Pear

Pear
108


__ADS_3

Sirine ambulance terus-terusan berbunyi. Awalnya terdengar kecil, tapi kemudian lama-lama mengeras karena mobil itu masuk ke area sekolah yang memang luas, hingga akhirnya kendaraan roda empat itu berhenti di pinggir lapangan.


Bu Anggi dan beberapa orang dewasa terlihat panik saat mengarahkan dan meminta agar Rafa cepat diangkat. Tentu saja mereka semua khawatir, kulit Rafa memerah, ia juga tak sadarkan diri sejak beberapa waktu lalu. Perubahan kulit jadi merah muda atau merah ceri yang aneh diakibat oleh oksigen yang tidak bisa sampai ke sel dan tetap tinggal di darah.


Chela menghampiri wali kelasnya, ia menitipkan pesan pada Bu Anggi agar jika ditanya dokter nanti, bilanglah kalau Rafa keracunan supaya segera ditangani. Chela juga sudah membisikkan nama zatnya apa. Kenapa dia memberi tahu itu? Sebab Chela pernah tahu jika mendiagnosis adanya 'zat tersebut' berdasar tes darah, rontgen, dan lain-lain akan memakan waktu yang lama, sedangkan keracunan zat ini harus segera ditindak dengan cepat dan tepat. Dalam kasus ini dokter bergantung pada si 'penolong', walaupun tetap didukung juga dengan hasil tes lab nantinya, setidaknya untuk pertolongan awal dokter akan tahu harus melakukan apa.


Bu Anggi mengangguk. Ia pun ikut masuk ke dalam ambulance, mengikuti apa yang dilakukan oleh penanggung jawab acara lainnya, tapi baru saja kakinya menginjak mobil, tangan Bu Anggi sudah dipegang oleh Vallen.


"Bu Anggi, Vallen mau ikut!" pintanya sambil berlinang air mata.


"Vallen maaf ya, biar kami saja yang mengurus," kata Bu Anggi yang langsung masuk begitu saja. Pintu ambulance pun ditutup dan mobil melaju pergi.


Vallen menangis di tempat, sedangkan Devan dan kawan-kawan berlari ke kelas untuk mengambil kunci motornya masing-masing.

__ADS_1


Saat tak sengaja Vallen mengangkat wajah, ia menemukan Devan yang sedang lewat, sepertinya mau ke parkiran. Ia pun segera memegang tangannya dan minta ikut bersama cowok itu.


"Gak gak gak. Val, lo shock banget kayaknya, gue takut lo lemes nanti malah pingsan di motor!" kata Nasya yang Devan setujui. Kemudian Devan, Satria, dan Bayu pun melanjutkan larinya untuk mengambil motor.


Vallen mengejar mereka, tapi Devan dan kawan-kawan cepat sekali menyalakan motornya lantas pergi meninggalkan SMA Arcturus. Rasanya Vallen seperti orang gila yang sama sekali tidak dipedulikan keberadaannya, sama sekali tidak dilirik sekali pun daritadi ia sudah mengungkap keinginannya.


"Gue cuma pengen ada di samping Rafa ... hiks," ucap Vallen pelan. "Kenapa semua orang jahat! Terus aja larang gue!" Gadis itu membentak Chela dan Nasya yang ikut lari sampai gerbang utama sekolahnya ini.


"Val kita cuma gak mau lo kenapa-napa ...," balas Nasya seraya memegang tangan Vallen. Namun Vallen menghempaskan pegangan cewek tersebut.


"Sekarang mana mobilnya?! Gak dateng-dateng!" bentak Vallen frustasi.


***

__ADS_1


Sebuah tangan mencekal Ina, padahal baru saja ia ingin berlari juga.


"Jangan ikut," titah Marvel dengan mata tajam menatap gadis tersebut.


"Aku mau liat Rafa, Mar!"


"Gak usah!"


Mata Ina memanas. Ia juga ingin menemani Rafa, ia takut Rafa kenapa-napa.


Rafa adalah orang baik yang pernah Ina temui. Sewaktu-waktu jika mengingat masa lalu, rasanya Ina seperti orang jahat karena sudah menolak lelaki itu. Padahal jelas selama masa pendekatan keduanya baik-baik saja, Ina tahu saat itu dirinyalah yang salah. Tiba-tiba saja hatinya malah jatuh pada Marvel yang notabenenya sahabat Rafa sendiri, bahkan Marvel awalnya yang menjodohkan mereka berdua. Namun terlepas dari Marvel, bagaimana pun Ina nyaman berada di dekat Rafa, ia juga suka saat Rafa--si manusia dingin itu--bisa tertawa lepas hanya saat bersamanya. Rafa telah menjadi sahabat yang baik untuk Ina.


Walaupun ujung-ujungnya jika Ina menerawang lagi ke dalam hati ... ia pun masih jahat sekarang karena menjadikan Rafa sebagai 'tameng pelindung'-nya. Ina ingin minta maaf, dan ia berharap masih ada kesempatan untuk itu.

__ADS_1


***


__ADS_2