Pear

Pear
Chapter 5 (1)


__ADS_3

"Duduk sini cepetan!" ulang Rafa yang tengah duduk di tepi kasur. Ia menggerakkan dagunya ke tempat yang dimaksud.


"Ngapain sih?"


"Ya sini makanya."


Vallen menurut, ia maju mendekati Rafa. Selama itu juga Rafa menatap Vallen lekat, sedangkan Vallen menaikkan alis untuk meminta penjelasan pada Rafa seperti 'mau apa lo?'


Merasa gadis itu lama berjalan layaknya gerakan slowmotion, akhirnya Rafa berdiri dan memegang pundak Vallen, langsunglah ia menjatuhkan istrinya itu.


Vallen menengadahkan wajah untuk melihat Rafa. Namun dengan segera Rafa memutar kursi di depan meja belajarnya, membuat tubuh Vallen jadi menghadap ke jendela.


Tidak mengerti tentang semua ini menjadikan Vallen hanya bisa mengerjapkan mata. Beberapa saat kemudian muncul sesuatu di depan matanya, bahkan sangat dekat hingga mata Vallen yang melihat benda tersebut jadi juling. Itu kalung perak yang ia beli tadi bersama Rafa, dan sudah ada cincin tergantung di sana.


"Pake sendiri bisa kan lo?" tanya Rafa yang tetiba menjatuhkan kalungnya, spontan tangan Vallen mencegah barang itu jatuh.


Kirain bakal dipakein! batin Vallen yang menengok ke belakang. Kemudian ia memutar kursi. "Yang lo udah dipake?" tanyanya sambil berusaha memasang kalung itu.


Tanpa banyak omong, Rafa mengeluarkan kalung hitam dari dalam kaosnya yang senada, benar saja di sana sudah ada cincin pernikahan mereka yang disangkutkan. Vallen mengangguk, dan selesai! Akhirnya kalung Vallen bisa terpasang dengan baik.

__ADS_1


Suara geluduk mengalihkan perhatian mereka, membuat mereka berdua seketika melihat langit di luar jendela. Sore ini mendung lagi, sama seperti hari kemarin.


"Kalo nanti malem ujan gimana?"


"Moga aja ngga," jawab Rafa yang tengah naik ke kasurnya.


***


Hari telah gelap dan yang seseorang lakukan di ruang tamunya adalah bermain gitar. Memetik senar dan membunyikan melodi dari lagu Anda yang judulnya Menghitung Hari. Setelah memainkan intro sampai verse, langsung ada yang bernyanyi reffnya dengan suara yang amat sangat subhanallah fals.


"Jangan pergiii dari cintaku ..."


"Biar semuaaa tahu adanya ..."


"Diriiimu memang punyaku-uuu."


Yang bernyanyi tambah tak benar karena suaranya keceklik di satu kata terakhir. Namun, Satria tetap geleng-geleng mendengarkan suaranya yang terdengar merdu di telinganya sendiri. Sedangkan Bayu yang menjadi pendengar lain di sana langsung melempar keripik singkong ke sumber suara. "Monyet aja suaranya lebih gak fals daripada lo!"


"Anjir, kan si monyet kagak nyanyi."

__ADS_1


"Ketebak aja kalo nyanyi bakal gak fals," jawab Bayu asal.


Tak peduli perdebatan dua orang ini, Devan tetap melanjutkan petikan gitarnya.


"Ciaelah, orang galau mah beda!" sindir Satria yang diikuti kekehan selanjutnya. Ia menyeruput minuman soda dalam kaleng, lalu menaik turunkan alis ke arah Bayu.


Bayu yang sudah berdamai dengan Devan tentang masalah menyentaknya tadi pindah sofa dan merangkul Devan. "Bro, daripada galau mending tik-tuk an," ujar cowok itu sambil menunjukkan sederet giginya.


Sayang, Devan tidak beralih dari gitarnya, membuat Bayu berdecak.


"Gak asik lo ah, Dev. Diem mulu," komen Satria yang sedang memainkan benda pipih warna hitam.


Devan menghentikan aktivitasnya dan menatap mereka berdua secara bergantian. "Marah salah, diem salah, mau lo pada apa?!"


Anjir, salah ngomong gue, batin Satria.


Devan berjalan ke kamarnya dengan membawa gitar. Meninggalkan Satria dan Bayu yang menaikkan bahu seolah berkata 'yaudahlah ya'.


"Yok ah berdua aja," ajak Satria yang memposisikan ponselnya di atas senderan kursi. Lagu pun mulai terputar.

__ADS_1


__ADS_2