Pear

Pear
Chapter 14 (4)


__ADS_3

Vallen melamun sesampainya di parkiran, ia menatap motor sport Devan yang kaya akan kenangan mereka. Apa Vallen salah memutuskan ikut Devan? Padahal jelas kemarin Vallen sudah membuat kesepakatan dengan Rafa. Kesepakatan untuk berusaha mencintai cowok itu dan melupakan Devan. Kalau begini caranya apakah kesepakatan itu berjalan dengan mulus?


"Val ...," panggil Devan.


"Hm?" Vallen mengerjapkan matanya pelan, kemudian menerima barang yang Devan berikan, helm. Vallen memakainya sembari naik ke motor hitam merah tersebut.


Setelah itu, Devan menyalakan motor dan mulai meninggalkan parkiran sekolah, tapi mereka berpapasan dulu dengan Rafa dan Ina yang sepertinya akan pulang bersama, mungkin.


Saat melihat mereka, Vallen mengatur napas beserta emosi yang ada pada dirinya, bukan emosi marah melainkan hal lain yang sulit ia jelaskan juga. Vallen seperti tidak sadar dalam menjalani hidupnya sekarang, kenapa ini meleset jauh dari rencana? Vallen hanya ingin melanjutkan hidup dengan baik bersama Rafa, tapi kenapa jadi rumit?


***


"Iya, jadi gitar akustik gue dipake main kuda-kudaan," terang Devan yang membuat Vallen tertawa. "Jelas rusaklah, gak sadar badan tuh bocah."


"Menurut lo bagus yang mana Val, yang ini atau yang ini?" Devan mengangkat dua gitar yang menjadi pilihan teratasnya.


Vallen mengetukkan jari di dagu untuk berpikir, selanjutnya ia menyender ke tiang sambil menunjuk kecil dua pilihan. "Cap cip cup kembang kuncup."


"Pilih mana yang mau dicup!"


Devan menyipitkan matanya melihat telunjuk Vallen. "Gue?" tanyanya sambil terkekeh.


Vallen melotot dan melihat arah jarinya, iya sih karena gerakannya yang kecil jarinya kurang terlihat bergerak ke mana. Tapi bagi Vallen yang pikirannya searah dengan gerakan jari itu, tentu Vallen tahu jari tersebut berakhir di mana. Bukan Devan!


"Yang itu maksudnya!" protes gadis itu sembari menunjuk dengan jelas.


"Oh haha, yang ini? Kirain ...."


Devan menyimpan gitar lain yang tidak Vallen pilih. Kemudian ia memainkan gitar yang masih dipegangnya.

__ADS_1


Jreng ...


Dan kemudian Devan memainkan lagu Medusa yang dipopulerkan oleh Bring Me the Horizon. Lagunya termasuk deathcore yang sulit dimainkan, lihat saja jari tangan kiri Devan yang seakan menekan senar seperti rintik hujan yang deras. Vallen yang tidak mengerti gitar pun paham bahwa lagu ini sulit.


Melihat Devan yang seperti ini membuat Vallen lebih dari sekedar terpukau. Devan benar-benar keren. Aura seorang cowok yang sedang memainkan gitar dengan fokus itu sungguh menambah daya tarik serta amat memperlihatkan jiwa maskulinnya. Devan hebat, bahkan Vallen yang feminin pun bisa Devan bawa dalam dunia musiknya yang cukup keras seperti rock dan metal. Namun sebenarnya Vallen memang bisa masuk ke lagu mana saja sih, apalagi jika lagunya sudah diakustikkan. Vallen akan mudah menyesuaikan.


"Dev ...." Vallen menghentikan permainan Devan.


Cowok itu segera mendongak, melepaskan perhatiannya dari gitar. "Apa?"


"Jadi ... Rafa sama Ina tuh kenapa?" tanya Vallen.


Devan berjalan ke dekat Vallen, ia membungkuk agar dekat dengan telinga cewek itu. "Cie Vallen kepo!"


Jreng jreng!


Hanya itu, Devan tidak menjelaskan apa-apa. Pendusta!


***


"Rafa mana Vallen?"


Vallen ragu tapi ia tetap menghampiri Hilman karena takut dibilang tidak sopan. "Um ... Rafa tadi masih latihan basket Yah."


"Terus kamu pulang sama siapa?"


"Sama tukang ojek."


Hilman mengangguk, lalu lelaki itu memutar bahunya.

__ADS_1


"Ayah pegel? Vallen pijitin yah?"


Baru saja Hilman mau menolak, tapi Vallen keburu duduk dan menyuruh mertuanya membelakanginya. Gadis itu pun dengan telaten mulai memijit. Sangat enak bahkan sampai Hilman ingin tertidur karena nyaman.


"Nanti ayah marahi Rafa karna tidak antar kamu pulang!"


Vallen menggeleng cepat sekali pun Hilman tak lihat. "Ja-jangan ... Tadi Rafa juga kok Yah yang pesenin sama bayarin ojeknya. Rafa udah tanggung jawab," bela Vallen padahal semua kalimat itu bohong. Ia memesan ojek online-nya sendiri sepulang Devan mengantarnya ke rumah lama.


"Ah, syukurlah. Ayah kadang tidak percaya anak itu bisa menjagamu dengan baik."


Vallen tertawa pelan serta berkata bahwa Hilman tak perlu khawatir.


Ckrek ....


Pintu utama dibuka oleh seseorang. Hilman bisa langsung melihat orang itu karena tubuhnya tepat menghadap ke sana, sedang Vallen terhalang oleh punggung pria itu.


"Vallen, sudah," katanya agar gadis itu menyudahi pijitan.


Vallen pun mengangguk dan memiringkan kepala, mengintip siapa yang datang.


Rafa.


Apa dia akan marah karena Vallen pergi dengan Devan?


Atau malah tidak peduli sama sekali?


🍐 Bersambung ....


...✨ Jangan lupa vommentnya gaisss ☺️...

__ADS_1


...Makasih ✨...


__ADS_2