Pear

Pear
154


__ADS_3

Tangan Rafa terangkat dan melayang di udara untuk menggapai rambut Vallen, kemudian ia selipkan helaian rambut istrinya itu ke belakang telinga. Pandangannya lalu fokus lagi pada mata Vallen.


"Lo ...."


"Apa?"


"Kenapa lo setuju kita tunangan?" tanya Rafa yang langsung membuat Vallen tercengang.


"Hmmm. Mau tau?"


"Um." Rafa mengangguk.


Lalu senyum Vallen pun mengembang. "Cie kepo ...," ledeknya sembari menunjuk-nunjuk Rafa.


"Gue nanya karena ... gue punya alesan lain kenapa nurutin permintaan bunda. Di dunia ini, mau gimana pun keadaannya, kita tetep masih punya kesempatan buat milih. Dan kalo lo percaya gue nurut tunangan gitu aja karna Bunda yang minta, gak gitu ceritanya," tutur Rafa panjang. Hal itu berhasil membuat perhatian Vallen jadi lebih serius.


"Trus alesannya apa, Fa?"


"Cie kepo juga ...," balas Rafa seraya terkekeh, sedangkan Vallen segera menekuk mukanya, kesal.


Pintu pun dibuka, Bi Adab masuk sambil membawa makanan berupa steak, sayur rebus, kentang tumbuk, saus, dan tak lupa minumannya juga.


"Selamat dinner, Non, Den."


"Makasih, Bi," ucap mereka serentak.

__ADS_1


Setelah Bi Adab keluar kamar. Rafa melihat Vallen yang diam. "Jangan cemberut, nanti gue panggil 'Val Jelek' mau?"


Vallen langsung menggeram dan bilang, "Gak mau!"


Mereka berdua kemudian fokus pada makanan masing-masing. Namun, Vallen kembali memecah keheningan.


"Eh Fa. Lusa ada final ulang di Canopus."


"Udah tau," balas Rafa seraya menusuk sayur rebusnya.


"Gue izin buat ikut nonton ya?" tanya Vallen sembari memiringkan wajah untuk menatap Rafa yang sedang menunduk melahap makanannya.


Rafa melirik Vallen tanpa menyambi untuk mengunyah. Otaknya lalu berpikir, ia ingin melarang gadis itu untuk pergi, tapi ... pada akhirnya Rafa mengangguk.


***


"Vitamin lo udah diminum, Dev?" tanya Vallen saat mereka berdua ada di mobil. Gadis itu jadi mengetahui banyak tentang mantannya ini, sebab Devan pun bercerita seringkali ia harus meminum vitamin saat merasa lelah atau hendak melakukan aktivitas yang cukup berat. Salah satu contohnya saja saat pertandingan basket di Arcturus beberapa minggu lalu, cowok itu memisahkan diri dari yang lain saat melakukan pemanasan hanya untuk meminum vitaminnya.


"Udah," jawab Devan yang tengah menyetir.


Penasaran, Vallen tiba-tiba memegang kening Devan untuk mengecek panas tubuhnya. Kemudian ia samakan dengan suhunya. Dirasa tidak jauh berbeda, Vallen pun menyimpulkan Devan baik-baik saja.


"Kalo gak kuat bilang ya, Dev!" peringatnya.


Devan melirik sejenak ke arahnya sebelum mengangguk.

__ADS_1


***


Devan dan Vallen berjalan di area SMA Canopus, mereka hendak menemui teman-temannya yang katanya masih berada di parkiran motor. Namun, belum sampai tempat yang dimaksud pun, keduanya sudah bertemu dengan yang lain.


"Bisa, Bro!!!" optimis Satria dengan semangat berkoar-koar sembari menghadapkan tangannya di depan Devan.


Devan pun meraihnya hingga mereka ber-high five. Cowok itu menarik napas dalam seraya melihat wilayah dalam SMA Canopus, dirinya sedang mempersiapkan mental sebelum melangkah lebih jauh.


Setelah yakin, Devan mulai berjalan dengan diikuti oleh yang lain.


Saat memasuki area lapang, sebuah bola tiba-tiba memantul di depan Devan. Yang kaget tak hanya dia, melainkan Vallen juga yang ada di sebelahnya.


"Gen!" panggil seorang cowok yang mem-bounce pass bola tersebut agar temannya mengambil.


"Gak sopan banget sih lo!" protes Vallen. Dirinya menganggap cowok tersebut tidak menghargai kedatangan mereka ke sini.


Cowok itu—Erkan—hanya menatap sinis pada Vallen sebelum akhirnya berlari menghampiri temannya.


"Sumpah, ngeselin banget sih!" caci Vallen.


"Untung ganteng," gumam Nasya.


Panitia pun datang menghampiri mereka dan mengarahkan ke satu kelas yang bisa mereka pakai untuk bersiap.


***

__ADS_1


__ADS_2