
Devan tersenyum sebentar pada Vallen, sebelum akhirnya ia mendekatkan wajah ke telinga Rafa. "Bantuin, Fa," suruhnya.
Rafa menoleh pada Devan dan mengikuti arah pandangannya, berhenti di Ina.
"Rafa, sini bantuin!" Satria menggerakkan kepalanya agar cowok tersebut ikut jongkok.
Vallen menoleh lagi ke belakang, sekilas matanya dan Rafa bertemu. Namun Rafa segera melepaskan kontak mata mereka. Ia kemudian terfokus pada mereka bertiga yang sedang di bawah. Berat Rafa melangkah ke sana, berat untuk menolong Ina, berat membantu orang yang temannya tak tahu apa masalah yang ada di antara mereka berdua. Sahabat Rafa tahu, tapi hanya dasarnya.
Sore itu Rafa dan teman-temannya sedang berkumpul di rooftop sekolah. Mereka baru saja menyelesaikan ujian untuk Penilaian Akhir Tahun saat kelas 10. Devan sibuk belajar lagu baru dengan gitarnya, Bayu saat itu masih memiliki pacar makannya dia fokus menatap layar untuk berkontak dengan pacarnya yang beda kota, Satria dari dulu sudah sering meratapi nasib karenanya lah ia suka termenung sambil mencabut daun dari pohon yang tinggi menjulang dan mencapai area rooftop. Satria bukan tidak tampan, hanya saja di awal SMA anak itu terlampau jahil ke semua orang, juga tebar pesona yang menjijikan ke cewek-cewek. Seandainya dia lebih menjaga sikap, mungkin Satria juga banyak disukai orang, toh dia dan ketiga temannya benar-benar jadi cogannya Arcturus, bukan hanya sekadar nama grup di chat.
Satria yang kelewat gabut menoleh pada Rafa yang sedang menggambar. "Fa, lo gak pernah suka sama cewek?"
"Atau ... lo suka sama cowok ya!" Satria menampakkan ekspresi kagetnya karena hipotesis dia sendiri.
"Bangs*t! Gak lah."
__ADS_1
"Sebut siapa yang pernah lo suka!" tantang Satria sembari menunjuk Rafa. Kalimat itu pun mengundang perhatian Devan dan Bayu untuk menyimak.
"Siapa woy!"
"Siapa siapa?"
Rafa menyimpan bolpoinnya lalu menatap mereka bertiga. "Gak usah tau."
"Hey kalo lo gak ngasih tau, kita anggep lo gay!" ancam Satria yang kemudian malah terkekeh, tidaklah, dia tidak sekejam itu untuk membully sahabatnya sendiri.
"Anjir," umpat Rafa.
"Temen SMP gue."
"Namanya?"
__ADS_1
"Gak penting kalian semua tau namanya."
"Mau gue cari di IG!" seru Bayu ikut bicara. "Mau liat selera lo kayak apa."
Mendengar itu, Rafa pun meneguk ludahnya kasar. Ia suka dengan cewek itu bukan karena fisiknya, ia suka karena cewek tersebut ulet belajar, perhatian, dan benar-benar bisa membuat Rafa nyaman juga bahagia jika berada di dekatnya. Mereka bukan teman sekelas, tapi mereka sering belajar bersama karena terpilih untuk ikut olimpiade matematika.
"Zevina Ayu."
Rafa tidak memberitahu sahabatnya perihal kesakitan. Mungkin yang tahu full-nya tentang kisah dia dan Ina hanya orang-orang yang terlibat langsung di dalamnya, atau mungkin ... Chela juga.
"Woy, Fa! Diem bae lo kayak tiang bendera. Buruan!" Bayu ikut menyuruh.
Rafa menghela napas, ia pun berjalan dengan membelah Vallen dan Nasya. Vallen hanya bisa diam, tatapannya ke Rafa saat ini sulit diartikan. Ia melihat suaminya itu membantu seperti mau tak mau.
"Bawain ke kelas!" bisik Satria. Bahkan Bayu juga terus membujuknya. Namun Rafa diam, tidak menanggapi mereka sama sekali.
__ADS_1
Di belakang mereka bertiga, Devan memegang bahu Vallen, membuat gadis itu kaget hingga bahunya sedikit naik. "Val, gue bantu bawa yang lo ya?" Devan menaikkan kedua alis.
Vallen menggeleng cepat. "Gak usah, gue aja."