Pear

Pear
81


__ADS_3

"Ada ikannya gak?" tanya Devan dengan wajah bahagia, ia tengah melihat Vallen yang seakan sedang menggali air danau menggunakan dayung. Mereka berdua duduk di sebuah sampan dengan posisi berhadapan.


Vallen menggut-manggut seraya bernyanyi dengan santai. "Ada ikannya kecil-kecil pada mabok ...."


"Eh gak boleh mabok!"


"Ikannya, Dev!"


"Iya masih kecil gak boleh!"


"Iya kan ikannya, bukan gue!"


Keduanya pun tertawa karena sama-sama nyolot. Bagi Vallen dan Devan, semua hal bisa mereka tertawakan, terlebih saat masih dekat dulu. Kalau sekarang, intensitasnya naik-turun seiring hubungan mereka berdua yang memang labil adanya.


"Dingin dingin, dimandiin."


"Nanti masuk air," lanjut Vallen terhadap sambung lagu yang tiba-tiba Devan lakukan. Mereka pun tertawa kecil.


"Angin dong," sanggah Devan.


"Gimana caranya ikan masuk angin, kan dia lagi di air?"


Devan tertawa sambil menggeleng. "Kan yang masuk anginnya kita."


"Ngga, gue gak masuk angin, gak kembung," protes Vallen yang membuat Devan sempat ingin menjatuhkannya ke danau ini, tapi jangan, sayang.


"Lirik aslinya gak langsung dari ikan langsung ke dingin," jelas Devan.


"Ih kan lo yang nyambunginnya gitu!"


"Iya gue lupa liriknya."


Vallen menatap Devan sambil tersenyum manis. "Ya udah berarti masuk air aja."

__ADS_1


"Iya deh suka-suka Putri Vallen. Nanti produk masuk angin diganti jadi produk masuk air."


"Hahaha iya, nanti bakal ada Antair sama Tolak Air. Wes ewes ewes bablas aire!"


***


Ina menyenderkan tubuhnya ke sandaran kursi seusai makan. Ia kemudian mengambil gelas minumnya, lalu mengaduk sebentar menggunakan sedotan sebelum akhirnya menyesap itu.


"Rafa, ke toko buku dulu yuk, gue mau beli buku matematika," ajak Ina seraya menyimpan lagi gelasnya.


Rafa yang tengah memainkan ponsel langsung menatap ke depan. "Buku matematika?"


Sebuah anggukan pun ditunjukkan pada Rafa. "Iya, buat latihan."


Jangan bilang Ina mau ikutan olim matematika lagi.


Rafa menatap tajam cewek itu, dan dibalas dengan Ina yang menaikkan kedua alisnya karena bingung. "Kenapa?"


Ina tersenyum. "Okay." Ia pun memakai tasnya, kemudian berdiri. Kaki Ina mulai melangkah meninggalkan mejanya, dan selanjutnya yang terjadi adalah ia malah menabrak seseorang.


"Maaf maaf!" ucap Ina sambil menunduk.


Hening setelahnya, bahkan itu membuat Ina rada kebingungan. Saat ia mendongak ...


"Hm," jawab orang tersebut yang langsung berlalu.


Ina membelalakkan mata, bahkan sebuah deheman saja bisa mengingatkannya pada satu orang dengan banyak kejadian di dalamnya. Ia segera membalikkan badan untuk melihat orang itu siapa, tapi nyatanya orang itu sudah duduk di kursi cafe sambil membelakanginya.


"Na?" panggil Rafa yang otomatis membuat Ina melirik.


"Iya."


Ina pun berjalan lagi sambil sesekali menoleh ke belakang selama area dalam cafe tersebut masih bisa ditangkap matanya.

__ADS_1


***


"Kenapa lutung kasarung yah namanya? Padahal gak ada kera di sini." Devan keheranan seraya menurunkan ponsel yang ia gunakan untuk merekam pemandangan. Sedari tadi matanya yang menatap layar itu tidak melihat keberadaan lutung, sama saja jadinya jika dia menatap tempat ini secara langsung.


Devan dan Vallen sedang berada di Lutung Kasarung Area, ini adalah tempat makan berbentuk sarang burung yang ada di ketinggian, sarang-sarang burung itu dihubungkan melalui jembatan-jembatan bercabang. Sangat epic mengingat tempat ini juga dikelilingi pohon-pohon rimbun. Namun alasan mereka ke sini tentu bukan untuk makan lagi, melainkan hanya ingin mengabadikan momen.


"Kan lutungnya ini!" tunjuk Vallen sambil menunjuk Devan.


"Ini?" Devan menunjuk dirinya sendiri. Vallen pun mengangguk cepat. "Ganteng gini disebut lutung?"


"Gantengan juga lutung," gerutu Vallen sambil mantap menatap Devan.


Seulas senyum pun muncul di wajah cowok tersebut. "Oh, berani yah Putri Vallen?"


Vallen tertawa seraya memegang pinggiran jembatan. "Iya dong, masa Putri Vallen gak berani sama Panglima doang," balasnya dengan nada meremehkan.


Mendengar itu, Devan langsung tersenyum miring.


Tangannya pun segera menggelitik ke area pinggang Vallen, kemudian dengan tidak memberinya kesempatan sama sekali untuk menghindar, Devan menggelitiki pula lehernya.


Vallen cekikikan karena merasa geli, sungguh dia tak pernah kuat untuk menahan kegelian. Ia sudah meminta cowok tersebut agar berhenti, tapi Devan tidak menurutinya.


Hingga akhirnya mereka lari menyusuri jembatan sambil tertawa riang. Menginjakkan kaki hingga membuat dentuman kecil karena perkenaan pada alas jembatan. Sesekali mereka berputar dengan Devan yang tidak melepaskan Vallen, sedangkan gadis itu tetap berusaha menyingkirkan tangan cowok tersebut.


"Devan udah!"


"Salah siapa bilang gue lutung!"


"Hahahaha, ampun ...."


Jauh di lubuk hati Devan, ia amat merasa senang dengan adanya hari ini. Ia bersyukur Tuhan masih memberinya waktu yang indah untuk menghabiskan waktu bersama orang yang ia sayang.


Jauh di lubuk hati Vallen, gadis itu terus mengenyahkan Rafa dari pikirannya. Tawa yang terlontar anggap saja sebagai suatu usaha untuk dirinya bahagia. Selain tentang Rafa, ia juga sedang berusaha memberi yang terbaik untuk Devan. Vallen menganggap hari ini masuk ke dalam hari pertanggungjawaban pertamanya setelah sudah membuat Devan celaka. Biarlah dia berbincang bersama Devan, dan biarlah cerita lama itu dilanjut, untuk hari ini saja.

__ADS_1


__ADS_2