Pear

Pear
155


__ADS_3

"Guys, butuh sunblock gak?" tawar Nasya yang tiba-tiba nongol dari luar pintu kelas seusai cowok-cowok berganti pakaian.


"Minta, Nasy!" kata Satria.


Bayu hanya berdesis melihat temannya itu berlari untuk mengambil sunblock tersebut.


Setelah menyerahkan barangnya, Nasya kembali menghampiri Vallen dan Chela. "Mau nonton di mana nih kita?" tanyanya.


"Sana tuh, kosong," putus Vallen. Lalu mereka bertiga pun melangkah ke pinggir lapang yang cukup kosong dengan meninggalkan tas di depan kelas ruang ganti.


***


Pertandingan berlangsung sengit. Erkan yang baru saja melempar bola ke arah ring langsung ditepis begitu saja bolanya oleh Devan. Hal tersebut mengundang sorakan para penonton yang notabenenya adalah pendukung Canopus.


Terik matahari yang menyorot lapangan outdoor ini seakan tidak dipedulikan oleh semua. Yang bermain dan yang menonton sama-sama bersemangat. 


Setelah bola dioper sana-sini, Bayu pada akhirnya menangkap itu dan langsung melakukan lay up.


Trrrrrk


Bola basket menggelinding sembari memutari ring milik tim Canopus. Tim basket Arcturus tentu berharap bola mereka akan masuk ke lubangnya untuk menghasilkan skor. Namun, pada kenyataannya bola itu malah jatuh ke pinggir.


Anak Canopus segera mengambilnya, lalu ia bawa menjauh dari ring timnya sendiri. Dan permainan pun teruslah berlanjut dengan ketat.


Di menit-menit akhir, skor Arcturus dan Canopus seri. Maka darinya, semua pemain gencar merebut angka.


Devan dengan terburu-buru mengambil bola dan langsung ia lempar ke ring Canopus walau jaraknya jauh.


Namun baiknya, bola itu dengan mulus masuk ke ring.

__ADS_1


Prittttt ....


Pertandingan selesai.


Devan menghela napas sembari mendongakkan kepalanya. Ia pun mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.


"Ck, lagi beruntung aja," sindir Erkan.


"Gak usah nyindir. Akuin aja kalo Canopus cemen," kata Devan yang memancing emosi Erkan.


"Lo pengen final ulang biar kebukti 'kan Canopus menang dengan gak nyogok lawannya? Ya ... tapi gue berubah pikiran sekarang." Devan mengarahkan pandangannya pada Erkan. "Canopus kalo menang ... itu karna lawannya lebih rendah aja. Tapi, kalo dibanding Arcturus sih, Canopus jauh di bawah."


"Banyak bacot lo ANJING!" Erkan segera menonjok Devan, tepat ke pipinya, membuat sang korban menggerakkan rahang untuk merasakan kembali kulitnya yang tiba-tiba mati rasa.


Semua penonton berteriak. Wasit dan panitia lainnya pun berusaha memisahkan mereka berdua.


Devan hanya menyunggingkan senyuman. "Arcturus gak butuh uang. Lima ratus ribu mau buat lo aja?"


"Erkan!" teriak seorang cewek di belakangnya.


Sontak, tangan Erkan berhenti, bahkan sebelum itu mendarat pada wajah Devan. Bukan hanya karena cewek yang memanggilnya tadi, tapi karena Vallen pun langsung memposisikan dirinya di depan Devan dengan mata yang terpejam.


Erkan lalu berbalik ke belakang, menatap seorang perempuan yang menggeleng dengan khawatir, seolah menyuruhnya jangan melakukan itu.


Tadinya Erkan tidak akan menurut, tapi teman setimnya pun menarik tubuhnya hingga ia menjauh.


"Udah kalah masih aja songong," kata Devan.


"Lo gapapa?" tanya Vallen.

__ADS_1


"Gue baik-baik aja."


Gadis itu lalu menarik tangan Devan dan berlari ke kelas yang dipakai sebagai ruang ganti. Mereka berdua mengambil tas masing-masing dan langsung pergi ke parkiran.


***


Panitia memberi uang cash kepada Arcturus juga piala bergilir yang sudah setahun disimpan oleh Canopus.


"Makan-makan oy!" teriak Satria bahagia.


"Kooy!" jawab yang lain.


"Mau di mana nih?" tanya Bayu.


"Warteg aja warteg!" jawab Satria.


"Elitan dikit napa."


"Yaudah, nasi padang."


"Kafe yang ada ramennya!" kata Nasya sambil melihat Bayu yang sedang memegang uang.


"Kuy." Bayu langsung beranjak pergi.


"Giliran Nasya aja langsung lo denger banjirrr," ujar Satria kesal.


"Cot, buruan, panas ini."


"Makanya pake sunblock-nya Nasya! Gengsian sih lo," oceh Satria selama berjalan.

__ADS_1


***


__ADS_2