
Saat melewati koridor laboratorium, Vallen melihat di depan sana ada dua orang yang sangat tidak asing, berjalan berlawanan arah dengan langkahnya. Mereka adalah Rafa dan Ina. Keduanya mengobrol tanpa henti bahkan tidak ada salah satunya yang melihat balik ke arah Vallen. Namun ternyata saat berpapasan, tepat ketika Rafa berjalan di sebelahnya, cowok itu menoleh. Sebentar sekali mata mereka bertemu, sebab Vallen segera melepas kontak mata dengannya.
Beberapa detik setelahnya, sampailah Vallen dan yang lain di taman belakang sekolah, taman sepi yang jarang juga ada orang ke sini. Tentu tujuan Shabil meminta latihan di tempat ini adalah agar penampilan mereka menjadi kejutan bagi semua orang.
Vallen pun menatap ragu seseorang yang berjalan ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan sang mantan.
"Tuhan masih ngasih kesempatan buat kita bareng lagi," ucap Devan disertai seulas senyumnya.
Vallen merutuki ini semua. Ia hanya ingin bebas dari jerat Devan, selain urusan karena Devan masih menjadi teman sekelasnya, Vallen sangat berharap tak ada relasi lain di luar itu. Ini sungguh menyiksa hatinya. Namun kenapa di eskul pun dirinya harus berakhir dengan Devan lagi?
***
Ina mendekati Rafa yang tengah memasukkan alat tulisnya ke dalam tas. "Abis ini lo mau ke mana?" tanya Ina pelan.
"Pulang," jawabnya dingin.
Gadis itu pun mengangguk sesaat sebelum melontarkan pertanyaannya lagi. "Fa gue boleh minta tolong?"
Rafa bergeming, ia menunggu Ina melanjutkan perkataannya.
"Anterin gue pulang ...," pintanya.
"Please, gue takut pulang sendiri," mohon cewek itu sembari menyatukan kedua tangan di depan dada.
__ADS_1
"Marvel ke mana?" tanya Rafa yang masih sibuk dengan tasnya. Tak lama dari itu, dirinya pun menatap Ina.
Ina menggeleng dan tentu hal tersebut bukan jawaban yang diinginkan Rafa.
"Anterin gue Fa ...," ulangnya kesekian kali.
Rafa diam, ia hanya memerhatikan wajah Ina yang terlihat sangat memohon.
"Yah?"
***
Meriah tepuk tangan menyudahi latihan hari ini, Vallen yang tadinya duduk sementara di rerumputan pun berdiri untuk beranjak ke UKS lagi. Namun, Devan menahan langkahnya.
"Val gue anter lo pulang yah."
"Gue takut lo balik lemes, trus kenapa-napa di jalan," khawatir Devan. Tak hanya dari suaranya, tatapannya pun sangat takut jika terjadi sesuatu pada Vallen.
"Gue gak lemes, Dev," tolak Vallen yang masih ia usahakan dengan lembut
"Val ... ayo bareng gue." Devan meraih pipi Vallen agar membuat gadis itu menghadap ke wajahnya.
"Gak mau ...."
__ADS_1
"Kenapa?"
Vallen menurunkan tangan Devan, tanpa menjawab hal tersebut, kakinya sudah melangkah meninggalkan tempat semula.
"Val ...," panggil Devan pelan tapi suaranya masih bisa Vallen dengar.
Devan membalikkan badan walau pun hanya punggung Vallen yang bisa dilihatnya. Kemudian ia menyiapkan dirinya sejenak untuk berkata suatu hal. "Vallen."
"Gue masih punya kesempatan?"
Ngga ada, Dev. Harusnya lo ngerti udah gak ada kesempatan buat lo.
Vallen melanjutkan langkahnya, tadinya hanya jalan cepat, tapi ia malah jadi berlari. Hatinya sesak mendengar itu. Bahkan Vallen terus membatin, mengucapkan inginnya bahwa Devan harus berhenti melakukan semuanya. Itu malah menyakiti dirinya sendiri, bahkan Vallen juga.
Seseorang pun mengejar Vallen, tapi bukan Devan, melainkan Chela.
Cewek itu sudah memperhatikan interaksi sahabatnya dengan Devan. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hingga mereka pun akhirnya menginjakkan kaki di UKS.
Chela memegang kusen pintu dengan napas yang sedikit tersengal. "Val lo sama Devan kenapa sih?"
"Gue gak bisa cerita sekarang," jawab Vallen cepat seraya bergegas mengambil tas hitamnya.
"Lo udah gak nganggep gue temen curhat lo? Val, gue emang bego, emang suka gak jelas, emang rada gila, gue cuma bisa care sama sahabat-sahabat gue. Kalo lo ada masalah bilang. Kalo lo ada apa-apa ngomong," tutur Chela panjang lebar. Ia merasa tidak dihargai jika begini caranya, Vallen dan Devan sudah terlihat mencurigakan sejak lama. Namun tak ada satu pun orang yang mengungkap mereka sedang kenapa. Chela tahu ini bukan urusan dia, tapi ia tak ingin sahabatnya hanya memendam masalah seorang diri. Ia percaya setiap manusia membutuhkan orang lain untuk berbagi keluh kesahnya.
__ADS_1
"Chela, sorry. Nanti gue bakal cerita, tapi buat sekarang gue gak siap ...," ucap Vallen sebelum akhirnya ia mengecek ponsel.
Di layarnya ada pesan yang masuk dari Rafa.