
"Pengen cepet-cepet ketemu Rafa ...." Suara Vallen sangat lirih, dan itu yang membuat kedua sahabatnya bingung.
"Kenapa?"
Vallen melepas pelukannya dan menatap Nasya dengan mata berkaca-kaca.
"Takut ...."
"Takut gimana?"
Vallen memajukan bibir bawahnya. "Takut Rafa kenapa-napa terus gue gak ada di deket dia ...." Suara Vallen sudah mulai bergetar, dan saat itu juga air matanya menetes.
Chela ikut mendekatkan kursinya pada Vallen. "Val, gue mau tanya," izin cewek itu.
"Apa?"
"Lo lagi deket sama Rafa?"
Vallen menggeleng. "Lagi jauh, hiks ...."
"Ih jangan ngelawak dulu, serius ini gue nanyanya Val."
"Gue serius, Chel. Gue di sini, Rafa di rumah sakit. Gak deket .... Coba aja kalo Rafa masuk sekolah, pasti kita deket."
"Cup cup cup," kata Nasya seraya menepuk pelan kepala Vallen.
"Ya udah, ganti pertanyaan," putus Chela yang kemudian mendekatkan wajahnya pada Vallen. "Lo pacaran sama Rafa?"
__ADS_1
Vallen menggeleng.
"Tapi ada hubungan?"
Vallen segera melirik Sang Penanya. Ia berpikir apakah kedua sahabatnya ini harus tahu sekarang atau bagaimana. Jujur saja hatinya masih ragu memberitahu kenyataan, tapi apa boleh buat.
"Kalian bisa jaga rahasia kan?"
Nasya dan Chela mengangguk.
Vallen kemudian menaikkan kelingking ke depan dadanya. "Janji dulu," pinta gadis beriris cokelat tua itu.
Kemudian kelingking miliknya pun bertaut dengan dua kelingking lainnya. "Janji!" kata mereka berdua serempak.
Vallen menghela napas dan menyeka air matanya. "Ini kayaknya bakal ngebuat kalian kaget, tapi gue tau kalo gue sedih tanpa kalian ngerti alesannya juga rasanya aneh kan. Jadi gue mau ngasih tau kalo ..."
"HAH?!"
"WHAT???"
***
Pak Gabud mengamati daftar murid XII IPA 3. Ia kemudian menyuruh sekretaris untuk menulis angka 1-32 di secarik kertas yang berbeda. Bayu yang merupakan sekretaris 2 lantas mendekati Nasya untuk membantunya merobek kertas. Ia juga turut menuliskan angka-angka. Karena Ina tidak masuk hari ini, jadilah Bayu duduk sementara di sebelah Chela.
Setelah beres, kertas-kertas kecil itu digulung. Kemudian Pak Gabud menyuruh Nasya dan Bayu lagi untuk mengelompokkan gulungan itu sebanyak dua-dua.
"Udah Pak," ucap Bayu sembari mendongak.
__ADS_1
Pak Gabud yang ada di sebelah mejanya pun mengangguk. Ia kemudian membacakan hasil pengelompokan mendadaknya.
"Absen 3 dengan absen 19. Absen 23 dengan absen 7. Absen 14 dengan ...." Terus saja Pak Gabud berceloteh, dan murid-murid mendengarnya dengan saksama.
"Absen 6 ...."
Devan menoleh pada Pak Gabud karena 6 adalah no absennya.
"... dengan no 30."
Vallen membelalakkan mata dan segera bertatapan dengan Nasya.
"Nasy, ini kelompok buat apa sih?" tanya Vallen pelan.
"Yang gue denger dari kelas lain sih, mereka dibagi kelompok buat Ujian Praktek. Bikin lagu sendiri."
Vallen membuka mulutnya, tercengang dengan info tersebut.
Setelah Pak Gabud selesai membacakannya, ia pun kembali ke depan papan tulis dan baru menjelaskan tugasnya apa. Benar saja yang Nasya bilang, mereka disuruh menciptakan lagu sendiri. Sungguh, Vallen saja tidak sanggup ada di dekat Devan, tapi sekarang ia harus sekelompok dengannya?
"Kalo gue minta ganti kelompok boleh ga yah?" tanya Vallen gelisah.
Nasya menggigit bibir bawahnya sebentar. "Kalo lo interupsi, ntar yang lain curiga, mereka bakal mikir harusnya lo senenglah duet sama Devan."
"Iya juga ...."
"Sekarang kalian bisa mulai berdiskusi," sila si bapak.
__ADS_1