
Vallen mengedarkan pandangannya kepada kerumunan orang yang datang ke rumah sakit. Ada yang sedang berlalu-lalang dan ada yang menunggu sambil duduk. Hingga akhirnya keberuntungan mengarahkan mata Vallen untuk bisa menemukan sosok Marvel, cowok itu tengah berdiri di depan meja resepsionis sembari bertanya sesuatu.
Tak mau mengulur waktu banyak, Vallen pun langsung mendekatinya dan berjalan di belakangnya, menajamkan pendengaran agar bisa menguping apa yang sedang ditanyakan.
"Pasien atas nama Rafael Hansel Samudra ada di ruang Cempaka 4, lantai 5 di gedung Saturnus," sebut si resepsionis.
Mata Vallen terbelalak, nyatanya benar Marvel mencari sedang Rafa. Gadis itu pun langsung berlari ke gedung Saturnus dan yakin bahwa Marvel akan lebih lama sampai dari dirinya. Rumah sakit ini terlampau luas, dan bisa dipastikan Marvel akan tersesat dalam perjalanannya jika tidak hati-hati dalam melihat petunjuk.
Ponsel mliliknya pun Vallen keluarkan saat ia naik ke lift. Ia mulai menelepon seseorang.
"Dev, gue tunggu lo di sekitar ruang Cempaka."
***
Ati-ati pulangnya, Val.
Setelah mengetik kalimat itu, Rafa segera mengirimkannya. Cowok tersebut pun memutar ponsel sembari melihat ke langit-langit kamar rawat inap. Ia merasa bersalah hanya bisa berbaring di ranjang dan membiarkan Vallen pulang-pergi sendirian. Rafa ingin segera pulih, lalu menjalani kehidupannya seperti biasa. Ia rindu rumah, rindu kamar, rindu Bi Adab, rindu Mang Junet, dan terlebih ia rindu sekolah.
Pintu diketuk beberapa kali, tapi belum saja Rafa menjawab agar seseorang di luar masuk, orang itu sudah membuka pintunya duluan.
"Hai, Fa!" sapanya yang selanjutnya tersenyum, memperlihatkan lesung pipitnya yang manis, yang pernah menjadi salah satu alasan Rafa menyukainya.
__ADS_1
"Hai," balas Rafa kepadanya.
Kemudian tatapan lelaki itu beralih ke tangan kanan Ina yang menutup pintu kamar. "Sendiri?" tanyanya.
Ina mengangguk. Ia lalu menyimpan parsel buah yang dibelinya sebelum sampai kemari. "Buat lo."
"Thanks," ucap Rafa.
Ina berjalan dan berakhir dengan duduk di samping brangkar.
"Temen-temen lo kemana, Na?"
"Ummm, Chela sama Nasya ada urusan. Terus Vallen ... tadi terakhir gue liat masuk ke mobil bareng Devan. Mau pacaran kali!" serunya penuh energi sembari menunjukkan sederet giginya seusai berucap.
"Fa?" panggil Ina yang membuat lamunan Rafa pecah.
"Hah?"
"Gimana keadaan lo sekarang? Ada yang kerasa sakit?"
Rafa mengerjapkan matanya dan mencoba fokus pada Ina. "Punggung gue sakit, kaki gue lemes. Kayaknya nanti bakal fisioterapi."
__ADS_1
"Ah ... oke," kata Ina mengerti.
Beberapa saat hening karena Ina menyeret pandangannya ke setiap sudut kamar yang cukup mewah. Saat teringat sesuatu, Ina kembali memandang Rafa. "Lo udah tau belum kalo Erkan ngajuin final ulang?"
Rafa mengernyitkan dahi. "Hah? tau darimana? Temen-temen gue gak ada yang ngabarin tentang itu."
"Baru tadi sih, pas gue lagi di jalan. Mantan temen sebangku gue pas masih di Canopus ngasih tau."
"Gue ragu bisa ikut tanding dalam waktu dekat."
"Lebih baik gak usah, Fa. Lo istirahat aja sampe pulih bener-bener."
"Hm," dehem Rafa sembari mengangguk satu kali.
Telepon genggam Ina tiba-tiba bergetar. Ia bisa cepat mengetahuinya karena ponsel itu sedaritadi memang ia genggam. Saat melihat nama yang terpampang, Ina langsung menggigit bibir bawahnya dan bertindak cukup gusar.
"Eum ... Fa, gue angkat telepon dulu ya?"
"Ya."
Ina berjalan menuju pintu kamar Rafa. Ia lalu menekan kenop pintu tersebut sembari menggeser jarinya di atas layar hingga mencapai ikon hijau. Panggilan pun tersambung, membuat Ina mulai mendekatkan ponsel ke telinga.
__ADS_1
"Halo?" tanya orang di seberang sambungan.
Mata Ina belotot tatkala melihat orang itu ada di depannya. Tengah berdiri tegap dengan tangannya yang memegang ponsel.