Pear

Pear
119


__ADS_3

"Rafa ... kok masih belum bangun aja sih?" tanya Vallen yang masih berada di dekat ambang pintu.


"Gue udah minta ke Tuhan berkali-kali biar lo bangun. Ayo dong, tunjukkin ke gue keajaiban itu bener-bener ada, buka mata lo sekarang ...."


Vallen berjalan lebih dekat ke brangkar. Ia lalu memajukan wajahnya ke tubuh Rafa.


"Fa Jelek! Lo udah gak mandi 3 hari loh. Nanti nama lo jadi Fa Bau, mau?"


Gadis itu kemudian mengendus-endus sekitar ketiak Rafa. "Nah kan, Rafa bau wlekkk," kata dia sambil menutup hidung.


Vallen mengerucutkan bibir saat menatap Rafa. "Fa, udah lama gue gak dapet panggilan Buffalen, panggil lagi sini!" suruhnya seraya menusuk pelan pipi tunangannya.


Tak ada balasan, hanya ada riuh suara alat-alat di ruangan.


Vallen pun mengedarkan pandangan dan berhenti saat menatap langit-langit rumah sakit, dirinya sengaja mendongak untuk menahan air mata itu agar tidak turun.


"Kebiasaan emang, kerjaan lo ngacangin gue!"


"Gue ngomong gak pernah ada respon."


"Sabar gue ada batasnya loh Fa!"


Vallen kembali melihat Rafa.


"Rafa ... gue lagi ngomong sama tunangan gue! Bukan sama patung. Jangan diem aja!" ujarnya mulai kesal. Lalu tangannya pun ia gunakan untuk menutup wajahnya, menutupi tangisnya yang tidak dapat dibendung lagi.

__ADS_1


"Rafa ayo dong. Gue udah cape nangis ... lo bakal bangun kalo mata gue udah segede gimana bengkaknya hah?"


"Rafa ...."


Vallen memegang satu tangan Rafa, lalu ia mengarahkan tangan cowok itu ke pipinya. "Jahat banget sih lo, gak pernah ngehapus air mata gue pas gue lagi nangis ...."


Vallen terisak.


"Gue masih butuh lo buat ngebimbing gue biar jadi istri yang baik nantinya. Ayo sadar sekarang juga ... hiks."


"Rafa, hari di mana kita tunangan, lo pernah bilang k-kalo lo bakal ada di sebelah gue pas gue butuh. Sekarang, iya lo ada di sebelah gue, tapi itu gak cukup .... Yang gue butuh adalah lo nanggapin gue, bukan cuma ada di sebelah doang!"


"Rafa kenapa lo gak pernah nurutin suruhan gue buat bangun sih?!" Vallen melepas tangan Rafa dengan kasar.


Nasya dan Chela yang melihat Vallen hendak menarik ventilator Rafa segera masuk dan menenangkannya.


"Berhenti Val!"


"Lo gak boleh kayak gini!"


"Rafa gak bangun bangun Chel Nasy!"


"Lo nya harus sabar Vallen ...," kata Nasya sembari menangkup pipi gadis itu.


"Berapa lama lagi gue harus sabar? Hiks ...."

__ADS_1


***


Setelah keluar ICU, Devan kembali melihat mata Vallen yang sembap.


"Guys, makan yuk," ajak Satria seraya memegang perutnya.


Vallen menggeleng. "Kalian aja yang makan, gue mau nunggu nyokap sama bokap di sini."


"Val, dari siang lo gak makan loh," ucap Nasya.


Devan memandang Vallen. "Gue beliin aja gimana?"


"Gak usah."


"Muka lo udah pucet." Devan langsung menggenggam tangan Vallen dan membawanya pergi.


Awalnya Vallen kaget dengan itu, tapi akhirnya ia mengikuti langkah Devan. Toh dirinya memang merasa lapar, hanya saja ia ingin masuk ke ruangan Rafa lagi jika seandainya teman-temannya pergi.


Apapun yang lagi terjadi tanpa sepengetahuan gue, yang gue mau adalah lo baik-baik aja Val.


🍐 Bersambung ....


Jangan lupa vomment gaisss


Makasiii 🥰

__ADS_1


__ADS_2