Pear

Pear
Chapter 17 (2)


__ADS_3

Melihat keripik Vallen masih banyak, Rafa pun mengulurkan tangannya untuk mengambil makanan tersebut. Namun, tangan Vallen dengan cepat menekan kemasan yang menganga itu sampai-sampai tangan Rafa terjepit di dalamnya.


"Belum gue izinin!" bentaknya.


"Yang beli siapa?!"


"Gue."


"Uangnya dari mana?"


"Lo."


"Berarti punya siapa?"


"Gue."


Rafa berdecak dan menarik tangannya kembali. Kasihan sekali Rafa, kebaikannya malah dibalas begini oleh Vallen.


Cowok itu lalu mengalihkan perhatian dengan memainkan ponsel, ia berdiskusi dengan grup eskul olimnya untuk membahas demo eskul yang diselenggarakan minggu depan. Sialnya ekskul yang diketuai oleh dia belum menyiapkan apa pun, alasannya karena liburan kemarin para anggota takut menambah beban Rafa yang sedang berduka. Tapi bukannya diskusi sendiri, mereka malah tidak melakukan apa pun. Jadilah Rafa yang keteteran dan harus berpikir keras sekarang.


Melihat Rafa yang begitu serius membuat Vallen bingung memanggilnya. Ia pun menumpu wajah dengan kedua tangan di atas meja dan memiringkan kepalanya.


"Fa jelek ...," panggil Vallen. "Sttt stttt cuit cuiwww." Suara itu ia keluarkan secara manual karena tidak bisa bersiul.


Karena tidak mendapat respon, Vallen pun menoel-noel lengan Rafa dengan telunjuknya. "Fa jelek ...."


Masih gak mau noleh? Okey!

__ADS_1


Ia pun mempercepat toelannya yang tentu membuat lengan Rafa sakit.


Akhirnya itu membuahkan hasil, Rafa menoleh walau dengan tatapan yang kesal.


"Hm!" gumam Vallen seraya menyodorkan bungkus snack-nya. "Kan lo kemaren udah beliin gue sushi. A-bi-sin!"


"Udah gak mood," jawab Rafa singkat, dan ia fokus pada hp lagi.


"Yah ...." Vallen mencebikkan bibirnya. Namun ia tak terlalu ambil pusing masalah itu, ia melanjutkan lagi menjilat ice cream-nya sembari menikmati hujan.


Tanya nggak tanya nggak tanya nggak ..., tanya Vallen dalam hati, ini masih perihal Ina. Ia pun menjilat bibirnya untuk membersihkan noda cokelat yang barang kali menempel. Kemudian, iris cokelatnya kembali melihat Rafa. "Fa ...."


"Hm?"


Tanya nggak tanya nggak tanya NGGAK!


Rafa pun mematikan ponselnya, kemudian menengok ke Vallen a.k.a cewek yang tengah memandang hujan sekarang, padahal Rafa tahu Vallen cuma ingin mengalihkan pandangan dari dirinya saja.


"Val ...." panggil Rafa dengan nada yang amat serius.


Ia menyilangkan kedua tangannya di atas meja, mencari posisi yang enak untuk mengobrol.


Vallen melirik Rafa sebentar. "Kenapa?"


Cowok di samping Vallen ini makin memperdalam tatapannya pada gadis itu, saking fokusnya sampai ia sedikit memajukan tubuhnya dan memiringkan kepala. Seolah tidak mau melepas sedikit pun pemandangan wajah Vallen di pandangannya.


Vallen menelan ice cream-nya dengan gugup, tumben sekali cowok itu seperti ini.

__ADS_1


"Val ...," panggilnya lagi.


Kali ini Vallen membalas tatapan Rafa walau sedikit canggung.


"Apa?"


Rafa menggeleng kecil sambil memundurkan badannya.


"Gak jadi."


"Ih nyebelin! Apa gak?!" todongnya sembari menunjuk Rafa dengan wajah memberungut.


"Ya lo juga sama, orang yang udah manggil tapi bilang 'gak jadi' tuh nyebelin."


Vallen menggeram.


Selanjutnya mereka kembali menunggu hujan sambil melakukan kegiatan masing-masing. Cukup lama mereka di sana tapi hujan masih tidak kunjung berhenti. Memang sih sekarang sudah lebih kecil dari sebelumnya, tapi entah kapan ini akan berakhir.


"Fa, pulang sekarang yuk ...," ajak Vallen yang sudah kentara bosannya, ia merentangkan tangan di meja untuk menumpu kepalanya.


"Masih ujan."


"Gapapa, ayuk."


"Bawa jaket?"


Vallen menggeleng. "Ayo ah cepetan." Ia pun jalan duluan ke motor. Mereka akhirnya hujan-hujanan, mentok dilindungi oleh blazer yang merupakan bagian dari seragam SMA Arcturus.

__ADS_1


***


__ADS_2