
“Dev, kalo mau makan bilang-bilang aja,” ujar Satria yang sedang bermain game online bersama Bayu.
“Ya,” jawab Devan yang gabut tak tahu mau melakukan apa.
Menoleh, ia akhirnya memutuskan untuk bangkit dari duduknya dan menjauhi meja berpayung bundar yang menjadi spot sebelumnya. Pandangan Devan berfokus pada sebuah bibit tanaman yang tingginya sudah lebih dari 1 meter.
Sesampainya di sana, ia langsung duduk di tepian pot semen yang ukurannya memang cukup lebar, mengangkat satu kaki, dan mengambil plang nama tanaman yang sudah sompek.
Satu tahun lalu ....
Suara ketukan sepatu jelas terdengar di arah tangga. Tak hanya seorang, nyatanya ada dua orang di sana, Vallen dan Devan. Setelah dipersilahkan oleh guru biologi untuk berpencar memilih tempat menanam, keduanya langsung menuju tempat yang telah disepakati.
Sebelum hari ini tiba, Devan sudah lebih dulu meminta izin pada gardener sekolah untuk mengganti tanaman yang ada di salah satu pot semen rooftop dengan tanaman yang dibelinya. Bukan tanpa alasan, pasalnya tanaman itu sudah cukup layu dan sebentar lagi mungkin mati.
Sesampainya di rooftop, Devan dan Vallen senang karena ada sekop yang sepertinya sengaja ditinggal di atas gundukan tanah. Padahal, hampir saja salah satu dari mereka turun ke bawah untuk meminjam sekop.
“Biar gue yang gali Val,” kata Devan seraya melipat lengan bajunya sampai siku.
“Semangat!” teriak Vallen dengan wajahnya yang sumringah. Dua tangannya masih memegang plastik hitam yang membungkus bagian bawah tanaman.
“Iya, Sayang ... eh, Vallen, eh ....” Devan terkekeh karena bingung harus memanggil kekasihnya apa. Mereka baru dua hari jadian dan masih belum membuat nama panggilan untuk sama lainnya.
Vallen ikut tertawa tanpa peduli pipinya yang memerah karena ucapan lelaki itu. “Bisa tunda dulu gak? Kasian tanemannya butuh tempat.”
“Iya iya, hahaha.”
Seusai Devan menggali, Vallen langsung melepas plastik dan menempatkan bibit pohon peach-nya di atas tanah. Keduanya lalu mendorong tanah untuk mengubur akarnya.
“Yeee, beres!” Vallen mengangkat tangan kanan dengan telapak yang menghadap Devan. Tentu, Devan menyambut ajakan ber-high five itu. Namun, yang terjadi saat mereka bertos adalah tangan kiri Vallen tiba-tiba memegang pipi Devan.
“Val ....” panggil Devan pelan.
Vallen tertawa tanpa suara. “Iya, Sayang? eh Devan?”
__ADS_1
“Tangan lo kotor?”
Vallen mengangguk dan menyemburkan tawanya. “Iyalah, kan abis megang tanah!”
“Jail yah ....”
Sebelum Devan membalas, Vallen sudah berlari untuk menghindar.
“Val, sini deh, liat ini gue bawa apaan,” pancing Devan sambil berjalan.
Vallen menoleh sehingga kecepatan larinya berkurang. “Gak mau!”
Melihat kesempatan, Devan pun menyusulnya dengan berlari kencang. Refleks, Vallen menjauh lagi. “Devannn, jangan ngedeket! Tangan lo lebih kotor dari tangan gue!”
“Salah siapa jailin gue hah?” Devan tersenyum miring. Meraih tangan Vallen, lelaki itu langsung berusaha menyentuh wajah pacarnya.
Vallen tertawa sambil menghindar. “Aaaa, Devan gak mau!”
“Yang mulai siapa?”
Vallen berjongkok untuk menghalangi wajahnya, tapi tangan Devan malah terjepit dan punya akses memegang pipinya.
“Kotor Devannn,” omel Vallen.
Dirasa sudah cukup, Devan pun menjauhkan tangan dari diri Vallen.
Vallen berdiri dan berbalik badan, memandang Devan sembari mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Melihat wajah Vallen yang kotor, Devan jadi tertawa kencang. “Perasaan gue cuma megang pipi lo, Val!”
“Pipi pipi, semuka-muka lo pegang!” kesalnya.
“Sorry .... Cemongin gue lagi sini. Biar impas.”
Vallen tersenyum.
__ADS_1
Ia langsung mendekat dan berjinjit, mengusap setiap sudut wajah Devan dengan tangannya.
“Udah?” tanya Devan.
“Udah,” jawab Vallen.
“Eh iya Dev, tanamannya kasih penanda yuk.”
“Pake apa?”
Vallen menunjuk tumpukan kayu di sudut rooftop. Devan lalu mengangguk.
Berjalan ke sana, mereka berdua kemudian mengambil bahan dan merangkainya seperti huruf T, kebetulan juga di sana ada beberapa paku. Setelah selesai, Vallen pun mulai menulisinya menggunakan spidol kelas yang ia bawa.
...Pohon peach ini milik Devan dan Vallen, ditanam pada 18 September ****...
...Tertanda,...
...Devan Vallen...
Setelah ditandatangani keduanya, Devan pun menancapkan itu di tanah.
“Pohon, tumbuh yang besar ya, sampe berbuah banyak! Biar nanti buahnya bisa Devan sama Vallen makan!” kata Vallen sebelum kembali ke kelas.
“Aamiin, Val. Tapi pohonnya gak layu aja udah syukur,” kata Devan sambil tertawa kecil.
“Ya gada salahnya juga kan berharap sampe berbuah ...,” respon Vallen yang ikut terkekeh.
Devan tersenyum mengingat kenangan yang tak dapat diulang itu. Baiklah, lupakan sejenak. Sekarang adalah waktunya mencari kayu lain sebagai palu ala-ala untuk membenarkan plang.
Setelah memaku dan membuat plangnya kembali ke bentuk setahun lalu, Devan mulai bersantai dan menghirup napas kuat. Di waktu seperti ini lagi-lagi banyak hal melingkupi pikirannya.
Devan kembali mengingat tugas dia dan Vallen yang belum usai, bukan tentang lagu yang disuruh Pak Gabud, melainkan mencari nama yang bisa dijadikan sebagai tersangka atas tragedi keracunan Rafa. Berpikir, saat satu nama tiba-tiba terbesit, Devan langsung menancapkan sisa paku ke bagian vertikal plang, lalu menariknya hingga kayu tergores.
__ADS_1
Sebuah nama pun tertulis, tapi sejujurnya Devan kurang yakin apakah orang itu yang sempat Vallen foto meski blur. Sepertinya bukan dia.
***