Pear

Pear
111


__ADS_3

Ruang serba putih dengan suara monitor berdenyit menjadi tempat Vallen dan kedua orang tuanya berkunjung.


Seseorang yang tengah terbaring lemah di atas brangkar tersenyum menyambut kedatangan mereka.


"Aya, Dika, makasih udah bawa Vallen ke sini."


Aya pun mengangguk ke arah sahabatnya itu. Tangannya yang memegang bahu Vallen, mengarahkan agar putrinya itu lebih maju mendekati Mira.


Namun langkah Vallen sedikit terseok karena melihat ada teman sekelasnya berdiri di samping ranjang.


"Vallen ...," panggil Mira yang berhasil membuat mata Vallen terarah padanya.


"I-iya, Tan?"


Sesekali Vallen mencuri pandang pada temannya dan bertanya-tanya dalam hati kenapa orang itu di sini.


"Kenalin, ini anaknya Tante," kata Mira sambil memegang lengan anaknya.


"Ahh." Vallen mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi anaknya Tante itu Rafa?"


Mira tersenyum. Ia tak kaget jika Vallen sudah kenal, toh Rafa sebelumnya sudah cerita.


"Tante denger kalian gak deket ya di sekolah?"


Vallen bergumam selagi berpikir jawaban bagaimana yang sopan untuk menjawab ini.


"Um ..., iya," jawabnya singkat pada akhirnya. Bagaimana tidak dekat jika Rafa hanya bicara dengannya saat kerja kelompok dan saat dirinya melaporkan keuangan kelas saja.


"Kalo gitu ... gimana kalo mulai sekarang kalian jadi deket aja?" tawar Mira yang sukses mengundang tatapan tidak mengerti dari Vallen.


"Gimana, Tan?"


"Tante boleh minta sesuatu sama Vallen?"

__ADS_1


"Selagi Vallen bisa lakuin ... boleh," jawabnya dengan nada yang ramah.


"Menikah dengan Rafa."


Deg!


Mata Vallen membulat sempurna.


"Tante ingin saat ini kamu bertunangan dulu dengan Rafa," lanjut wanita itu.


Vallen sedikit membuka mulut saking tercengangnya. Debaran jantungnya pun jadi tidak beraturan. Mira pikir pernikahan itu apa? Itukan harus dipikirkan secara matang!


"Tan ...." Vallen mulai ingin memprotes. Namun Mira memotongnya.


"Vallen, Tante ingin sekali melihat anak Tante menikah, tapi Tante ragu bisa menunggu lebih lama lagi untuk menyaksikan itu. Jadi setidaknya Tante ingin bisa dulu untuk melihat anak Tante bertunangan."


Vallen bahkan tidak diberi waktu setidaknya 24 jam untuk berpikir. Ia amat bingung saat ini, otaknya serasa diperas hingga terasa ingin pecah!


Rafa yang sedari tadi diam pun akhirnya angkat bicara dengan memanggil nama Vallen. Gadis itu segera mengangkat wajahnya yang tadi menunduk untuk melihat Mira.


Tatapan Vallen terlihat canggung saat melihat mamah dan papahnya. Namun kedua orang tuanya itu mendukung dia untuk melangkah hanya dengan mengangguk. Akhirnya, Vallen mengikuti Rafa untuk keluar ruangan.


Setelah pintu ditutup, Rafa menyender ke tembok seraya memasukkan tangan ke saku celananya.


"Gue tau kita sama sekali gak deket. Tau nama satu sama lain aja udah syukur, tapi gue gak bisa nolak keinginan Bunda."


"Kenapa gue?" tanya Vallen.


"Gatau, bunda yang mau."


"Sejak kapan lo tau tentang ini?"


"Beberapa menit sebelum lo dateng."

__ADS_1


Vallen menghadap Rafa, tapi matanya menyorot ke tembok.


"Gue gak tau harus apa ...," kata Vallen pelan.


"Jujur gue juga gak tau. Dari segi apapun gue belum siap."


"Terus gimana?"


"Mungkin gue gak bisa nolak permintaan bunda, tapi lo ..." Rafa menggantungkan ucapannya. "... punya hak buat nolak. Gue tau lo gak siap sama sekali."


Vallen pun menunduk seraya meremas rok, ia coba menenangkan diri sejenak dan berusaha untuk berpikir dengan jernih.


Hingga beberapa saat kemudian satu keputusan pun ia dapat. Lantas Vallen mendongak dan kali ini betulan menatap Rafa.


"Gue akan berusaha percaya sama lo. Tolong buat gue yakin kalo keputusan gue hari ini gak salah." Vallen tersenyum kecil, sedangkan Rafa yang ambigu dengan perkataan Vallen malah mengerutkan keningnya.


"Jadi?" tanya cowok itu.


"Jadi ... coba lo yang ngajak gue buat tunangan. Masa tante!"


Cowok itu mengambil napas, ia melihat Vallen dengan tatapan dangkal, seperti asal tatap saja.


"Val, mau jadi tunangan gue?"


Vallen pun mencebikkan bibir. "Udah gue tebak lo gak ada romantis-romantisnya! Itu ngajak tunangan apa nawarin permen, hah?"


"Sorry ... gue emang bukan cowok romantis yang bisa ngucapin kata-kata manis dan sejenisnya, tapi gue pastiin gue bisa jagain lo, lindungin lo, ada saat lo butuh, gue bakal jadi cowok yang seenggaknya bisa lo andelin, terus ...."


"Gue mau," potong Vallen padahal Rafa belum menyelesaikan kalimatnya. Manusia di hadapan Vallen mengerjapkan matanya beberapa kali, lantas tangannya dipegang oleh gadis itu.


"Ayo ke dalem lagi."


🍐 Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa vomment guysss


Makasiii 🥰


__ADS_2