Pear

Pear
75


__ADS_3

Rafa menghela napas sebentar, kemudian tangannya melayang untuk mengambil balok merah. Namun belum saja sampai, pandangan Rafa sudah berbelok ke arah Vallen yang tengah fokus meniup-niup uno stacko-nya.


"Sttt!" desut Rafa agar Vallen berhenti.


Gadis itu pun mengulum bibir dan berdoa bahwa Rafa lah yang akan menghancurkan susunan baloknya.


Jatoh, jatoh, jatoh! harap Vallen.


Dalam sekejap Rafa menarik baloknya, membuat Vallen tercengang karena cowok itu tidak menambah pergeseran yang cukup berarti dalam susunan. Vallen mendengus kemudian mulai bermain.


Perlahan Vallen mengambil balok yang dipinggir, ia gerak-gerakkan sesaat agar balok itu bisa keluar. Namun semakin bergerak, tumpukan di atasnya pun makin bergeser. Vallen menautkan alis karena khawatir, ia kemudian melepas baloknya dulu lantas mengambil napas dan menghembuskannya pelan.


Saat hendak memegangnya lagi ...


Srakkkk ....

__ADS_1


Tak ada angin tak ada hujan balok langsung jatuh berserakan. Seketika Satria terbahak melihat Vallen. Kasihan dia, tangannya belum menggapai tapi yang digapai sudah hilang.


Raut kecewa seketika muncul di wajahnya.


Bayu menghadap arah lain untuk terkekeh, ia merasa ini karma Vallen karena tadi meniup saat giliran Rafa, beda halnya dengan Devan yang terang-terangan tertawa menghadap Vallen.


"Aaaaa ...," renyeh Vallen sembari menatap Devan.


"Vallen ... Vallen." Devan merangkul Vallen dan mengusap punggungnya untuk memberi kekuatan atas kalahnya dia di permainan ini.


"Berisik! Abis ini juga lo yang kalah."


Satria menatap Vallen kala menyusun baloknya kembali. "Liat aja, gue yang jadi juara 1 nya!"


"Hilih bicit," ledek Vallen sembari menyenderkan punggungnya ke kaki sofa.

__ADS_1


Kemudian para cowok itu bermain kembali dan Vallen hanya memperhatikannya. Sesekali Vallen bermain hp untuk menghilangkan kejenuhan, tapi lama-lama bosannya tambah parah. Ia pun naik ke sofa seraya menyilangkan tangan di depan dada. Mengetukkan jari ke tangannya sendiri. Kemudian pandangan Vallen teralih ke luar pintu kaca. Ia tertarik untuk ke sana.


Vallen pun merangkak di sofa yang bawah depannya tidak ada Devan dan Rafa, kemudian ia berjalan menuju balkon.


"Awas lo malah loncat!" teriak Satria memperingati.


"Nggaklah!"


Vallen menutup pintu kaca setelah ia berhasil keluar. Dirinya pun disambut oleh angin siang ini. Kaki Vallen melangkah hingga ujung jarinya menyentuh pembatas balkon. Kepalanya menengadah menatap langit yang sudah tak begitu terang oleh matahari, cahayanya cukup redup seperti mau hujan.


Vallen merentangkangkan tangannya di atas pagar balkon setinggi dada seraya menghela napas panjang. Kemudian ia menekuk kedua tangannya, menyimpan telapak tangan satu di atas punggung tangan lainnya. Lalu kepalanya mulai turun hingga dagunya menempel di sana.


Gadis itu berpikir banyak hal sambil melihat pemandangan di bawah apartemen. Anehnya, kali ini sungguh dipenuhi topik tentang Rafa. Cowok menyebalkan itu pelan-pelan mulai memasuki pemikirannya, mulai membuat Vallen kebingungan tentang mereka, mulai membuat resah, dan mulai membuatnya sering merasakan kesal, tapi bukan karena perlakuan dia pada Vallen.


Apakah benar dirinya benar-benar cemburu pada Ina adalah hal yang Vallen tidak mengerti juga.

__ADS_1


Saat melamun begitu, tiba-tiba ada tangan yang menyentuh leher Vallen yang membuatnya spontan menaikkan bahu karena geli. Sang pelaku terkekeh kecil melihat wajah kaget cewek itu. Ia pun berdiri di sebelah kirinya.


__ADS_2