Pear

Pear
72


__ADS_3

Lagi, air mata itu keluar dari matanya, sebuah air mata penyesalan yang mungkin hanya bisa hilang saat keadaan Devan kembali seperti semula. Meski hatinya kacau, Vallen tetap menuntaskan mengobatinya dengan menutup luka menggunakan kapas dan plester. Setelah selesai, ia langsung menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan yang ada di atas kursi, berusaha menyelesaikan rasa sedihnya dengan membiarkan air mata itu keluar entah untuk berapa lama lagi.


Satu hal yang tidak Vallen tahu, padahal bagi Devan, rasa perih pada lukanya seakan lenyap saat ia memeluk Vallen tadi.


"Val ...," panggil Devan.


"Bego banget ... ngiket tali aja gak becus! Hiks." Vallen terus menggerutu menyalahkan dirinya sendiri.


"Lo gak bego ...."


"Gue bego Devan ...." Dan setelah mengucapkan itu, Vallen malah semakin terisak.


Tentu seorang Devan tak akan pernah tega melihat Vallen begini, maka dari itu ia pun mengusap kepala Vallen, juga memberitahunya bahwa ia tak apa dan luka yang terbentuk adalah masalah kecil baginya. Ya, tak ada yang tahu jika masalah hidupnya lebih besar berkali-kali lipat daripada luka begini saja.


"Devan g-gue minta maaf ...." Vallen mengangkat wajahnya untuk menatap mantannya itu.


Devan tersenyum kemudian mengusap air mata Vallen. "It's okay, Val."


"Gue b-bakal rawat lo sampe luka lo ilang," tutur Vallen sebagai bentuk tanggung jawabnya.


"Harusnya Panglima yang rawat Putri." Devan terkekeh kecil sembari merapikan rambut Vallen yang berantakan. "Udah jangan nangis."

__ADS_1


"Mmm," rengek Vallen yang tangisnya mulai mereda. Hati Vallen menghangat saat Devan berkata seperti itu. Astaga, kenapa cowok ini mudah sekali membuatnya terombang-ambing dalam gelombang yang tak jelas?


"Nonton demo eskul lain yuk!" ajak Devan.


"Hm? Ayo."


Devan bangkit dari duduknya, kemudian tangan Vallen langsung melingkar ke belakang tubuhnya, cewek itu memegang pinggang Devan. "Gue bantu lo jalan ...." kata Vallen dengan suaranya yang parau.


Devan mengangguk, lantas merangkul Vallen, membiarkan gadis ini memapahnya sekali pun ia masih bisa berjalan sendiri, tapi ya ... tak dapat dipungkiri bahwa luka di lututnya cukup perih juga.


Keduanya pun berjalan sampai ke depan kelas mereka sendiri di mana memang ada kursi keramik yang menghadap ke lapangan langsung.


Di pinggir mereka sudah ada Chela dan Nasya, mereka memegang smoke bomb yang mungkin tidak dinyalakan saat penampilan tadi. Chela pun malah menyalakannya padahal ini sedang di koridor, membuat abu jingga menyebar dan ia tak peduli dengan manusia-manusia di sekitar yang sesak saat menghirupnya.


"Oh My God, Devan kenapa?!" tanya Nasya heboh, laknat, Vallen kira gadis itu akan menanyakan tentang dirinya.


"Gue gapapa kok," jawab Devan ramah, ia masih menyelipkan senyum di akhirnya.


"Val?" Nasya kembali bertanya karena merasa Devan tidak mungkin 'gapapa' dengan luka sebanyak itu.


Namun alih-alih Vallen menjawab, malah Devan lah yang kembali bicara. "Gapapa, Nasy."

__ADS_1


Nasya menyengir pada Devan karena malu sendiri. "Ya udah, pokoknya cepet sembuh ya Dev!"


Devan mengangguk.


Chela menatap Vallen dan Devan dengan aneh, ia tahu mereka sudah putus, lantas kenapa mereka masih saja bersama? Dekat seperti sekarang. Gadis itu pun menanyakannya pada Vallen hanya lewat gerakan kepala seolah bilang 'kenapa ada Devan di sebelah lo?', dan sekarang tugas Vallen lah untuk memahami pesan yang dimaksud Chela.


Baiklah, percuma, Vallen hanya menggeleng dan Chela tak mengerti karena itu mempunyai banyak arti.


"Foto yuk Val!" ajak Chela yang mencoba mengabaikan saja masalah Vallen-Devan.


"Bau ah, gak suka asep," kata Vallen seraya mengibaskan tangannya di depan muka.


"Yah, mumpung ada ini dahal, kan bisa aesthetic gituuu."


"Gak ikutan dulu deh Chel."


"Ya udah iya."


"YAH YAH YAHHH ABIS!" ribut Nasya sambil menatap sedih asap yang menipis dan akhirnya hilang itu.


Chela ikut kecewa, tapi ia berusaha menangkap bubuk-bubuk kecil di udara. Percuma!

__ADS_1


Vallen tertawa melihat kelakuan sahabatnya. Dan di sebelah gadis itu, Devan senang melihat Vallen yang ceria.


Terus gini Val, udah lama gue gak liat lo ketawa di deket gue.


__ADS_2