
"Kakak Cantik lagi sedih?" tanya Azka yang tepat berdiri di depan Vallen yang tengah terduduk. Di mata anak kecil pun Vallen sudah terlihat aura muramnya.
Sebuah senyum pun samar Vallen berikan sebagai respon.
"Abang Es bilang ke Azka jadi orang gak boleh sedih-sedih. Kakak Cantik juga! Nanti Azka minta uang ke Abang Es biar bisa beliin Kakak Cantik susu kotak deh!"
Vallen terkekeh kecil, ia lalu mengangkat tubuh Azka agar bisa duduk di sampingnya.
"Kakak Cantik, Kakak Cemberut mana?" tanyanya lagi yang sudah berhasil duduk dengan kaki bersila.
"Um ... lagi dirawat."
"Kakak Cemberut sakit? Kayak Abang Es?" Azka memiringkan kepala untuk meminta penjelasan.
Mendengar pertanyaan itu, Vallen mengernyit bingung. "Hah? Kakak gak tau Abang Es sakit apa. Kalo Kakak Cemberut sih cuma perlu dirawat beberapa hari biar makin pulih," jelas gadis itu.
"Pulih itu apa? Warna?"
"Itu putih, Azka ...," kata Vallen seraya tertawa kecil. "Pulih itu artinya sembuh atau kembali sehat kayak semula."
"Ohhh, gitu. Ayo ke Kakak Cemberut!"
"Udah malem, Az."
__ADS_1
"Azka mau ketemu Kakak Cemberut ...," pintanya sambil memperlihatkan puppy eyes yang tidak dibuat-buat, memang senaturalnya anak kecil saja, dan Vallen bisa menebak sebentar lagi Azka bisa saja menangis.
Perempuan itu menggembungkan pipi seraya mendongak menatap langit malam, berpikir sejenak untuk mengambil keputusan.
"Ya udah deh, tapi gak lama yah?"
Azka mengangguk.
***
"Fa, kok makanannya masih utuh?" tanya Vallen karena ia melihat di atas nakas, makan malam Rafa seakan belum tersentuh sama sekali. Ia pun menutup pintu lebih dulu sebelum memasuki ruang lebih dalam.
"Dokter bilang, lo harus tetep maksain makan walau lagi gak nafsu."
Saat Vallen hendak menyentuh Rafa dengan telunjuknya, lelaki itu tiba-tiba membalikkan badan jadi menghadap ke samping.
"WAAAA!" teriak seorang anak kecil sambil melompat di depan mata Rafa.
Sontak ia terlonjak bahkan hingga kasurnya bergoyang. Rafa langsung melihat Vallen dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Tadi gue ketemu Azka di taman. Trus katanya mau ketemu Kakak Cemberut. Makanya gue bawa ke sini," jelasnya yang kemudian langsung tersenyum kaku.
Rafa beralih dengan menatap sinis ke arah Azka sembari menghela napas.
__ADS_1
"Kak Cemberut kok sakit?!" tanyanya dengan suara nyaring. Lebih mirip nadanya seperti orang sedang marah.
"Namanya juga manusia!" jawab Rafa sambil menutup telinga.
Azka melongo, ia lalu berjinjit dan mendekatkan wajahnya ke Rafa. "Azka gak sakit, berarti Azka bukan manusia yah?!"
Rafa memejamkan mata tuk mencoba menahan amarahnya.
Melihat itu, Vallen pun mendekati Azka dan berjongkok di sebelahnya. "Ngomongnya pelan-pelan ya Azka? Kalo teriak-teriak nanti digebukin tetangga kamar sebelah kita." Azka menyimak ucapan Vallen sambil menarik manik matanya ke ujung, ia pun mengangguk paham.
"Kakak Cemberut .... Azka kalo bukan manusia berarti apa?" bisiknya.
"Tuyul, tau?"
Vallen mengulum bibir untuk menahan tawa. Kemudian gadis itu berdiri dan menggeleng pada Rafa sebagai peringatan bahwa Rafa tak boleh seperti itu.
Azka mendongak lalu mengibaskan tangannya agar telinga Vallen mendekat. "Kakak Cantik, tuyul itu apa?"
"Eum, yang ini gak usah tau aja yah ...," respon Vallen dengan muka yang disejajarkan dengan wajah Azka. Merasa gemas saat melihat pipi anak itu, Vallen pun mengambil kesempatan untuk mencubitnya.
"Oh! Kak Cemberut, tadi Kakak Cantik sedih! KAKAK CEMBERUT NAKALIN YA?!!!" Azka kembali bersuara bahkan dengan nada yang semakin naik saja.
Rafa dan Vallen berpandangan.
__ADS_1