
Rafa masih tak membuka suara, tatapannya terpaku pada mata Vallen yang di dalamnya menyiratkan kesungguhan. Tanpa menjawab. Cowok itu malah menaikkan tangannya hingga sampai di kepala Vallen.
Dan selanjutnya Vallen merasakan belaian lembut, merasakan pertama kalinya seorang Rafael Hansel Samudra melakukan hal demikian. Hal yang selalu Vallen suka jika Devan melakukan itu kepadanya.
Akhirnya seulas senyum pun terbit di wajah gadis itu.
"Kalo gue nanya tuh, jawab ...," sindir Vallen masih dengan nada yang halus. Bukan sebuah perintah, tapi benar-benar hanya sindiran karena ia tahu gengsi Rafa terlampau besar.
Tanpa berkata dan cukup dengan mengelus kepala pun, Vallen tahu ini bukan Rafa yang dikenalnya kemarin yang terlihat begitu tak acuh. Ini Rafa yang mau ia ajak kerja sama dalam misinya membangun harapan bersama.
Rafa mendekatkan wajahnya ke kepala Vallen, membuat detak jantung cewek itu langsung terasa lebih cepat dari sebelumnya. Hidung cowok itu terus mendekat hingga Vallen pun bisa merasakan hangat dari napas Rafa. Kemudian Vallen tak lagi bisa menatap wajah Rafa, karena dihadapannya adalah dada cowok itu.
Vallen merutuk. Apakah ini jadi adegan romantis pertama dia dengan Rafa? Tapi tempatnya amat sangat tidak epic! Ah dasar!
Ok, singkirkan masalah tempat, pada dasarnya Vallen pun belum siap mendapat perlakuan manis dari Rafa. Mendorongnya agar menjauh, haruskah?
Semakin dekat Rafa mendekati Vallen hingga gadis itu merasakan geli di sekitar rambutnya ...
"Val?"
"H-hah?"
Vallen masih belum bisa mengontrol dirinya, apa ini, Vallen harus bagaimana?
__ADS_1
"Rambut lo bau!" kata Rafa yang kemudian mundur lagi.
Vallen kembali mendongak, merapalkan kata-kata hujatan dalam hati sembari mengeratkan jari-jarinya kesal.
"IH!" pekiknya sambil memukul dada cowok itu. Lalu dia membuka pintu karena tak mau lebih lama lagi di sini bersama orang menyebalkan. Kurang ajar! Pikiran Vallen sudah melayang ke mana-mana, dan Rafa malah meledek rambutnya?! Padahal gadis itu rutin shampoo-an!
Vallen kaget saat kenop pintu yang diputar itu tidak menyebabkan pintu terbuka. Ia lalu menengok ke arah Rafa dengan cemas tanpa bicara. Terus saja Vallen memutarnya, tapi tetap tidak bisa. Pantas fans Rafa tadi tidak bisa masuk, ternyata karena kenopnya rusak?!
"Jangan bercanda!" kata Rafa yang tadinya menganggap Vallen hanya acting, tadi juga kan dia bisa membuka pintu ini, tapi melihat Vallen yang semakin khawatir membuat Rafa ikutan panik. Ia pun segera mengambil alih percobaan membuka pintu.
Sial.
Betulan tidak bisa dibuka!
Ia pun melirik Vallen, gadis yang langsung meneguk ludah karena mengerti apa yang Rafa pikirkan.
"Gak gak, gue bisa aja dibantu naik, tapi turunnya gimana?"
Iya juga.
"Berarti lo yang jadi tumpuan gue naik," putus Rafa.
"What?!"
__ADS_1
Mereka pikir itu cara yang tidak bagus juga, maka darinya mereka tetap diam di sana untuk memikirkan cara lain tanpa harus melibatkan orang di luar. Rafa masih berdiri, sedangkan Vallen berjongkok menghadap pintu, memegang dagunya bosan sambil satu tangannya tetap memutar kenop.
Ckrkkk ....
Mata Vallen langsung berbinar.
Akhirnya ...
Setelah menunggu berabad-abad ...
Terbuka!
Ia mendorong pintu dengan cepat dan menghirup udara di luar sebanyak-banyaknya. Padahal rasa udaranya sama saja seperti saat di toilet tadi. Beruntungnya mereka karena toilet di sana tidak ditelantarkan dalam keadaan bau.
Arcturus telah sepi, sepertinya pembelajaran selanjutnya sudah dimulai.
"Mampus!" rutuk Vallen yang langsung berlari, disusul Rafa di belakangnya.
π Bersambung ....
...β¨ Jangan lupa vommentnya gaisss βΊοΈ...
...Makasih β¨...
__ADS_1