
Begitu Fazil memasuki kamarnya, dilihatnya Keni sudah berganti pakaian. Dia mengenakan gaun pemberian Fazil sesaat sebelum mereka menikah. Gaun itu sangat indah dan pas ditubuh Keni.
"Harusnya, aku membelikan gaun yang tidak ada cadarnya." Bisik Fazil mendekati Keni.
"Aku malu, aku takut…" Ucap Keni.
"Tidak usah malu sayang, aku mencintaimu setulus hatiku. Dan jangan takut, aku tidak akan memaksamu melakukan yang tidak kamu inginkan." Fazil semakin mendekat pada Keni.
"Aku mandi dulu, setelah itu kita sholat." Ucap Fazil sambil mengelus lembut kepala Keni yang masih terbungkus hijabnya.
Setelah mandi, Fazil pun sholat sunnah bersama dengan Keni. Keni melepas cadarnya saat sholat, tepat setelah Fazil mengucap takbir. Lalu, kembali memakai cadarnya setelah sholat selesai. Dan Fazil masih belum bisa melihat wajah Keni.
"Apa suamimu ini belum boleh melihat wajahmu?" Tanya Fazil lembut.
"Aku tidak cantik. Aku takut kamu kecewa setelah melihat wajahku." Ujar Keni sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Perlahan Fazil mendekati Keni. Lalu, digendongnya tubuh Keni dan diletakkan diatas tempat tidur. Kini mereka duduk saling berhadapan diatas kasur.
"Kalau kamu pikir aku akan kecewa karena wajahmu jelek, kamu salah. Karena jika itu benar, aku pasti tidak akan menikahimu karena aku belum pernah melihat wajahmu. Dan kalau kamu berpikir, aku hanya penasaran dengan wajahmu makanya aku menikahimu, kamu salah. Justru aku akan langsung membatalkan pertunangan saat bunda dan Rara melihat wajahmu." Jelas Fazil, lalu dia meraih dagu Keni yang masih tertutup cadar.
"Tapi, aku sangat takut." Keni mencoba menatap mata Fazil dengan berkaca kaca.
"Aku tidak akan memaksamu, sayang. Lebih baik kita tidur malam ini. Karena kita sama sama lelah setelah menjalani rangkaian acara pesta seharian penuh." Ajak Fazil.
Lalu, saat Fazil hendak merebahkan tubuhnya dikasur, Keni pun menarik tangannya dan membawa tangan Fazil untuk membuka cadarnya. "Kamu yakin?" Tanya Fazil sekali lagi.
Keni mengangguk yakin. Lalu, Fazil melapas cadar yang menyembunyikan wajah Keni selama ini. Dan begitu wajah Keni terlihat, Fazil terdiam. Air matanya menetes, lalu dia memeluk erat tubuh Keni.
"Kamu adalah bidadari surgaku. Kamu adalah doa doa yang selalu aku ucapkan disetiap sujudku. Aku sangat mencintaimu Keni Humairoh." Ucap Fazil tersedu sedu.
Keni tidak mengerti mengapa Fazil menangis dan apa maksud dari ucapannya. Yang pasti saat ini, Keni membalas pelukan itu dan mencoba menenangkan suami tercintanya.
__ADS_1
Sementara itu, di ruang depan. Feisal meminta bunda menjelaskan maksud perkataan Rara tentang wajah Keni yang diluar dugaan.
"Mungkin karena Keni terlalu cantik, bahkan saat tidak memakai riasan sama sekali diwajahnya. Makanya Rara bilang kecantikan Keni diluar dugaan. Mungkin." Jawab bunda.
"Jadi, Keni itu jelek atau cantik, bunda." Rengek Feisal yang penasaran.
"Kalau jelek kenapa? Kalau cantik kenapa?" Sambung Rara dari dapur.
"Mau jelek atau cantik, tidak masalah. Yang terpenting itu akhlaknya baik, agamanya baik dan patuh pada suaminya." Prince ikut memberikan pendapat.
"Iya, Ayah. Aku setuju kok dengan ucapan ayah. Tapi, aku hanya penasaran saja. Karena sebenarnya diam diam aku mengagumi wanita bercadar. Tapi aku tidak tahu siapa wanita itu. Takutnya, ternyata wanita itu adalah Keni." Tuturnya yang membuat semua terdiam dan menatapnya.
"Bunda yakin itu bukan Keni."
"Ayah juga yakin bukan Keni. Keni baru saja kembali ke Indonesia setelah delapan tahun menetap di Turki." Sambung Ayah.
__ADS_1
"Jangan mimpi deh, Fei. Keni itu nggak pernah keluar rumah selama berada di Indonesia. Jadi, nggak mungkin wanita yang kamu kagumi itu adalah Keni." Rara semakin memperjelasnya.
"Iya juga sih. Aaakkhhh terserah deh." Teriaknya prustasi. Dia benar benar penasaran pada wajah Keni.