
"Val, nangis lo kejer banget ...," lirih Nasya yang sedang merangkul Vallen dan menempatkan kepala gadis itu di bahunya. Keduanya saat ini sudah duduk di jok belakang.
Nasya pun melirik ke luar jendela mobil, tapi tak sengaja matanya melihat Chela dari spion. "Ih, Chela juga nangis!" serunya. Baiklah kalau Vallen yang menangis, toh sahabatnya ini memang cengeng, tapi Chela? Kapan juga anak itu menangis. Nasya tidak pernah melihatnya. Dan sekarang Nasya bingung harus ikutan menangis atau bagaimana. Namun akhirnya ia pun diam saja.
"Rafa tuh kenapa sih?" tanya Nasya yang menyerah untuk menerka sendirian.
Tangan Chela terulur ke belakang, memberikan botol yang sedaritadi ia pegang. "Abis Rafa minum ini, dia langsung gitu."
"Air mineral kan?"
Chela menggeleng. "Bukan cuma air. Baca tulisan di alas botolnya."
Nasya pun membalikkan botolnya.
"Lihat sebuah butuh sebuah," baca Nasya. Matanya pun melirik ke arah lain dulu untuk berpikir.
"See a need a."
Vallen menegakkan posisi tubuhnya. "Sianida?"
Di depan sana Chela mengangguk seraya menitihkan air mata lagi. Pun yang terjadi pada Vallen. "Lo semua tau kan bahayanya itu? Hiks. Siapa yang tega lakuin ini ke Rafa ...." Vallen memegang keningnya. Jujur ia lelah dan pusing karena menangis terus, tapi air mata ini tidak bisa ditahan untuk tidak keluar.
Nasya membuka mulutnya tercengang. Matanya pun mulai berlinang.
"Pak cepetan! Kita harus sampe ke rumah sakit dengan cepet!" pinta Vallen tak sabar.
***
Ina duduk di depan kelas yang memang diperuntukkan untuk anak Canopus hari ini. Ia tengah bersama Erkan yang tadi diminta Marvel untuk menjaga Ina sebentar karena dirinya ada urusan.
Tatapan Ina tertuju pada sepatunya yang tak ia goyangkan sedikit pun.
__ADS_1
"Gak usah buat gue repot dengan kabur segala," peringat Erkan.
Ina tak menjawab.
Cowok di sebelahnya pun menyenderkan tubuhnya yang lelah juga kesal juga karena pertandingan otomatis diusaikan. Padahal sudah banyak pengorbanan yang ia lakukan. Sial.
***
"Buat apa anjir ngasih clue segala?" tanya Marvel yang tak habis pikir dengan orang yang baru mengembalikan seragamnya ini. "Bego lo lagi kumat apa gimana?"
"Clue itu gue kasih biar cepet kedeteksi bahwa dia keracunan. Gue kan ngajak kerjasama sama lo buat bikin dia sengsara bukan mati, tapi ya kalo mati ... yaudah sih, gak ada ruginya juga kan."
Marvel terkekeh seraya mengangguk.
Orang di pinggirnya ini menatap cermin area wc seraya mengangkat sedikit topinya yang daritadi menutupi sebagian wajahnya. "Rafa udah ngerampas kebahagiaan masa kecil gue. Sekarang ... giliran gue rampas kebahagiaannya," tuturnya yang diiringi oleh dendam teramat dalam yang hadir di lubuk hatinya.
Ia pun menghela napas sejenak. "Thanks seragamnya, gue cabut, mau rayain ini."
***
Langkah kaki terus mengetuk-ngetuk keberadaan lantai putih di rumah sakit. Cepat dan tergesa.
Vallen, ialah pemilik kaki tak tentu arah yang bingung mencari adanya ruang IGD, ditemani Chela dan Nasya mereka semua berlari dengan mata menyorot ke sana sini agar cepat menemukan ruang tersebut. Hingga akhirnya mata Vallen bisa menemukan orang-orang yang dikenalnya. Ia pun mengambil napas lalu lanjut lari lagi.
Tangannya segera menyentuh pintu IGD, ingin segera ia buka pintu itu, ingin langsung ia peluk Rafa yang ada di dalamnya, tapi tangan Vallen ditahan oleh Devan. Bahkan keseluruhan tubuhnya pun Devan halangi.
"Gue mau liat Rafa!" teriak Vallen sambil terisak.
"Jangan masuk dulu, Val. Biarin dokter bertindak."
"Gue mau ketemu Rafa, hiks ...."
__ADS_1
"DEVAN LEPAS!" berontak Vallen. Namun yang kali ini malah membuat Bu Anggi turun tangan untuk menjauhkan gadis itu dari pintu.
"Bu, Vallen pengen masuk!"
"Jangan Vallen ...."
"VALLEN MAU KETEMU RAFA!" bentaknya keras karena sudah sangat kesal. Ia bahkan mengatakan itu tepat ke wajah Bu Anggi.
"VAL DIEM!" balas Devan tak kalah kerasnya, malah bentakannya mampu membuat orang di sekitarnya kaget, terlebih Bu Anggi yang melepas begitu saja pegangannya pada Vallen.
Devan menutup mata sejenak, merutuki dirinya yang malah terbawa emosi, ia pun bungkuk untuk meminta maaf pada guru dan panitia penanggung jawab yang ikut. Lantas tangannya menarik Vallen agar sedikit menjauh.
"Val tenang ...."
"Gimana gue bisa tenang kalo Rafa kayak gitu?!"
Entahlah rasanya hati Devan teriris melihat Vallen bicara sambil menangis bergini.
"Dev, bilang sama gue, Rafa bakal sadar kan?"
Devan menatap Vallen penuh arti.
"Devan ayo bilang sama gue! Bilang 'iya Rafa bakal sadar'. Devan ayo bilang ... hiks."
"Devan kenapa diem aja?"
Vallen melihat Devan yang matanya ternyata memerah.
"Kita cuma bisa berdoa, Val," ucap Devan.
"Apa maksud lo?"
__ADS_1
Kembali Devan diam, maka dari itu Vallen menarik-narik baju cowok tersebut. "Apa maksud lo?!"