Pear

Pear
Chapter 8 (2)


__ADS_3

Gerbang SMA Arcturus telah dipenuhi murid yang lalu-lalang, baru sampai di sini saja senyum di hati Vallen sudah merekah. Sungguh, gadis itu merindukan sekolah.


Ia terus berjalan sendirian. Hingga pada akhirnya Vallen seperti jomblo kebingungan karena tidak menemukan anak kelasnya di antara ratusan murid yang memenuhi lapang.


Kemudian ia minggir dulu ke pelataran ruang guru agar tidak terdorong-dorong oleh murid yang jalan di belakang. Segera, cewek itu mengecek hp dan menemukan pesan:


Nasya


Woy, gue tunggu di bawah pohon beringin! Lapang penuh bat, pusinggg (emot mual)


Vallen menahan tawanya, ini Nasya selama liburan jadi penghuni pohon sekolah apa gimana dah. Di antara banyaknya spot, malah nunggu di bawah pohon.


Langsung saja ia menghampiri Nasya ke tempat yang dimaksud, dan berharap sahabatnya itu tak mengalami apa-apa. Kejang karena ketemu ulet bulu misal?


"Nasya!"


"Vallen!!!"


Dan mereka pun berpelukan kayak Pikachu, lah kok? Oh Teletubbies maksudnya.


"Val, ini keknya cuma pengumuman kelas dulu deh, jadi mau gak beraturan barisnya juga gapapa. Upacaranya mulai abis kita nyimpen tas di kelas baru," jelas Nasya. Vallen mengangguk paham.


"Chela belum dateng?"


"Belum, terakhir ditelepon katanya masih di jalan."


... Selanjutnya, kelas XII IPA 3 menempati ruang 84 ...


Vallen dan Nasya bertatapan, kemudian langsung berlari.


"Gue tau kelasnya di mana!" teriak Vallen yang membelah lautan murid.

__ADS_1


"Gue nyampe duluan!"


"Yang kalah traktir seblak!" Vallen mempercepat larinya.


Nasya ikut menyusul. "Gue harus meeenang!"


Dan kemudian Vallen meloncat di ambang pintu. "Finish! Seblak sesuai kesepakatan!"


Nasya mendengus. Ia lalu masuk kelas seraya memilih bangku untuk ditempatinya bersama pemenang lomba lari tadi. Vallen menertawakan gadis itu, bahkan matanya mengikuti arah Nasya berjalan. Namun, seketika tawanya langsung reda saat melihat Devan, Rafa, Satria, dan Bayu yang sudah duduk manis di tempat mereka.


Mereka melihat Vallen pula, lalu percakapan yang sedang dilontarkan pun tiba-tiba saja dihentikan.


Devan hendak membuka suara pada Vallen, tapi tak jadi karena gadis itu mengejar Nasya. Ia membantu Nasya memilih bangku, dan yang dipilih adalah bangku paling jauh dari keberadaan Devan dan kawan-kawan. "Nasy! Sini aja yuk."


Dua cewek itu menyimpan tas. Kemudian langsung muncul dua orang dari pintu masuk, ya mau pintu masuk sama pintu keluar sama aja sih, toh pintunya cuma satu. Skip!


"Halo guys, halo sayang-sayangku, halo sahabat gue, halo dunia, halo-halo-Halooo Halo Bandung!" Orang itu bernyanyi sambil memukul-mukul meja. "Ibu Kota periangan ...."


"Gonjreng!


"Halooo halo Bandung kota ken---"


Vallen segera menutup mulut Chela sebelum sahabatnya ini diamuk masa. Namun, Chela segera menyingkirkan tangan Vallen. Ia lantas kembali bersuara, "Wahai ... sahabatku. Tidakkah kalian merasa matahari pagi ini begitu Chela-uuu?" Cewek itu menoleh ke arah jendela kelas dan menyimpan tangannya di depan alis seperti orang sedang hormat. Matanya menyipit dan dia benar-benar bertindak seolah sedang acting kepanasan yang lebay. Mukanya memelas seraya menghela napas seperti bicara 'gue gak kuat dengan semua ini ....'


Vallen dan Nasya berpandangan terlebih dahulu. "Hah? Apaan? Silau?"


"Iya, Chela-u .... Benar-benar Chela-u," ulangnya sambil geleng-geleng kepala.


Nasya menoyor kepala sahabatnya itu, berharap kewarasan yang masih tersegel rapi di otaknya segera terbuka dan ia gunakan.


"Chel, keknya liburan ngebuat jokes lo makin bobrok deh." Vallen menggeleng iba.

__ADS_1


"Pffft."


"But, whatever, gue kangen sama lo!" Vallen membuka tangannya lebar dan melingkarkan di tubuh teman sengkleknya ini.


"Aaaa," pekik Nasya yang kemudian ikutan.


Setelah satu jam, akhirnya mereka beres pelukan, nggak deng, satu detik doang, lagian geli meluk-meluk mulu.


"Guys! Lo pada gak liat apa gue bawa siapa?" Chela menaik turunkan alisnya. Sedangkan Vallen menautkan kedua alis saat melihat orang yang memang diseret Chela sejak datang tadi.


"Siapa, Chel?"


Chela mendorong orang itu, sehingga mereka bertukar posisi, kemudian ia muncul di atas pundak orang tersebut. "Kenalin! Namanya Zevina Ayu. Panggilannya Ina! Diaaa murid baru kelas kitaaa." Chela berkata sambil mempertahankan mangapnya karena kata terakhir.


"Ohhh murid baru?" Vallen mengangguk-anggukan kepala, lantas memperkenalkan dirinya dengan ramah, Nasya juga.


"Iya guys, dia juga temen SMP gue, bareng juga sama si Rafa ...." Chela mengedarkan pandangannya hingga menemukan Rafa. "Oh itu anaknya udah dateng!" ucapnya pada diri sendiri, tapi berhasil membuat Ina menoleh.


"Ups ...." Tangan Chela reflek menutup mulutnya karena malah membahas Rafa, jadi cowok itu membalas liat ke sini kan. Chela tersenyum kikuk, "Pagi calon Ketua Kelas periode 3 taun ...."


Tidak membalas sapaan itu, Rafa langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.


Satria yang baru ngeh langsung belotot dan menepuk-nepuk Rafa. "Fa, Fa. Rafa temennya Bang Sat!"


Rafa melirik Satria.


"Yang itu bukan sih?! Yang lo bilang ...."


🍐 Bersambung ....


...✨ Jangan lupa vommentnya gaisss ☺️...

__ADS_1


...Makasih ✨...


__ADS_2