua, supaya kelas kita menjadi kelas yang tidak lagi terbelakang dan terbuang." Teriak Roni yang merupakan ketua kelas.
Keni tersenyum senang. Sebentar dia menatap pada Fazil yang tersenyum senang sambil duduk santai di bangku paling belakang.
"Kalian bukan anak anak yang terbelakang. Justru menurut Ms. Kalian adalah siswa siswa Ms. yang sangat berharga." Ungkap Ms.Diana yang merupakan wali kelas mereka.
"Ada satu lagi siswa pintar di kelas kita yang akan mengajari kita banyak hal." Ucap Keni yang membuat mereka bertanya tanya dan saling menunjuk satu sama lain.
"Dia adalah Fazil Pratama." Teriak Keni seakan melepas semua perasaan pengap didadanya.
"Ok. Karena kalian berdua murid yang pintar, traktir kita semua makan siang hari ini. Bagaimana?" Teriak Roni lagi.
__ADS_1
"Aku tidak tahu tentang Keni. Tapi, aku bertanggungjawab dengan janjiku. Kalian boleh makan sepuasnya di kantin dengan gratis." Ucapnya tenang.
Sorak sorai teman temannya kembali terdengar. Mereka benar benar bahagia bisa mengetahui ternyata ada dua siswa yang pintar di kelas mereka. Begitu juga dengan Ms.Diana, dia benar benar merasa bahagia melihat kebahagian semua siswanya yang hampir setengah tahun terakhir menjadi bahan bully oleh teman temannya yang berada dikelas lain yang lebih pintar dan unggul.