
Ina bertanya sesuatu pada Bu Anggi yang dijawab oleh guru tersebut bahwa seharusnya Ina mengurusi dokumen lain tentang kepindahannya di kesiswaan, bukan di sini. Gadis berlesung pipi itu pun mengangguk, entahlah bagaimana pun dia bersikap, kelihatannya selalu lembut. "Ruang kesiswaannya di mana ya, Bu?" tanya Ina polos.
"Loh tadi pagi belum sempat ke sana?" Bu Anggi malah membalasnya dengan pertanyaan lagi.
"Belum ...."
Mata Bu Anggi pun beralih ke Rafa.
"Rafa, tugas kamu sebagai Ketua Kelas cukup itu semua. Saya harap kamu bisa memimpin kelas dengan baik karena kamu sudah berpengalaman. Sekarang, bisa antar Ina ke ruang kesiswaan?"
Udah ketebak, batin Rafa.
Ia melihat Bu Anggi dengan dingin, tapi namanya juga guru, tidak baper dilihat seperti itu. "Bisa, Bu."
"Baik. Terimakasih."
Rafa pun pergi dengan Ina yang mengekori di belakangnya.
"Rafa!" panggil Ina saat mereka sudah keluar dari ruang guru.
__ADS_1
Rafa tidak menjawab.
Maka dari itu Ina berlari agar bisa menyejajarkan langkahnya. "Fa!" panggilnya sekali lagi.
Masih belum ada balasan.
"Rafa jawab gue!"
"Hm?" tanyanya yang bahkan tidak menoleh sedikit pun.
Ina tersenyum sekilas. "Gak nyangka deh di SMA lo jadi Ketua Kelas!"
Rafa diam.
"Gue pikir lo maunya fokus belajar aja, terus males ngurus ini itu," celoteh Ina. Namun saat kembali melihat respon Rafa, senyumnya pun memudar. Rafa jauh tambah dingin dibandingkan saat SMP.
Lo masih marah, Fa?
"Rafa! Rafa, Rafa, Rafa, Rafa!!!" teriak Ina.
__ADS_1
"Rafa liat gue! Rafa berhenti dulu! Fa jalan lo kecepetan, kita lagi gak lomba jalan!" Ina terus memprotes.
"RAFA!"
"Bisa diem gak sih lo?!" Rafa menanggapi dengan tak santai. Kali ini ia berani menatap Ina, sangat dalam sampai menusuk hati gadis itu yang begitu kagetnya mendengar Rafa bisa bicara sedemikian keras. Terasa cukup kasar.
Ina mengerjapkan matanya. "Lo ... berusaha hindarin gue ya?" tanya Ina.
Cowok itu lalu membuang mukanya lagi. "Ruang kesiswaan di sana," ucapnya dingin sembari menunjuk tempat yang dimaksud.
Ina masih memperhatikan wajah Rafa, tak melihat apa yang ditunjuk. "Anterin," pintanya.
"Lo bisa sendiri."
"Gue bilangin Bu Anggi nih lo gak nganter gue," ancam Ina. Mukanya sangat menyiratkan bahwa ia ingin diantar Rafa, setidaknya agar ada waktu lebih yang bisa ia habiskan bersama.
"Bukan masalah berarti." Lagi-lagi cowok itu mengucapkannya dengan nada yang datar. Ia kemudian berputar arah dan berjalan meninggalkan Ina yang nampak kecewa.
***
__ADS_1
"Panas!" teriak Chela sambil terus berlari ke bawah payung besar yang di bawahnya ada meja bundar. Memang sudah tengah hari, wajar saja panasnya menyengat. Chela segera duduk di salah satu kursi dan menyantap makanannya. Tak lama Nasya dan Vallen pun datang dengan membawa makanan yang sama, seblak.
Rooftop SMA Arcturus sudah menjadi basecamp mereka bertiga. Ini adalah tempat khusus yang dihadiahi Devan untuk Vallen. Ia yang merancang rooftop ini jadi ada beberapa gazebo. Biasanya pada jam istirahat begini, Devan dan kawan-kawan tidak ke rooftop, mereka lebih suka makan di kantin, alasannya biar pas nambah tidak usah jauh-jauh. Dan biasanya juga mereka datang ke sininya sepulang sekolah, entah untuk berbincang, bermain game online bersama, atau menikmati waktu senja sambil bermain gitar.