Pear

Pear
Chapter 4 (1)


__ADS_3

Rafa berjalan ke arah nakas yang dekat dengan keberadaan Vallen, lalu mengambil gelas berisi air mineral miliknya. Setelah meneguk sampai gelas itu kosong, Rafa melirik ke arah cewek tersebut.


"Bo ..., lo diapain sama Devan?"


Mendengar itu, Vallen langsung membalikkan wajahnya ke kanan, masih dengan posisi tengkurapnya. Sudah setengah jam berlalu, tapi hatinya masih saja merasa sesak, pun dengan air mata yang tak hentinya turun.


"Heh Vallen kebo, gue lagi nanya sama lo."


"Ck, berisik Rafa!" omel Vallen.


"Lebih berisik hp lo tuh, ga berhenti geter daritadi. Nonaktifin dulu kek kalo gak mau ada yang hubungin." Rafa menggerakkan dagunya ke arah tas Vallen sekali pun gadis itu tak lihat. Setelah itu, Rafa menyimpan kembali gelasnya dan tiba-tiba ponselnya bergetar banyak, sepertinya sinyal dia tadi sempat menghilang, dan saat datang langsung banyak pesan yang masuk.


Tahunya notifikasi Rafa dipenuhi oleh pesan dari grup "Cogan Arcturus", siapa lagi kalo isinya bukan geng Rafa yang hanya terdiri dari 4 orang, yakni Rafa, Devan, Satria, dan Bayu. Arcturus adalah nama SMA mereka yang ada di Kota Kembang ini, sedangkan yang memberi nama 'cogan' sendiri adalah Satria.


Ibu jari Rafa bergerak ke atas untuk menge-scroll chat. Seusainya membaca pesan-pesan di layar, akhirnya cowok itu paham sesuatu.


Rafa kembali mematikan ponselnya dan hanya berkata, "Oh."


Pegal berdiri, cowok itu duduk dengan bertumpu sedikit ke ujung nakas, takut-takut jika duduk betulan nakasnya malah roboh. "Kenapa diputusin?"


Vallen yang geram merubah posisinya menjadi duduk, ia kemudian menatap Rafa dengan keadaan rambut dia yang berantakan. Gadis itu langsung melempar bantal yang sedaritadi di peluknya ke Rafa. "Ya lo pikir aja, emang gue cewek apaan yang udah nikah tapi masih pacaran sama cowok lain?! Hiks ...."


"Oh. Demi gue," ucap Rafa percaya diri.


"Ih, males!!! Demi nama baik gue tau!" Vallen kembali memajukan bibir bawahnya, kemudian menutup muka dengan tangan karena menangis lagi.

__ADS_1


Rafa menjeling. "Muka lo udah kayak kepiting rebus."


Vallen tetap menangis.


"Ralat, kebo rebus lo mah."


"Rafa gak lucu! Hiks ...."


Cowok itu menghela napas, kemudian mengambil tisu di dalam laci. Ia merobek plastik bagian atas tengahnya, lalu memberi itu pada Vallen.


"Udahlah ...." Rafa mendudukkan pantatnya di kasur.


Vallen merasa tangannya diketuk oleh sejenis bahan plastik, ia pun menurunkan kedua tangannya dan menemukan sebungkus tisu. Bukannya diambil semua, cewek itu malah mengambil beberapa lembar saja dari tangan Rafa. "Devan baik banget. Gue gak tega."


"Terus lo pikir gue gak baik gitu?" tanya Rafa sedikit ketus.


"Jorok, lo!"


"Bodo!"


Dengan tangis yang sudah mereda, tapi muka masih merah, Vallen melihat Rafa dengan sisa segukannya. "Rafa, laper ...."


Rafa menaikkan kedua alisnya. "Gak ada makanan. Yang lain juga masih di rumah eyang. Bikin mie aja kalo mau. Bikinin yang gue juga!"


"Hiks ... Yaudah."

__ADS_1


Vallen turun dari kasur.


"Heh! Tisunya buangin dulu!"


"Nanti, hiks ...."


Rafa memutar bola matanya, kemudian mengikuti langkah Vallen.


Sesampainya di dapur, Vallen langsung membuka kulkas, membuka kabinet atas dan bawah, menyapu pandangannya ke sepanjang meja yang ada kompor tertanam di sana. Kemudian berbalik badan menghadap Rafa.


"Sedih banget Fa, pada kosong. Tapi masih untung sih ada dua mie instan sama satu telor." Vallen menautkan kedua alisnya miris sembari mengangkat barang temuannya. Air matanya sudah ia seka selama menuruni tangga tadi. Rambutnya juga sudah Vallen ikat dengan cukup baik, membuat dirinya tidak terlalu terlihat kusut.


"Telornya buat gue!" Rafa menunjuk ke arah telor itu saat dirinya sudah duduk di depan meja makan.


Vallen tertawa paksa. "Hahah, gimana? Buat lo? Orang gue yang nemu, gue yang masak juga."


"Harus nurut sama suami."


"Gue laper, Fa."


"Ya lo pikir gue nggak?"


"Ish tega banget sih lo. Gue nangis lagi nih."


"Gak duli!"

__ADS_1


"Ih!"


Vallen kecewa, tapi tangannya tetap bergerak untuk mengambil panci dan mendidihkan air, setelah itu dimasukkannya dua mie instan tersebut beserta telur yang sudah dipecahkan tentunya.


__ADS_2