
"Nganter Ina."
Vallen menggigit bibir bawahnya saat melihat Rafa berjalan ke kursi belajar, yang mana kursi itu tepat di depannya.
"Kenapa?" tanya Vallen lagi.
"Disuruh Satria Bayu."
Sekaligus lo malah pergi sama Devan, batin Rafa.
Cowok itu membuka tas. Ya, hanya membuka saja. Selanjutnya, dia mengambil buku dan pena yang ada di atas meja belajarnya. Membaca soal di buku tersebut, lantas mencari jawabannya. Setidaknya itu yang ingin Rafa lakukan jika Vallen tidak menanyakan hal lain lagi.
"Chela sama siapa dong pulangnya?"
Rafa menutup buku. "Satria."
Vallen menggeleng, saat ingat kok malah bahas Chela. "Maksud gue tuh kenapa nganter Ina? Ina tanggung jawab lo?"
Pertanyaan itu membuat Rafa menghela napas berat. "Gue tanya balik. Lo abis darimana?" Cowok tersebut memutar kursinya hingga mereka benar-benar duduk berhadapan.
Entah kenapa rasanya Vallen takut ditatap Rafa sekarang, padahal tatapannya sama saja seperti sebelumnya, dingin. "Nemenin Devan beli gitar baru."
"Kenapa?"
__ADS_1
"So-soalnya ... lo sibuk sama Ina." Setelah berkata demikian, Vallen langsung menunduk dan memainkan jarinya. Ia takut Rafa marah entah untuk alasan apapun. Takut saja.
"Fa ... jujur dong lo siapanya Ina? Kalo lo sama Ina pacaran kan gue ..."
Tuk ... tuk ...
Kepala Vallen diketuk oleh Rafa menggunakan telunjuknya. Karena hal tersebut, gadis itu pun mengangkat wajahnya.
Dan ia langsung disuguhi keresek putih di depan mata. Vallen mendongak satu kali pada Rafa, tapi kemudian melihat keresek itu lagi, di dalamnya ada kotak dengan bagian atas yang transparan. Vallen bisa melihat warna-warni di dalamnya.
Sushi?
Mata Vallen membulat, karena tidak salah lagi, itu adalah sushi!
Vallen kembali menatap Rafa seraya menautkan kedua alisnya. "Fa, tapi ..."
"Please."
"Um." Akhirnya Vallen menurut.
Kemudian terbesit sesuatu di kepala cewek itu. "Rafa, tadi lo udah makan?"
"Belum."
__ADS_1
"Ayo makan bareng!" ajaknya seraya mengambil keresek tersebut.
"Lo bersih-bersih dulu, gue ambil piring." Rafa berdiri dan berjalan keluar kamar, tapi baru juga satu langkah, Vallen sudah menarik-narik kaosnya dari pinggir, membuatnya sontak menengok terlebih dahulu.
"Makasih."
***
Di luar sana rintik air yang jatuh semakin deras, angin pun berhembus amat kencang, lihatlah pula petir yang menyambar dari berbagai arah mata angin, dan satu lagi, bunyi guntur yang sangat menggelegar. Malam yang meriah dengan suara menyeramkan yang mampu membuat hati berdebar ketakutan.
Vallen dan Rafa sudah berada di tempat tidur mereka, penerangan hanya diberi oleh dua lampu tidur di sisi kasur. Cukup remang dan karenanya petir di luar gorden pun masih bisa Vallen lihat. Ya, hanya Vallen karena Rafa baru saja menguap dan memejamkan matanya.
"Fa lo kok udah ngantuk aja sih?"
"Cape."
"Fa gue gak bisa tidur ...." Vallen mengambil satu-satunya guling yang ada di kamar itu, guling yang selama ini mereka jadikan pembatas tidur. Ia memeluk benda tersebut dengan posisinya yang telentang.
"Rafa temenin gue dulu, jangan tid---"
Ucapan gadis itu berhenti karena tangan kiri Rafa menutup mulutnya. Rafa lelah, ingin segera tidur. Hari ini ia sudah latihan basket, juga mengantri beli sushi di restoran yang padat pengunjung. Rafa harap Vallen diam dan memberinya waktu untuk beristirahat.
Vallen melihat Rafa dari ujung mata dan menurunkan tangan cowok itu pelan hingga tangan Rafa berhenti di atas lehernya. Vallen tidak melepaskan tangan Rafa, takut-takut tangan itu membekap mulutnya lagi atau malah bergerak ke tempat yang salah. Jangan, jangan, Vallen masih belum mau Rafa melakukan hal aneh-aneh.
__ADS_1