Pear

Pear
93


__ADS_3

"Vallen!!! Ututuuu temen gibah gue udah masuk."


Nasya menyubit kedua pipi Vallen dengan gemas.


"Sakit Nasya!"


Chela yang sadar akan kedatangan Vallen di kelas pun langsung berdiri. "Val Val! Lo masih aman kan?" Begitulah pertanyaan pertamanya, padahal Vallen kira mereka akan bertanya kabar dia saat baru masuk seperti ini.


"Hah?"


"Aman aman?"


Vallen menggaruk kepala, berusaha mencari arti dari keambiguan yang ditanyakan Chela. "Apa sih? Gak ngerti."


"Lo sama Devan gak macem-macem kan waktu itu?"


Vallen membuka mulutnya sejenak. "Astaga! Dari kemaren gue ditanyain ini terus!"


"Hah?" tanya Nasya.


"Lah Val, gue baru juga nanya."


Vallen membuka matanya lebar, baru ingat yang mencecarnya kemarin kan hanya Rafa.


"Gue gak nanya itu samsek malah." tambah Nasya.


"Aduh! Diare gue kambuh lagi."


Vallen memegang perutnya sambil berjalan tertatih untuk menyimpan tas di bangkunya.

__ADS_1


"Jangan mencret di sini!" ujar Nasya dengan wajah panik. Ia tak mau bangku mereka kotor apalagi bau.


Ew!


"Gu-gue ke wc yah. Bhay sayang-sayangnya Vallen!" Gadis itu pun kiss bye selagi berjalan menjauh.


"Jangan kelamaan, bentar lagi bel!" peringat Chela. Di depan sana Vallen hanya mengangkat jempolnya.


Sebelum melewati pintu, Vallen berhenti sejenak karena Devan dan kawan-kawan lewat.


"Gausah minta bantu gue kalo lonya juga malah ngilang."


Suara Rafa terdengar oleh Vallen. Kebetulan Vallen juga memang tidak melihat Rafa lewat bersama tiga sahabatnya. Sejenak Vallen dan Satria melontar ejekan.


"Sorry banget, gue beneran harus ke rumah sodara kemaren. Jauh banget kalo lo yang nganter."


Vallen yakin yang kali ini bicara adalah Ina, akhirnya ia pun keluar kelas dan suara mereka berdua terdengar lebih jelas.


"Gue latihan basket."


"Gue tungguin."


Tak sengaja, Ina melihat keberadaan Vallen. "Eh. Hai Vallen ... udah sembuh?" tanyanya ramah.


"Um hai, udah."


Tidak lama Vallen fokus pada Ina karena selanjutnya ia mengarahkan pandangannya pada Rafa. Menyebalkan, padahal kemarin hati Vallen baru lega setelah mendengar penjelasan Rafa, tapi sekarang apa lagi?


Mereka bakal pulang bareng? Cih!

__ADS_1


Vallen memalingkan muka, lalu pergi.


Di area toilet Vallen tidak sungguhan ingin buang air besar. Toh ia juga tidak betulan diare. Gadis itu kini memandang cermin, membenarkan tatapan rambut seraya memikirkan perihal Ina dan Rafa, bingung sekali kenapa dirinya terus dibuat bertanya-tanya tentang hubungan mereka.


"Kak?" panggil seseorang dengan cemas, ia ditemani oleh seorang temannya. Mereka berdua lihat-lihatan sebelum akhirnya yang memanggil tadi mampu membuka suaranya lagi. "Ini buat kakak."


Vallen ternganga melihat sebuah amplop yang diasongkan oleh adik kelas perempuan ini. "Dari?"


"Dari ..." Anak itu berpikir sejenak, mengingat seragam orang yang menyuruhnya tadi. "... cowok yang pake seragam SMA Canopus, Kak," ucapnya lancar.


"Tau siapa namanya?"


Adik kelas itu menggeleng.


Menggerakkan kepala dengan raut wajah bingung, pada akhirnya Vallen mengambil amplop tersebut.


"Makasih ya."


"Sama-sama, Kak," ucapnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan Vallen sendirian lagi di area toilet.


Perlahan tangan Vallen mengeluarkan sesuatu dari amplop tersebut, dirinya berharap itu uang, lumayan buat beli batagor di kantin, tapi ditarik sepenuhnya ... nyatanya itu sebuah surat.


Hai


-5


🍐 Bersambung ....


Jangan lupa vomment guysss

__ADS_1


Makasiii 🥰


__ADS_2