Pear

Pear
Chapter 20 (1)


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya masuk ke kamar Rafa. Ia pun menutup pintunya pelan dan berjalan ke arah lelaki itu.


"Rafa, kamu lagi gambar apa?" tanyanya.


Yang ditanya segera menoleh dan tersenyum pada wanita tersebut. "Rafa lagi gambar rumah! Nanti Rafa mau punya rumah kayak gini di masa depan." Rafa membentangkan kertas yang dipakainya, gambarnya sudah jadi, hanya tinggal mengarsir untuk membuatnya lebih hidup.


Wanita itu mengangguk. Kemudian Rafa menurunkan kembali gambarnya dan melanjutkan pekerjaan.


Mira, dia mengelus puncak rambut Rafa sekaligus menunduk untuk melihat hasil gambarnya lagi. Indah sekali rumahnya, bukan seperti bangunan biasa. Bentuknya asimetris, tapi itulah yang membuatnya unik. Untuk anak kelas 5 SD seperti Rafa, menurut Mira gambarnya sudah luar biasa, bahkan Rafa bisa saja mengalahkan keterampilan ayahnya. Mira yakin suatu saat Rafa bisa menjadi pengganti ayahnya dalam mengurus perusahaan arsitekturnya.


Hening beberapa saat yang kemudian diisi oleh suara gesekan antara pensil dan kertas. Anak laki-laki itu serius sekali menyelesaikannya.


"Bunda ...," panggil Rafa tiba-tiba, tapi matanya masih fokus pada gambar.


"Apa, Sayang?"


Rafa berhenti mengarsir, ia mendongak melihat wajah Mira.


"Kapan kita pindah ke Bandung lagi?" tanyanya yang membuat Mira bingung.


Wanita itu juga tak tahu kapan pastinya akan kembali ke tempat kelahiran putranya itu. "Suatu saat ya, Rafa."


"Rafa rindu Bandung, Bunda."

__ADS_1


Mira tertawa kecil mendengar ucapan putranya. "Rindu siapa kamu di Bandung?"


Namun bukannya menjawab, anak laki-laki itu malah ikut tertawa.


***


Vallen berkacak pinggang saat masuk ke kamar. Ia berdecak pula karena Rafa tertidur di kasurnya. Padahal Vallen sudah menyiapkan bahan omelan untuk Rafa sebab sudah membuatnya kaget tadi.


"Fa, bangun!" teriak Vallen.


"Rafa!" panggilnya yang masih tidak Rafa jawab.


Gadis itu pun mendengus kesal. Langkahnya langsung ia arahkan mendekati kasur itu.


"Rafa!"


Vallen mendesis, tapi pandangannya segera tertarik pada sebuah foto yang tergeletak di kasur. Ia menatap Rafa sekilas sebelum mengambilnya.


Vallen heran kenapa foto itu ada di sini, padahal tempatnya memasang foto tersebut di sisi tembok terjauh dari kasurnya. Ah dasar, melihat foto ini malah membuatnya flashback saja dengan masa-masa dia dengan Devan. Vallen berpikir sepertinya foto ini harus dibuang, tapi sejujurnya sayang juga, kan ini foto saat dia mendapat penghargaan.


Gadis itu lalu kembali menatap Rafa yang tidurnya menyamping. Ia hanya bisa melihat bagian tubuh belakangnya, tapi meski begitu Vallen tetap mengeluarkan suara. "Kenapa fotonya dilepas, Fa?"


Vallen kemudian duduk di tepi kasur dan menepuk pelan pundak Rafa. "Fa Jelek bangun ...," titahnya dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya.

__ADS_1


"Faaa kok jadi lo yang ngebo?"


"Bangun!"


"Raaafaaa."


"Fa Jelek ...."


Rafa mengubah posisi tidurnya jadi telentang. Perlahan matanya terbuka dan satu-satunya orang yang bisa ia lihat di sana adalah Vallen. Dengan segera cowok tersebut bangun dari tidurnya dan memeluk gadis itu.


"F-Fa Jelek kenapa?" tanya Vallen yang tercengang dengan perlakuan Rafa.


"Rafa ...."


Cowok itu hanya menggeleng di lekuk lehernya. Tentu Vallen kebingungan. Walau begitu, pelan tapi pasti tangannya bergerak ke punggung Rafa untuk membalas pelukan tersebut.


"Rafa ayo pulang ...," ajak Vallen karena memang hal itulah yang ia ingin sampaikan semenjak menginjakkan kaki di kamar ini.


"Bentar lagi," jawab Rafa yang masih mempertahankan posisi mereka. Ia memejamkan matanya, berusaha pula menetralkan keadaan tubuhnya setelah bermimpi.


Vallen mengerutkan kening khawatir, kemudian telapak tangan gadis itu menepuk pelan punggung suaminya.


Vallen tidak tahu Rafa kenapa, yang dia tahu ... Rafa membutuhkannya.

__ADS_1


***


__ADS_2