
Vallen tidak lanjut membahas bau jengkol, lagipula bagi dia, Nasya, dan Ina sudah biasa mencium bau tersebut karena Chela dan keluarganya fanatik akan makanan itu. Gadis itu pun mengeluarkan lagi satu benda dari saku yang sama, ia menyodorkannya pada Chela. Tanpa menatap Vallen untuk memahami apa maksudnya pun, Chela sudah mengerti. Ia menerima benda tersebut yang tak lain adalah secarik kertas.
Masa lalu gak mungkin lo lupain gitu aja kan?
"Gue gak ngerti, dia pernah ada di masa kapan dalam hidup gue. Sejauh ini gue gak banyak deket sama cowok, kalo dipikir lagi juga ... keknya cuma Devan gitu dari SD sampe SMA."
"Hmmm, it's weird."
***
Anak basket Arcturus masih melakukan pemanasan, begitu juga anak sekolah lain dari 16 SMA yang mengikuti pertandingan persahabatan ini. Devan dan kawan-kawan kini melaksanakan peregangan dinamis setelah sebelumnya melakukan yang statis. Di peregangan dinamis ini mereka bulak balik lapangan sambil jogging dan gerakan lain seperti berlari kecil dengan kaki yang menyentuh pantat, pinggul berputar, lay up berulang, berjalan jinjit, berlari menggunakan tumit, dan terakhir berjalan dengan membuka kaki lebar seperti yang mereka lakukan sekarang.
"Gu-e bi-sa!" ucap Satria yang terdengar seperti orang sedang berusaha mengeluarkan poop-nya.
Bayu yang merasa ini masih biasa geleng-geleng kepala saja. Sudah sangat wajar jika Satria berperilaku seperti ini.
"Air ... air ...." Satria mengangkat tangannya lurus dengan bahu, karena tepat di seberang sana ada botol minumnya. "Be-n-tar lagi sam-pe." Kaki dia terus melangkah lebar yang lebaynya terlalu lebar bahkan seperti berusaha split berulang kali.
"Kita lawan siapa?" tanya Bayu pada Rafa karena keduanya sudah sampai ujung.
"Eh eh." Rafa memberhentikan salah seorang panitia cowok berkacamata yang sedang lalu-lalang.
__ADS_1
"Iya?"
"Arcturus lawan SMA apa?"
"SMA ... Altair(?)" jawabnya ragu. "Atau Sirius yah. Hmm, lupa. Datanya ada di sebelah sana." Cowok berkacamata itu menunjuk meja panitia dengan sopan menggunakan ibu jari dari tangan yang dikepal.
Rafa mengangguk paham. "Oke, thanks." Ia pun berlari ke meja tersebut lalu meminta jadwal pada mereka yang sedang duduk. Pasalnya dia bukan hanya ingin melihat Arcturus tanding dengan siapa, melainkan ingin lihat Canopus juga.
***
"Canopus dateng," gumam Satria yang melihat Erkan sedang menyugar rambutnya ala-ala.
Erkan yang menangkap adanya Devan tetap berjalan menyeberangi lapang tanpa merasa terusik dengan tatapan tajam dari ketua basket Arcturus tersebut.
***
"Mangat guys!" kata Nasya saat baru saja datang dengan Ina.
"Semangat!" ucap Vallen dan Chela bersamaan sambil mengangkat kepalan tangannya ke atas.
Vallen pun melangkah ke belakang tubuh Nasya, ia lalu memegang kedua sanggulnya sembari digerakkan ke kanan-kiri. "Na na na na na," nyanyinya tak jelas.
__ADS_1
"Vallen kenapa sih?" tanya Ina yang terkekeh geli melihat tingkah lakunya seperti anak kecil.
"Mood gue lagi bagus!"
"Gegara Devan?" tanya Nasya mantap.
"Um um!" Vallen menggelengkan kepalanya.
"Lah, terus apa?"
"Kepo!" Vallen makin menggerakkan kepala Nasya hingga kepala cewek itu seperti boneka kucing selamat datang.
"Brumm brumm!" Kali ini beda lagi. Ia mengegas buns Nasya seolah sedang mengendarai motor.
"Ngeng ...." Nasya berlari mengitari Chela dan Ina yang tentunya membuat Vallen harus ikutan lari juga.
"Chela!" teriak Vallen karena gadis itu bisa saja tertabrak oleh mereka berdua.
"Aaaaaaa." Chela berteriak dengan nada datar dan tatapan kosong, makin membuat Ina tertawa. Ketiga temannya ini memang betulan konyol.
Ekspresi menyebalkan Chela segera lenyap karena Vallen menaboknya. Motor ilusi itu pun berhenti. "Eh eh! Itu yang lagi ngobrol sama Devan siapa? Ganteng tuch!" tanya Nasya sambil mesem-mesem sendiri.
__ADS_1