Pear

Pear
92


__ADS_3

Rafa menurunkan pandangannya, lalu menatap ke kanan-kiri bawah.


"Ih kok pada gak jawab?" Vallen menaikkan bibir bawahnya hingga membentuk raut kecewa di wajah cantiknya.


"Aden aja yang jelasin ya? Permisi, Bibi keluar dulu." Bi Adab membungkuk sekilas sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan.


Rafa pun berjalan ke meja belajarnya lagi. "Pokoknya jangan turun dulu," peringatnya sambil membuka buku.


"Iya tapi karena ada apa?"


Rafa membasahi bibirnya, lantas menatap mata Vallen. "Um, ada temennya ayah," alasannya.


"Oh, oke."


Vallen membawa buku tulis Rafa sambil menaiki kasur, ia memutuskan untuk membacanya agar tetap tidak ketinggalan pelajaran.


***


"Nah sekolah juga tuh anak!" kata Satria yang melihat Devan dari kaca spion. Cowok itu sedang bersama Bayu yang secara tidak sengaja motor mereka bertemu saat di gerbang tadi.


Bayu dan Devan pun bersalaman tangan. "Kok gak masuk?" tanya yang baru datang.


"Si Satria ngaca terus!"


"Yeee gue kan orangnya perfeksionis. Rambut gue harus baris dengan rapi tiap helainya," ujar Satria sok banget. Ia menyisir rambut model the middle part-nya menggunakan tangan dan benar saja per helainya pun ia tata sampai rapi.


"Anj*r gitu mah kapan beresnya!" tuding Bayu mulai geram.


Satria malah tertawa mendengar nada kesalnya, diikuti oleh Devan yang cengengesan sambil menyimpan helm.

__ADS_1


"Lo kemaren kemana Dev?" Bayu bertanya penasaran.


"Ga kemana-mana"


"Dusta!" Satria menunjuk Devan didramatisir. "Kemaren kita ke rumah lo, gak ada tuh."


"Lagi makan di luar kali."


"Lah kita tungguin dari sore nyampe malem juga!" komentar Bayu.


Devan diam, tapi kemudian tertawa garing.


"Gak ada kerjaan dah lo pada!"


"Heh Devan Mahesa Anggara, itu ada bentuk kepedulian kita sama King of Arcturus," ucap Satria lebay seraya menaikkan jempol dan telunjuknya ke udara, seolah sedang mencapit sesuatu, padahal untuk mengeja panggilan Devan. 


"Dev, lo sebenernya ngapain sih selama ini?" Bayu masuk lagi dalam pembicaraan.


"Kalo gitu, brarti alesan lo bolos kemaren karna ... Vallen?"


"Hah?"


"Vallen sakit kemaren, lo apain anjir?" tanya Satria tak habis pikir.


Devan menoyor kepala sahabatnya itu karena menuduh seenak dengkulnya. "Apain palalu somplak! Jangan nuduh sembarangan."


Motor Rafa pun datang.


Satria yang memerhatikan wajah datarnya segera bicara dengan nada orang ceramah. "Fa, sambutlah dunia dengan senyuman! Karena dengan begitu harimu akan jadi lebih bahagia."

__ADS_1


"Berisik anjig dari tadi lo, Sat!" ketus Bayu.


"Lo ngegas mulu daritadi!"


"Lo berisik kayak cewek!"


"Lo ngomel terus kayak emak-emak komplek!"


"Bangs*t!"


Devan dan Rafa bertatap muka melihat kedua temannya malah debat. Mereka pun memisahkannya dengan Devan yang merangkul Bayu, dan Rafa yang merangkul Satria. Kemudian keempat cowok itu berjalan menuju kelas.


"Banci rombeng!"


"Emak-emak girang!"


"Udah woy!" kata Devan seraya mendorong kepala Bayu agar tidak lagi menatap Satria. Begitu pula yang dilakukan Rafa.


Di persimpangan, mereka berpapasan dengan Vallen. Mata Devan pun memandang mantannya penuh arti, sedangkan Vallen berusaha menghindari tautan mata mereka.


"Pagi Vallen Cantik ...," sapa Satria genit.


Vallen melirik laki-laki tersebut dari ujung mata, melihat wajah sok baiknya yang malah membuat dia muak. "Bicit!" tukasnya, lalu berjalan dengan langkah cepat.


Sesaat Satria termangu, kemudian ia mengelus dadanya sambil geleng-geleng kepala. "Gue ganteng, gue sabar!"


Mendengar ucapan Satria tadi membuat ketiga sahabatnya melirik.


"Bacot!" kata mereka serempak seraya meninggalkan dia.

__ADS_1


"APA SALAH DAN DOSAKU SAYANG!"


***


__ADS_2