Pear

Pear
71


__ADS_3

"Wah, pasti banyak tuh yang mau masuk eskul basket, ya gak guys?" tanya MC cowok yang disambut sorakan histeris dari murid-murid, terlebih perempuan. "Woah, langsung heboh! Bisa-bisa banyakan cewek yang ikutan kalo gini soalnya ketuanya ganteng, jhaaa."


"Hahaha, bener banget! Aku juga mau dong Kak Devan ikutan basket ...," sambung MC cewek ikut memeriahkan.


Devan hanya tertawa menanggapi perkataan tersebut.


"Oke, udah kali ya, biar ciwi-ciwi Arcturus pada gak ngiler lagi liat Bang Devan, mari kita usir aja Bang Devannya."


"Woooooo!" seru para penonton karena MC cowok berkata demikian. Yang ada harusnya dia menahan Devan tetap berada di depan sana.


"Aduh, kerad. Kebanyakan fans nya Bang! Aku mah apa atuh cuma remahan keripik yang kebagian banyak micin."


"Hahaha, apa dah. Oke maaf penonton, dengan sangat terpaksa kita harus berlanjut ke eskul lainnya. Terimakasih untuk PMR dan basket yang udah tampil, dipersilakan untuk meninggalkan lapangan." MC cewek itu pun tersenyum sebelum membaca lagi teks yang ada di kertas runtutan acara.

__ADS_1


Anggota yang lain melakukan salam perpisahan dulu dengan mengangkat tangan ke atas, beberapa dari mereka juga ada yang sekalian melambaikan tangan. Namun berbeda dengan Vallen, ia menarik Devan begitu saja keluar lapangan. Tanpa ada kata yang terucap gadis itu membawa Devan berlari menuju UKS.


Hati Vallen berkecamuk, abaikan tentang Devan adalah mantannya, kali ini dia khawatir dengan luka sungguhan yang tak tertulis dalam skenario. Luka bakar yang ada di diri Devan memang hanya tempelan dari sebuah properti, tapi luka lain dan jatuhnya mereka karena tali yang Vallen ikat ke tiang tidak kencang adalah kecelakaan sungguhan.


Sesampainya di UKS, Vallen segera menyuruh Devan untuk duduk di kursi lebar setinggi lutut, itu lebih tepat disebut meja pendek sebenarnya, tapi intinya barang itu ada di sudut ruangan dan lebih sering digunakan anak PMR untuk duduk lesehan. Gadis itu pun melangkah ke lemari obat. Tangannya gemetar saat mencari betadine diantara tumpukan barang kecil lainnya. Vallen terus menyalahkan dirinya sendiri karena pada kenyataannya pun memang itu salahnya, jikalau ia mengikat tali itu lebih kencang, Devan tak akan terluka, tidak akan ada goresan menyakitkan yang bahkan membentuk kawah berwarna merah.


Akhirnya barang yang dicari Vallen pun ketemu, ia juga turut mengambil barang lainnya seperti kapas dan plester. Vallen menyimpan benda-benda tersebut dengan rusuh di atas kursi, kemudian mengobati Devan dengan posisi berlutut. Mulanya ia membersihkan dulu luka di tangan dan kaki Devan akibat kulitnya yang bergesekan dengan paving block. Jatuhnya Devan tadi cukup banyak membuat luka karena dirinya hanya memakai jersey basket, yang mana membuat banyak dari kulitnya tak tertutupi kain, padahal setidaknya kain bisa saja menjadi pelindung.


"Val tenang ...," ujar Devan.


Vallen tak menjawab, hanya berusaha mengatur napas yang padahal masih saja tak beraturan.


"Vallen ...."

__ADS_1


Vallen mulai memberinya obat merah dengan tergesa. Hal itu membuat Devan memegang tangan Vallen agar gadis itu berhenti sejenak. "Val gue bilang tenang ...."


Vallen mendongak menatap Devan. Dan dengan jelas cowok itu bisa melihat mata Vallen yang sudah berkaca-kaca. "Gue gapapa Val."


"Nggak! Itu pasti sakit, Dev ...," ujar Vallen yang melepaskan tangannya dan kembali mengobati Devan.


Perlahan air matanya pun menetes.


"Hiks, pasti perih ...."


"Sttt, gue kan cowok Val, gini doang sih ..."


"Iya gue tau lo cowok!" Vallen memotong omongan Devan. "Tapi luka tetep luka. Lo bukan manusia besi yang gak berdarah pas lo jatoh, Dev."

__ADS_1


__ADS_2