Pear

Pear
70


__ADS_3

"Bagaimana pun putri harus kita lindungi. Cepat!"


Para prajurit menurut dan mengikuti Panglima Devan berlari mengejar putri. Hingga sampailah mereka di sebuah tempat di mana ada gedung tua di sana. Satu hal yang mengejutkan adalah Putri Vallen berada di lantai 2 nya, sendirian, dan sedang menangis.


"Panglima tolong ...," rintihnya.


Panglima Devan pun memberi kode kepada para prajurit untuk melawan pasukan hitam.


"Tunggu!" ucap si pemimpin hitam.


"Aku tak mencari masalah pada kalian, aku hanya ingin Putri Vallen musnah! Putri sombong yang seenaknya mengusirku dari istana harus dihabisi!"


Panglima Devan tersenyum getir akan penjelasan si pemimpin. "Apapun yang terjadi, putri harus selamat, dan kamilah yang akan menjaganya."


"Serang!


Perintah itu malah didahului oleh si pemimpin hitam. Pertarungan pun dimulai.


Bola jingga dilempar ke sana kemari untuk menghalau panah-panah yang dilontarkan oleh musuh. Beberapa gerakan seperti guling depan, guling belakang, dan salto juga dilakukan oleh para prajurit Arcturus untuk berlindung dari serangan-serangan panah. Sesekali mereka melempar bola itu pada musuh, membuat badan yang terkenanya cukup sakit. Cukup sakit jika terus-terusan dikenai kan lama-lama jadi bukit, sakit sungguhan maksudnya.


Di tengah perkelahian yang sengit itu, sang pemimpin yang kebagian melawan Devan memberikan komando untuk para pengawal yang ada di bawah gedung tua.


"Bakar gedung itu!"


Dan tak sampai dari beberapa detik, asap jingga menyembul dari berbagai arah, membuat Putri Vallen ketakutan dan berteriak histeris.

__ADS_1


"Tolong!"


Panglima Devan tercengang melihat kesiagaan pengawal hitam. Ia mendongak melihat sang putri dan kemudian lelaki itu menghentikan pertarungannya dengan pemimpin hitam. Ia segera berlari ke gedung untuk menyelamatkannya, menaiki tangga, tapi ada kayu panas yang jatuh dari atas.


"Arghhh!" rintihnya kesakitan karena tangan kanan dia mengalami luka bakar. Ia pun kembali keluar gedung dengan terpincang-pincang. Panglima kebingungan harus melakukan apa untuk menyelamatkan sang putri.


Di sisi lain, pemimpin hitam tertawa jahat melihatnya seperti itu.


Namun, tak sengaja Devan menemukan tali. Ia pun menalikannya ke bola basket, kemudian bola itu ia lemparkan pada Putri Vallen.


"Ikatkan tali itu ke tiang!" suruh Panglima.


Putri refleks menangkap bolanya dan melakukan apa yang panglima bilang.


"Lenyapkan juga panglima itu!" suruh pemimpin hitam.


Tiba-tiba satu per satu dari pasukan hitam terjatuh seperti pin bowling, dan itu disebabkan oleh bola jingga yang dilempar prajurit Arcturus lain. Panglima pun tersenyum sekilas pada mereka, kemudian melanjutkan penyelamatan Putri Vallen.


"Tuan putri!"


"Panglima!!!" Vallen menangis keras karena melihat api-api itu di bawah.


Segera Devan menaiki tali itu untuk menjemput Vallen. Setelah sampai, putri keluar dari pembatas balkon dan mengalungkan tangannya di leher panglima. Mereka turun dengan panglima yang menggendong putri di belakangnya.


Belum saja sampai ke tanah, tali itu tiba-tiba lepas dari tiang, membuat mereka berdua jatuh, tapi panglima yang berada di bawahnya hingga putri tetap baik-baik saja. Beberapa goresan tercetak di tubuhnya. Namun, lelaki itu tetap kuat untuk bangkit dan membawa putri menjauh dari sana.

__ADS_1


Di sekitar wilayah gedung tua, pasukan hitam kabur, menyisakan prajurit Arcturus yang terkulai lemas, bala bantuan pun datang karena panglima dan putri memberitahu para tabib istana untuk mengobati mereka semua. Berbagai peralatan pun dikeluarkan sebagai pertolongan pertama, juga tandu untuk membawa beberapa dari mereka yang tak bisa berjalan.


Latar berganti jadi di sebuah taman. Putri sedang mengobati luka bakar panglima di sana. Cukup lama mereka diam dan hanya ada suara gemericik air yang menemani, hingga akhirnya putri pun bersuara.


"Panglima, terimakasih dan ... maaf." ujar putri sambil menundukkan kepalanya seusai mengobatinya.


Melihat itu, tangan panglima terulur untuk menaikkan dagu Putri Vallen dengan pelan. Ia tak mau putri termenung, panglima tak suka itu. Biarlah putri marah saja, asalkan jangan bersedih.


"Sama-sama."


Dan kemudian mereka pun berpelukan. Dihiasi sorak sorai dari para penonton demo eskul SMA Arcturus, terkhususnya para murid baru.


Setelahnya, mereka semua yang bermain peran langsung berbaris dan membungkukkan badan tanda penampilan telah usai. Diikuti pula oleh promosi yang tak memakan waktu banyak, hanya berbincang apakah pertunjukkan tadi seru atau tidak, kemudian ajakan untuk masuk eskul-eskul tersebut.


Shabil terlihat senang dengan kerja kerasnya dan teman-teman. Sedangkan Vallen ... dia tak tenang, ada sesuatu yang salah dari pertunjukan ini.


Devan ..., batin gadis itu yang melihat ke pinggir, tepat ke arah Devan yang sedang memegang mic untuk bicara karena dia ketua eskul basket.


Vallen heran kenapa laki-laki itu masih baik-baik saja? Padahal ia tahu itu sakit. Setelah ini, Vallen harus bertanggung jawab atas kesalahannya.


🍐 Bersambung ....


Maap kalo GJ heuuu 😟


Jangan lupa vomment guysss

__ADS_1


Makasiii 🥰


__ADS_2