
Rafa membangunkan Vallen berkali-kali, tapi cewek itu tak kunjung membuka mata. Padahal Rafa tahu ia hanya sedang pura-pura tidur. Sepertinya Vallen sedang ada apa-apa, makanya dari kemarin mereka tidak mengobrol. Hanya ada obrolan satu pihak saja, yakni dari Rafa, sedangkan Vallen? Menjawab panggilan namanya saja tidak.
Tujuan Rafa untuk membangunkan gadis kebo ini adalah untuk lari pagi di hari Minggu yang cerah, ya bisa saja sih hanya dia sendiri, tapi apa salahnya jika Vallen ikut juga. Toh itu akan membuat harinya jadi lebih ramai kan?
"Val, Vallen!" begitulah kiranya setiap Rafa memanggil sembari menarik-narik selimut Vallen, tapi sayangnya gadis itu malah memegang selimutnya semakin erat. Sesekali Vallen memutar posisi tidurnya, pula ia menyimpan bantal di atas kepala agar tidak mendengar suara Rafa, membuat suaminya melempar bantal tersebut dengan gemas.
"Ayo lari pagi, Val!" ajak Rafa seraya turun dari kasur dan menarik kaki Vallen karena percobaan tarik selimut tidak berhasil untuknya.
Vallen memekik, kemudian menggerakkan kakinya sampai Rafa melepaskan pegangannya. Berhasil! Cewek itu pun kembali mendekati kepala kasur dan tidur lagi.
"Vallennn!" panggil Rafa kesal, panggilannya sudah seperti emak-emak komplek teriak saat ada maling saja.
Tak habis cara, ia kembali naik ke kasur dan menggoyangkan tubuh tunangannya, yang tanpa ia ketahui hal tersebut malah membuat Vallen lama-kelamaan marah.
"Sama Ina aja sana!" bentak gadis itu.
Rafa mengerutkan kening mendengar hal tersebut. Dipikirannya langsung muncul tentang kenapa Vallen berkata demikian? Ia kemudian menungging bertumpu tulang keringnya.
"Jadi lo diemin gue karena ... cemburu?" tanya Rafa yang lebih terasa seperti sebuah bisikan bagi Vallen karena ia langsung merasa lehernya merinding.
Vallen kembali bungkam, ia menutup paksa matanya karena lehernya merasa hangat, bisa jadi karena itu adalah napas Rafa. Cewek itu pun tidak berani berbalik dari posisi tubuhnya yang menghadap ke pinggir karena takut wajahnya langsung bertatapan dengan Rafa.
__ADS_1
"Val!"
Telunjuk Rafa menyentuh ketek Vallen, membuat cewek itu terkejut karena geli. Berkali-kali ia coba tapi Vallen masih diam di tempatnya. Penasaran, Rafa pun menangkup pipi gadis itu dan diarahkan ke wajahnya. Vallen sempat mengelak agar tidak dipegang, tapi tenaga Rafa cukup kuat. Maka darinyalah Vallen hendak memprotes perlakuan tersebut mulai dari membuka mata terlebih dahulu.
Namun ... apa yang didapatnya di depan sana adalah wajah Rafa yang entah kenapa terlihat lebih tampan. Dan itulah yang membuat tatapan Vallen pada akhirnya terkunci menatap wajah itu.
"Lo diemin gue karena cemburu?" tanya Rafa.
Vallen diam.
"Val?"
"Vallen?"
Vallen masih diam juga.
Akhirnya Rafa meniup mata gadis itu.
"HAH?" tanya Vallen kebingungan. Ia mengerjapkan matanya saat merasa dirinya sudah sadar.
"Lo ... cemburu?"
__ADS_1
"Ck! Cemburu? Sama lo? GAK LAH!" Vallen menarik kedua tangan Rafa agar terlepas dari pipinya, tapi tak berhasil.
Rafa malah berdehem seolah tak percaya dengan ucapan Vallen.
"Ishhh!" Vallen tidak fokus lagi pada pertanyaan Rafa tadi, ia hanya ingin Rafa melepaskan wajahnya.
"Jawab dulu, Buffalen."
"Fa Jelek lepas!"
"Jawab dulu."
"Ngga! Mana ada gue cemburu sama lo!"
"Hm?"
Vallen menggeram kesal karena ekspresi Rafa yang tak percaya pada omongannya itu malah membuatnya ingin menabok wajah cowok itu. Ekspresi Rafa menyebalkan!
"Lepas Rafa!"
"Ngaku dulu."
__ADS_1
"Gak cemburu ...." Vallen pun menatap Rafa lagi dengan lebih tenang dari sebelumnya. "CUMA KESEL!"