Pear

Pear
Chapter 13 (4)


__ADS_3

Langkah kaki terdengar keras mengetuk-ngetuk lantai, deru napas pun menemani Chela berlari di sepanjang koridor. Hingga tenaganya terasa habis, baru ia berhenti.


Chela menghirup udara seakan tak bernapas dari lama. Lelah sekali mengejar Ina. Hilang ke mana gadis itu sekarang?


Beberapa detik berikutnya Nasya baru sampai di tempat yang sama, ia lalu memberikan ponsel Chela kepada pemiliknya. "Ina gak jawab telepon nya!" Perempuan bercepol rambut dua itu turut terengah-engah karena mengitari area sekolah dengan kecepatan tinggi. Mereka kabur dari Bu Lucy yang kepalanya terkena bola basket yang Ina lempar barusan.


Jadi tadi saat Vallen dan kawan-kawan keluar kelas, mereka ditantang oleh siswi kelas 11 yang kebetulan baru selesai jadwal olahraga. Para siswi itu mengajak tanding basket yang malah berakhir tak karuan seperti saat ini.


"Kasian si Vallen, dia yang jadi dimarahinnya!" omel Nasya.


Tak lama, Vallen yang telat berlari karena berdiskusi dulu dengan Bu Lucy pun hampir sampai di dekat mereka, tapi netranya tak sengaja melihat Ina dan Rafa di dekat ruang guru. Sekilas ia tak curiga toh Ina kan murid baru, pasti perempuan itu butuh bantuan Ketua Kelas yang tak lain adalah Rafa sendiri.


Sesampainya di dekat Chela dan Nasya, Vallen melapor apa yang ia lihat tadi sambil mengarahkan matanya ke dua orang yang masih terlihat dari tempat mereka.

__ADS_1


"Anjir itu anak malah ketemu ..." Selanjutnya Chela bergumam dengan suara yang sangat tidak jelas.


"Hah?" tanya Vallen dan Nasya.


Chela menoleh.


"Nggak. Ngeselin tuh anak, lari dari tanggung jawab! Bu Lucy ngomong apa aja, Val?"


"Gila!" pekik Vallen dengan mata terbelalak saat masih melihat Rafa dan Ina.


Angin berhembus cukup kencang, menerbangkan debu-debu, bahkan mengantar dedaunan untuk turun ke permukaan bumi. Rafa dan Ina masih berjalan menuju ruang guru, masih tetap dengan posisi Ina yang di depan. Mereka melewati wilayah berpasir untuk lompat jauh, alasannya untuk memotong jalan. Tadinya sudah niat berlari menyebrangi lautan pasir itu, hanya saja angin terlalu cepat datang lagi, membuat pasir di depan mereka segera menyapa.


Dengan cepat Ina memutar badan hingga menghadap Rafa. Ia menutup mukanya dan diam, menunggu sampai angin cukup tenang. Terpaan dingin terasa di leher belakangnya. Tak lama karena akhirnya angin itu berhenti lewat. Ina pun menyapu rambut dengan tangan sebab merasa banyak daun yang jatuh di kepalanya.

__ADS_1


Di depan gadis itu ada Rafa yang tengah mengucek mata.


"Kelilipan?" tanya Ina peduli yang tidak direspon sama sekali oleh Rafa.


Cowok itu kemudian berhenti mengucek dan hanya mengerjapkan mata agar debunya keluar.


"Fa, sorry ...."


Ina melangkah maju mendekatinya hingga ujung sepatu mereka bertemu. Cewek itu pun berjinjit, lalu mendekatkan wajahnya pada Rafa.


🍐 Bersambung ....


...✨ Jangan lupa vommentnya gaisss ☺️...

__ADS_1


...Makasih ✨...


Lagi-lagi gak sampe 500 kata huhuuu. Aku ngobrol-ngobrol aja di sini ya gais biar part-nya bisa di post. Btw jangan malu buat vote sama comment yah, dukungan kalian berarti banget buat aku. Literally ngebuat semangat 🥺 jangan lupa juga baca cerita aku yang lain di wp. Aku berharap aku masih satu server sama kalian bukan cuma di Pear aja ☺️ Kalian juga boleh rekom pengen cerita kayak gimana. Wih udah 500 kata. Bye-bye. Boleh next part berikutnya! 🥰


__ADS_2