Pear

Pear
149


__ADS_3

Salah satu hal yang sulit dilakukan adalah menyimpan banyak pertanyaan dalam diri sendiri tanpa berani untuk menanyakannya. Orang bilang, malu bertanya sesat di jalan, tapi pada kenyataannya ... malu bertanya bisa jadi lebih buruk konsekuensinya jika berujung dengan kesalahpahaman.


Pertanyaan yang tidak dapat terlontar pada pihak bersangkutan membuat Rafa jadi harus bertanya pada dirinya sendiri. Dan itu sangat tidak enak. Semua berkecamuk tanpa ada jawaban yang pasti. Sebesar apa kepedulian Vallen yang masih tersisa untuk Devan? Sebanyak apa cinta yang masih ia simpan untuk orang yang sudah banyak menemani hari-harinya itu?


Rafa termenung dengan menatap kepala belakang Vallen yang sedang memainkan hpnya di balik sana. Gadis itu menempatkan kepala di atas kasur saat sedang terduduk di kursi. Kepalanya ia miringkan ke arah di mana Rafa tidak bisa menghadap wajahnya.


Cowok itu menghela napas, ia sadar, menjadi tunangan Vallen akan memberikan risiko besar untuknya. Namun, ini keputusan yang diambil. Dan ia harus membayar apa yang sudah disepakati dengan dirinya sendiri; merebut Vallen dari Devan.


Krkkk ....


Perut Vallen tiba-tiba saja berbunyi. Cewek itu pun memegangnya dengan satu tangan. "Laper ...," keluhnya.


"Lo kan baru aja dari kantin, Val," ucap Rafa dengan pandangan yang menatap tajam gadis itu.


Vallen memejamkan matanya cukup keras sejenak sebelum akhirnya menoleh pada Rafa. Ia pun tertawa canggung untuk menetralisir keadaan yang membuatnya gugup. "Lo kan tau Fa gue anaknya laperan."


"Masa?" tanya Rafa, dirinya pun tak menyadari bahwa Vallen begitu.


Ah, bego lo, Val! rutuk Vallen dalam hati.

__ADS_1


Cklek ....


Pintu yang terbuka seketika mengalihkan perhatian mereka berdua. Ternyata yang datang adalah Hilman, dokter, dan satu perawat.


"Rafa, saya periksa dulu ya?" tanya sang dokter cowok.


"Hm."


Sekilas, dokter melihat Vallen, dan hal tersebut langsung membuat cewek itu berdiri.


Setelah melakukan beberapa pengecekan dengan si perawat yang mencatat hasilnya. Dokter pun memberi mereka kesimpulan. "Keadaan Rafa makin membaik," ucapnya. "Ditambah lagi Rafa hanya harus belajar jalan sedikit lebih lama agar benar-benar lancar. Dari keseluruhan, perkembangan Rafa terhitung cepat. Dan, lusa mungkin sudah bisa pulang."


Dokter itu mengangguk sembari tersenyum.


***


Di hari Minggu yang cerah ini, Vallen dengan wajah berserinya turun dari motor ojol sembari memeluk kardus berisi barang warna-warni yang dibelinya di toko dekorasi.


"Mang Junet!" sapanya kepada satpam rumah Rafa.

__ADS_1


"Selamat pagi menuju siang, Non!" balas Si Mamang.


Vallen tersenyum. Kemudian ia menyerahkan helm yang masih ada padanya dengan satu tangan, lalu membayar ongkos. Cukup ribet dengan barang bawaan yang ia putuskan untuk tidak disimpan di bawah.


Setelah sang tukang ojek pergi, Vallen menghirup napas dalam seraya menatap rumah ini, rasanya sudah lama sekali dirinya tidak ke sini.


Ia pun berjalan ke pintu utama lalu mendorongnya. Matanya langsung menangkap sosok Bi Adab yang sedang menyapu rumah. "Bibi!!!" sapa Vallen histeris.


"Non Vallen!!! Kirain udah lupa sama Bibi."


"Ya kali ...," kata Vallen sambil tertawa. "Bi, mau bantuin Vallen gak?"


"Ngapain, Non?"


"Hias kamarnya Rafa! Besok Rafa pulang loh ...."


"Wahhh. Kajja!" (artinya 'ayo' dalam bahasa korea)


"Hahaha, Bibi ... jadi langganan nonton drakor ya?" tanya Vallen sembari melepas sepatunya sebelum masuk rumah.

__ADS_1


"Iya nih. Tuan kan jarang pulang. Trus Non Vallen sama Den Rafa belum balik ke sini. Jadi gak terlalu banyak kegiatan," curhat si Bibi sambil melangkahi anak tangga. Vallen menanggapinya dengan mengangguk dan sesekali tertawa. Bi Adab memang tidak termasuk orang yang gaptek, beliau yang sering melihat resep dari ponselnya itu sudah pasti akan bisa juga mengakses drakor yang banyak beredar.


__ADS_2