
Vallen menangis lagi sambil menunduk, antara pasrah atau lain halnya, tapi kali ini ia benar-benar lemas. Harapan, keajaiban, ia selalu percaya akan hal itu, tapi apakah akan terjadi atau tidak pada Rafa, ia pun tak tahu.
Kemudian Vallen mendongak saat ada yang mendekatinya.
"Mamah ...," panggil Vallen seraya memeluk wanita itu.
Teringat sekali bagaimana saat pertama kali Rafa mengucapkan janji tunangannya saat itu, saat di mana mereka berdua masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Padahal awalnya Vallen hanya diajak mamahnya untuk menjenguk Mira. Namun sesuatu tak terduga malah terjadi saat itu juga, bunda Rafa meminta mereka untuk bertunangan. Nyatanya selama ini Mira sudah menandai Vallen sebagai gadis yang baik, yang ia percaya bisa merawat anak tersayangnya.
Vallen juga ingat bagaimana awal-awal hubungan mereka yang tak akur. Namun siapa yang tahu jika semua sudah berubah seiring berjalannya waktu. Vallen yang dahulunya sangat amat mencintai Devan jadi bisa berpindah berkat perlakuan Rafa sendiri. Rafa nyatanya adalah sosok manis dan hangat yang beruntungnya bisa Vallen kenal. Vallen bersyukur dengan takdir Tuhan yang sudah mempertemukannya dengan Rafa. Vallen bahagia, dan ia harap kebahagiaan itu tak hilang. Vallen tidak mau Rafa meninggalkannya.
"Vallen takut, Mah ... hiks."
***
Chela menjelaskan apa yang terjadi saat di sekolah tadi pada Hilman, tak lupa ia juga memberi botol milik Rafa. Lelaki itu menyimak dengan tak habis pikir karena kejadian ini bisa terjadi pada anaknya, lalu tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Hilman menjauh dari kerumunan lantas mengangkatnya.
"Jangan pernah bawa masalah ini ke jalur hukum, atau saya buat Anda juga ikut menderita."
__ADS_1
"Sudah saya duga kamu yang melakukannya. Kelakuan kamu sudah diluar batas!" ucap Hilman.
"Anda lupa perlakuan Anda dan istri Anda pada saya?"
"Kurang baik apa lagi kami, hah? Bahkan sampai sekarang pun saya masih membiayai kamu walaupun kamu bukan anak saya!"
"Ha? Anda pikir uang saja cukup untuk saya hidup selama ini?"
"Saya tidak bisa menerima kamu di keluarga ini karena kamu sudah di luar batas, kamu pikir saya mau menerima anak bermasalah seperti kamu?!"
"Cih!"
Bertepatan dengan itu, pintu IGD terbuka menampakkan dokter yang akhirnya keluar juga. Hilman kemudian berjalan mendekatinya.
"Dok, bagaimana keadaan putra saya?" tanya lelaki itu.
"Putra bapak ..."
Vallen menatap dokter dengan alis tertaut, bibirnya bergetar karena menahan air matanya untuk keluar lagi.
__ADS_1
... sangat kritis."
Vallen yang mendengarnya langsung menghancurkan benteng pertahanannya itu.
"Doakan yang terbaik untuk Rafa," sambung dokter tersebut.
Vallen menggeleng, ia tak mau jika nyatanya yang 'terbaik' itu bukan hal yang ia harapkan. Ia sangat ingin takdir sejalan dengan keinginannya.
"Pokoknya Rafa harus sadar ...," ucap Vallen yang secara tak langsung seperti menyuruh dokter juga untuk melakukan apapun agar Rafa bisa bangun.
"Kami akan melakukan yang terbaik."
Terbaik, terbaik, terbaik! Buktiin yang terbaiknya itu: Rafa sembuh! batin Vallen. Namun ia tak berani mengucapnya.
Aya pun mengusap punggung Vallen agar putrinya itu tegar. "Kita berdoa ya Vallen?" ajak Aya.
Vallen mengangguk lemah, ia pun dituntun Aya untuk pergi ke gereja di sebelah rumah sakit. Tak lupa Chela dan Nasya ikut sekaligus menjaga Vallen jika tiba-tiba saja ia ambruk. Jujur keduanya tidak mengerti kenapa orang tua Vallen datang, tapi mereka tak ambil pusing, mungkin orang tua Vallen berteman dengan ayahnya Rafa, mengingat tadi mereka juga sampai bersamaan.
***
__ADS_1