
Vallen meneguk ludahnya dengan berat. Yang meneleponnya adalah Bayu, kemungkinan besar ia akan mengabari perihal Devan. Gawat.
Vallen menggigit bibir bawahnya dan merasa udara sekitar lebih panas, sampai-sampai bulir keringat timbul di keningnya. Dengan nekat ia pun mengangkat panggilan itu dan me-loadspeaker.
"Ha-halo, Bay?"
Devan baik-baik aja, Val. Gak usah khawatir, lapor Bayu.
Jantung Vallen berdebar kencang, ia pun menengok ke arah Rafa dengan takut.
"Tadi malem tuh Devan demam, Fa. Makanya tadi gue nyuruh Satria sama Bayu laporin keadaan dia ke gue," jelas Vallen. Sedangkan Rafa hanya memerhatikan Vallen dengan tatapan penuh arti dalam hening suaranya.
***
Vallen sampai di depan instalasi rehabilitasi medis yang di dalamnya dibagi jadi beberapa ruang lagi untuk berbagai macam terapi.
Gadis itu menghela napas saat melihat suster pengawas Rafa tadi tengah masuk dengan mendorong kursi roda tunangannya. Vallen tidak berani mengambil alih untuk mendorong kursi itu karena respon Rafa yang begitu dingin. Namun dirinya tetap ikut menemani laki-laki itu untuk fisioterapi.
Rafa masuk ke salah satu ruangan, ia lalu tidur telungkup dan melakukan terapi panas menggunakan Short Wave Diathermi (SWD) yang dipasang di punggung. SWD ialah alat terapi yang menggunakan energi elektromaknetik yang dihasilkan oleh arus bolak-balik berfrekuensi 27,12 MHz. Tujuan pemberian SWD di antaranya untuk memperlancar peredaran darah, meningkatkan kelenturan jaringan lunak, dan mengurangi spasme (kekejangan) otot.
__ADS_1
Setelah sekitar 20 menit untuk menyelesaikan heat therapy-nya, Rafa dibantu untuk naik ke kursi roda lagi, lalu berpindah ruang ke area latihan untuk belajar berjalan karena kakinya yang lemas.
Lelaki itu dipandu dokter yang menjadi instruktur di sana. Ia mulai mencoba berdiri walaupun harus menguatkan pegangannya pada alat untuk latihan berjalan yang bentuknya seperti pinggiran jembatan. Perlahan, kakinya pun melangkah dan terus melangkah.
"Coba lanjutkan ya, Rafa. Saya ke pasien lain dulu." Sang instruktur mengangguk kecil pada Rafa, lalu ia menatap Vallen, seolah menyuruhnya untuk menjaga Rafa, walaupun masih ada suster yang tadi untuk bertanggung jawab. Vallen membalas dokter cowok itu dengan senyuman. Ia lalu mendekatkan dirinya pada Rafa.
Tak ada yang Vallen lakukan, ia hanya memerhatikan kegigihan Rafa untuk bisa kembali seperti semula. "Semangat," ucap Vallen pelan. Namun, Rafa masih mampu mendengarnya. Dan malah karena suara Vallen-lah Rafa jadi tidak fokus dan tubuhnya seketika lemas. Alhasil ia pun terhuyung.
"Ahk!" keluhnya saat terjatuh.
Sontak saja Vallen berjongkok dan memegang kaki Rafa.
Rafa mendongak, melihat wajah Vallen yang fokus menatap pada kakinya.
"Lo kekilir atau gimana? Rafa jangan diem aja dong, bilang sama gue apanya yang sakit?"
“Peduli lo sama gue?” kata Rafa menanggapi.
“Rafa ....”
__ADS_1
“Lo nanya apanya yang sakit?”
Vallen menoleh.
“Sesuatu yang bisa lebih sakit daripada sakit fisik.” Rafa membalas tatapan Vallen yang sama dalamnya dengan tatapan dia. Jujur, Rafa cukup bingung masalah perasaannya, entah kenapa rasa cemburu ini menyeruak lebih dahsyat daripada sebelumnya.
Gue tau, sebagian hati lo masih buat Devan. Dan sayangnya sebagiannya itu sebagian besar, Val ....
Sekarang, Rafa benar-benar merasa apa yang selama ini ia lakukan dengan Vallen sia-sia. Vallen mungkin tidak akan pernah bisa menerima keberadaan dia di hidupnya. Yang Vallen inginkan sebenarnya mungkin memang Devan.
Mata Vallen terbelalak, bahkan sampai instruktur Rafa kembali pun ia masih mematung. "Kenapa?" tanya beliau.
"Dok, saya mau lanjut besok aja," pinta Rafa.
"Baik." Ia lalu membantu Rafa naik ke kursi rodanya. "Suster, antar Rafa ke ruangannya lagi."
Suster itu pun mengangguk, kemudian membawa Rafa. Sedangkan Vallen berjalan lebih lama di belakang mereka.
***
__ADS_1