Pear

Pear
127


__ADS_3

"Sering nangis ya lo?"


"Gak, cuma tadi doang," bualnya.


"Masa?"


"Iya!"


Rafa menarik napas. "Gak percaya. Gue tanya Chela sama Nasya deh nanti."


Mata Vallen segera terbelalak. Ia langsung menggeleng cepat. "Gak usah!!!"


"Kenapa? Takut ketauan ya alaynya waktu jenguk gue?"


"Ih gak alay! Lo pikir aja orang yang selama ini ada di deket lo, ngobrol sama lo, tiba-tiba cuma tiduran dan gak respon sama sekali. Sedih tau!" Vallen hampir menangis lagi saat mengingatnya. Matanya kembali berkaca-kaca. Lalu ia menutup mukanya dengan dua tangan.


"Ehhh, Val. Maksud gue tuh bercanda. Vallen?"


"Hiks ...."


Rafa mengerti bagaimana Vallen tanpa ia harus mencari tahu apa yang terjadi selama dirinya tak sadarkan diri. Hanya ingin basa-basi saja bertanya seperti tadi.


"Sorry Val. Gak maksud, sumpah."


"Gak mau nangis gue tuh, cuma sedih lagi waktu keinget lo koma ...." Vallen trauma melihatnya. Ia tak ingin Rafa begitu lagi. Sudah cukup.


"Liat gue sini," suruh Rafa seraya menurunkan tangan Vallen dengan pelan. "Gue udah gapapa. Jangan nangis lagi."


Vallen mengangguk seraya menarik ingusnya. "Mau peluk ...," pintanya dengan air mata yang masih berlinang.


Rafa mengangguk sekali. "Sini."

__ADS_1


Langsung saja cewek itu menghambur dan memeluknya dengan erat. Dalam posisi mereka, Rafa dengan lembut mengecup puncak kepala Vallen.


"Rafa?" panggilnya.


"Apa, Val?"


"Makasih, ya." Seulas senyum tercetak di wajah Vallen.


Rafa menunduk, berusaha menatap wajah istrinya. "Makasih karna apa?"


"Karna udah bangun."


Rafa tersenyum kecil seraya mengusap rambut Vallen yang tergerai dengan indah . "Makasih juga, ya Val."


"Karna?"


"Karna udah jagain parkiran."


***


"Bjir, mana ada gue ngarang!"


"Asli woy?" tanya Bayu dengan wajah tercengangnya.


"Asli!"


"Gak nyangka an-jir!" Bayu langsung memijat keningnya, tiba-tiba merasa pusing dengan semua kenyataan yang ada. "Itu si Devan gimana?"


"Ih iya lo pada kenapa pada gak nyari!" ujar Nasya heboh. "Kalo kenapa-napa gimana?"


"Bay, susulin?" tanya Satria.

__ADS_1


"Kemana?"


"Ntar, gue telepon."


***


Meisha, ia adalah dokter muda yang menyapa Devan tadi, umurnya 21 tahun. Mereka berdua mulanya kenal karena adanya acara pertemuan pengusaha, di mana ayah Devan dan ayahnya Meisha memang berteman dan akhirnya keluarga mereka berkenalan. Lambat laun dalam waktu satu tahun ini, Meisha kurang lebih paham tentang apa yang Devan alami dan bagaimana latar belakang kehidupannya.


Devan banyak bercerita dengan perempuan itu. Ia bercakap tentang masa pahitnya sebagai anak yang tinggal di panti asuhan, tidak tahu siapa orang tuanya dan karena itulah Devan menjadi seseorang yang seringkali merenung. Hingga saatnya takdir baik itu datang, mengizinkan pertemuan antara orangtua Devan yang sekarang dengan dirinya. Setidaknya hidup ia lebih baik semenjak umurnya 6 tahun itu, apalagi orang tua angkatnya memberikan kasih sayang dan juga harta yang lebih dari cukup.


Vallen adalah teman pertamanya saat ia duduk di bangku sekolah. Gadis manis yang cengeng itu membuat Devan ingin selalu melindunginya. Sudah cukup pahitnya hidup ia rasa, Devan ingin orang di sekitarnya merasakan kebahagiaan, dengan begitu bahagia mereka secara tak langsung bisa menular ke dalam dirinya. Lalu kemudian saat SMP, orang tua Devan harus menetap di luar kota karena pekerjaannya, sedangkan Devan tetap ingin tinggal di Bandung. Semua karena Vallen, ia tidak mau sahabatnya itu diganggu, terlebih Vallen saat SD suka di-bully oleh laki-laki yang berada dua tingkat di atas mereka.


Sejak saat itulah orang tuanya Devan dengan berat hati meninggalkan anak itu tinggal di apartemen bersama pembantu yang mengurusi keperluannya. Namun hanya selama SMP saja, karena ketika SMA, cowok tersebut memilih untuk mengurus dirinya sendiri.


Dan kali ini Meisha kembali mendengar keluh kesah Devan, sesekali ia mengangguk paham hingga akhirnya Devan pun menutup ceritanya.


"Saya ngerti," ucap Meisha yang kemudian menghela napas dalam dengan pandangan menatap ke air mancur yang ada di depan mereka.


"Dev, kamu tau? Vallen itu kayak pesawat kertas. Dia pernah berhasil kamu terbangkan, melayang di udara, dan membuat kamu tersenyum pada masanya.


"Tapi pesawat kertas gak bisa selalu terbang, ada saatnya dia turun. Kamu pasti kecewa saat itu terjadi. Kamu pasti ingin menangkapnya lagi, mengulang untuk menerbangkannya.


"Tapi sayang, gak semua usaha di dunia ini bisa berhasil. Ada kalanya pesawat itu jatuh, mendarat pada tanah yang selalu siap menggenggamnya."


"Maka dari itu ...," Meisha menoleh pada Devan yang sedaritadi menatapnya dari samping.


"... relakan, Dev."


🍐 Bersambung ....


Welcome back to my story, Rafa!

__ADS_1


Jangan lupa vomment gais, terima aciii 🥰


__ADS_2