Pear

Pear
87


__ADS_3

Rafa berjalan ke luar kelas dengan menggendong tasnya, ia melangkah menuju Bayu dan Satria yang berdiri di pinggir lapangan sembari melipat tangan. Keduanya tengah melihat murid yang masih olahraga karena bel pulang memang belum berbunyi, hanya saja kelas mereka sudah bubar berkat guru yang pulang duluan.


"Gue gak bakal ikut latihan," ucap Rafa yang membuat keduanya langsung melirik.


"Etdah! Si Devan gak masuk, lo gak latihan. Terus kita gimana? Gimana ... Woy! Kita gimana?!" tanya Satria dengan gaduh.


"Batalinlah, lagi males juga gue." Bayu menghembuskan napas kasar. Ia lalu melangkahkan kaki untuk pulang. Baru saja dapat dua langkah, dia sudah menoleh lagi ke belakang. "Kabarin anak-anak Sat!"


"Iya Sayang, aku kabarin anak-anak," jawab Satria yang didengar geli oleh dua sahabatnya.


"Cot!" Kemudian Bayu pun berlalu. Ia sedang tidak mood, ia merasa butuh adanya Devan karena seperti tidak ada lagi yang bisa diandalkan untuk memimpin permainan basket mereka. Namun, setelah ia berusaha untuk menelepon Devan daritadi pun, tak ada hasilnya.


"Gue duluan, Sat."


Satria mengangguk pada Rafa sesaat, lalu kembali mengetik di ponselnya. Mengirimkan pesan pada anak basket lain untuk menunda latihan sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Semoga secepatnya.

__ADS_1


Rafa pun berjalan, ia ingin segera menemui Vallen karena harus membicarakan sesuatu, tapi seseorang menghampiri dia.


"Rafa, ayo!" ajak Ina yang mengangguk semangat.


Rafa sama sekali tidak menoleh pada Ina. Ia malah meluruskan wajahnya untuk menatap gerbang piket di depan sana. Otaknya kemudian berpikir sejenak, lalu mengangguk kecil seraya berdehem.


***


Vallen, gadis itu tak sekolah bukan karena sakit badan, melainkan karena sakit hati. Perilaku yang tak baik memang, hanya saja Vallen merasa berat jika bertemu Ina dan berbincang seolah keadaan baik-baik saja. Satu-satunya alasan yang bisa dipaksakan untuk diutarakan adalah tubuh dia merasa lemas.


"Waw," kagum Vallen saat melihat interior di dalam sini, beda sekali dengan bagian rumah lain yang didominasi oleh tembok bercat krem saja, di ruangan ini ada sejenis interior kayu yang melapisi dindingnya.


Namun di tengah ketakjuban itu, ada sesuatu yang menohok Vallen. Banyak sekali foto Mira di sana, dari saat dia kecil bahkan sampai foto Mira yang tersenyum di atas kasur rumah sakit. Bi Adab sedang menata beberapa foto lagi yang ia bawa. Mungkin dari kamar Hilman.


"Ini ruang musik nyonya, Non," kata Bi Adab seraya mengelap foto.

__ADS_1


"Bunda suka main piano?"


Bi Adab tersenyum kecil. "Iya, nyonya suka, terus Den Rafa juga diajarin, jadi hebat dia Non mainnya."


Vallen mangangguk.


"Non Vallen bisa?" tanya Bi Adab balik.


"Bisa dikit, waktu itu pernah les, tapi gak dilanjut."


Bi Adab pun ber-oh ria menanggapinya. Setelah itu, wanita tersebut menyimpan satu foto terakhir, lalu pamit keluar ruangan.


Ruang ini jadi sepi, tersisa Vallen seorang diri. Gadis itu pun mengitari sisi tembok sambil melihat-lihat. Satu persatu foto Mira ia telusuri dengan baik. Dan tanpa sadar apa yang ia lakukan malah mempersilakan semua kenangannya untuk terputar di pikiran.


"Bunda ...."

__ADS_1


***


__ADS_2