Pear

Pear
Chapter 22 (3)


__ADS_3

Rafa dan Vallen pun berpandangan, seolah saling meminta kode supaya mereka berdua menyiapkan jawaban yang sama, tapi sayangnya itu tidak berjalan dengan mulus, belum saja mereka memberi kode ... tiba-tiba ada Devan yang menyusul Rafa dan langsung merangkulnya. "Pada kenapa nih?" tanyanya yang bingung menatap tiga orang di sana.


Vallen menggeleng. "Ng-nggak ada apa apa!" Ia pun menarik Chela dan membawanya pergi, meninggalkan Devan begitu saja yang terpukau dengan penampilannya.


"Gila mantan gue!" puji Devan yang tentu hanya didengar oleh satu sahabatnya. Rafa, dia meneguk ludahnya dengan berat setelah pujian itu ditangkap telinganya sendiri.


Selama perjalanan ke taman belakang, Chela terus meminta penjelasan pada Vallen karena ia yakin Vallen bersama Rafa tadi, tapi Vallen bersikeras menjelaskan bahwa daritadi ia bersama tukang ojek. Tak hanya tentang itu, Chela juga bertanya perihal Devan.


Dikarenakan Chela tidak berhenti bicara sedetik saja, Vallen jadi menghela napas dan berhenti melangkah. "Chel, inget kemaren gue bilang apa?"


"Ya ... dan gue pengen taunya sekarang!"


Vallen membawa Chela ke sisi tembok. "Abis gue kasih tau ke lo, jangan kasih tau siapa-siapa lagi." Mata Vallen sangat lekat menatap mata sahabatnya, ingin melihat kesungguhan dari jawabannya setelah ini.


"Lo tau sendiri kan mulut gue aman?"


Vallen mengangguk. Benar juga Chela, bahkan rahasia tentang Ina saja tidak ia bongkar. "Gue putus sama Devan," ucapnya cepat.


"Hah?!"


Vallen mengangguk. "Udah," katanya, ingin segera menyudahi pembicaraan ini.


"Gak gak, terus lo sama Rafa gimana? Mata gue bener gak siwer kan? Lo dianter Rafa kan?"


"Iya mata lo gak siwer, tadi gue bareng sama Rafa karena gak ada yang bisa nganter. Jadi gini, pas gue nunggu angkot, ada dia tuh, makanya bareng. Cuma tadi gue minta mampir ke minimarket, terus dia buru-buru katanya yang lain udah nunggu. Jadi Rafa duluan, gue pake ojek online," jawab Vallen asal, kapan juga Vallen naik angkot, apalagi sedang pakai dress seperti ini.


"Owkay, jadi cuma kebetulan yah?"

__ADS_1


"Ha-ah. Lo tau kan Rafa deketnya sama Ina?" tanya Vallen ingin membalikkan pembicaraan.


"Tau bangetlah!"


"Nah, ya udah."


Chela menghela napas lega. "Syukur deh kalo gitu ceritanya. Kaget gue kalo lo deket sama Rafa."


Vallen tersenyum paksa cukup lama sebelum akhirnya Shabil memanggil mereka.


"Chela Vallen cepet ke sini!"


***


Vallen berdiri di depan SMA Arcturus. Tangannya dilipat di depan dada sembari menunggu ojeknya datang. Wajahnya murung lagi seusai membaca ponsel beberapa waktu lalu, ini kedua kalinya Rafa mengirim pesan yang sama seperti kemarin.


Saat dirinya melihat kanan-kiri untuk mengecek apakah tukang ojeknya sudah datang, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, menampakkan nama seseorang yang sedaritadi ada di pikirannya. Orang yang terang-terangan lebih memilih mengantar Ina daripada istrinya sendiri.


Lo sama siapa?


"Sendiri."


Devan mana?


"Pulang."


Sekolah sepi?

__ADS_1


"Hm."


Udah pesen ojek?


"Hm."


Padahal mau gue jemput.


"Hm."


Yaudah, ati-ati.


"Hm."


Hm hm terus lo. Marah?


"Pikir aja sendiri."


Vallen pun mematikan sambungan tersebut.


🍐 Bersambung ....


Jangan lupa vomment guysss


Makasiii 🥰


Halo semua, ini aku, Biru. Aku baru selesai revisi sampai sini. Maaf kalo di part selanjutnya kalian masih nemu kata "tunangan". Kalo ada waktu lagi aku bakal lanjut revisi buat balikin Pear ke versi udah nikah. Mohon maaf untuk ketidaknyamanannya.

__ADS_1


__ADS_2