
Hari ini adalah hari sabtu yang mana berarti murid SMA Arcturus libur. Namun, di tengah liburan seperti ini seorang cowok malah sibuk merapikan dirinya di depan cermin. Cowok itu melipat lengan kemeja yang dipakainya. Itu adalah kemeja biru muda yang dijadikannya sebagai outer karena tidak dikancingkan. Di dalam kemeja tersebut, sudah ada kaos putih polos yang melekat di tubuhnya. Tak lupa juga celana jeans warna navy yang ia kenakan, sangat cocok dengan tema bajunya hari ini.
Setelah beres menata diri. Ia pun melangkah ke luar kamar untuk mengambil minum.
"Den Rafa mau ke mana?" tanya Bi Adab yang sedang mencuci peralatan masaknya.
"Ke sekolah, mau diskusi demo ekskul."
Bi Adab pun ber-oh ria, sedangkan Rafa berjalan ke arah dispenser untuk mengisi gelas yang sudah dipegang.
Suara air yang jatuh ke dalam gelas terdengar jelas. Rafa lalu minum beberapa teguk setelah gelasnya hampir penuh. Kemudian, ia mengambil tutup gelas agar tidak kotor saat disimpan di kamar.
Ketika melihat ke arah meja makan, Rafa tertarik untuk mengambil roti di sana, padahal Bi Adab sendiri sudah memasak makanan lain untuk sarapan. "Bibi udah sarapan?" tanya Rafa seraya meraih roti dan mulai mengolesinya dengan selai cokelat.
"Belum. Loh Den kok malah makan itu? Kan bibi udah masakin ...," kata Bi Adab cukup kecewa.
"Nanti Rafa makan Bi, nungguin Vallen dulu," ucap cowok tersebut yang kemudian duduk sejenak karena sedang makan.
__ADS_1
Setelahnya, Rafa kembali mengetuk-ngetukkan kaki di tangga rumahnya sendiri. Ia menaiki tangga untuk menuju kamar. Kemudian saat membuka pintu ...
Sebuah pemandangan yang menakjubkan hadir menghiasi indra pengelihatannya. Vallen, gadis itu tampil dengan berbalutkan dress biru muda yang panjangnya masih di bawah lutut hingga masih masuk kategori aman untuk Rafa.
"L-lo mau ke mana?" Jantung Rafa berdebar saat Vallen hendak berbalik, selain takut syok dengan dandanannya, Rafa takut Vallen menjawab ia akan jalan dengan Devan, entahlah rasanya ia tak ingin Vallen menjawab demikian.
Dan benar saja, pelan tapi pasti, saat Vallen membalikkan badan, pandangan Rafa begitu tercengang.
Aneh, padahal saat Vallen dinobatkan menjadi Queen di sekolahnya dengan memakai dress cantik, perasaannya tidak begini.
Rafa mengerjapkan matanya sesaat. "Gue yang pake duluan! Berarti lo yang ngikutin."
Vallen berdecak, lalu membenarkan tatanan rambutnya kembali. Ia berbalik lagi menghadap kaca. "Mau ke sekolah," jawabnya. Gadis itu sudah beres make up dan meng-curly rambut, tinggal berangkat ke sekolah saja.
"Ketemu Devan?" tanya Rafa yang tidak tahu kenapa mulutnya sudah gatal untuk bertanya langsung.
Vallen menghela napas. "Ketemu yang lain juga, kan latihan demkur."
__ADS_1
Rafa mengerutkan kening, apakah Vallen tidak berlebihan berpenampilan seperti ini? Vallen sungguh menjelma bak seorang putri istana.
"Biasa aja kali liatinnya," kata Vallen karena bisa melihat Rafa yang berjalan menyimpan gelasnya tanpa mengalihkan perhatian dari dirinya.
"Pede banget, gue liat diri sendiri kali." Rafa pun menyugar rambutnya sambil melihat cermin.
"Lo mau ngelenong?" tanya cowok tersebut.
Vallen sedikit kesal mendengar itu. Tadinya dia juga ingin memakai baju biasa saja, tapi teman-temannya bilang coba langsung memakai dress biar jika ada apa-apa bisa diatasi sebelum tampil. "Mang iya, kenapa?!" ketusnya sembari berputar menghadap Rafa.
Dan Rafa pun malah berdehem.
"Fa jelek ambilin sepatu wedges dong!" Vallen menunjuk kotak sepatunya yang berada di atas lemari.
"Pendek dasar!" hujat cowok itu seenak jidat.
Vallen memekik kesal, bukan hanya karena hujatan tersebut, tapi karena Rafa malah merebahkan dirinya di kasur dengan santuy.
__ADS_1